Home / Kiat / Bertahan dengan Meminimalkan Risiko Kebangkrutan

Bertahan dengan Meminimalkan Risiko Kebangkrutan

Keramik Dekoratif

Sinar Asih Sajati

 

Bisnis yang besar (baca: sukses, red.), tidak selalu dijalankan dalam gedung megah, memiliki cabang di mana-mana, mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang sangat banyak, dan sebagainya, melainkan juga berarti bisnis yang terus-menerus menerima orderan dan dalam kapasitas yang semakin lama semakin banyak. Seperti, bisnis keramik dekoratif yang dijalankan Yotty. Terbukti, Sinar Asih Sajati mampu bertahan selama lebih dari 34 tahun

 

e-preneur.co. Sebuah teori mengatakan bahwa mempertahankan bisnis itu, jauh lebih sulit daripada mengembangkannya. Sebuah teori lain mengatakan bahwa tanda kesuksesan sebuah bisnis yaitu terjadinya perkembangan besar-besaran, baik dari jumlah cabang perusahaan yang dibuka, gerai yang betebaran di seantero jagat, maupun kapasitas pabrik yang semakin besar.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Siti Juhro. Perempuan yang akrab disapa Yotty ini, membangun bisnis keramik dekoratif sejak tahun 1981 dan bertahan hingga lebih dari 34 tahun.

Pada awalnya, ia membuat keramik dengan berbagi teknik. Seperti, teknik tuang (slip casting), buatan tangan (handmade), dan menggunakan mesin putar tekan (jigger).

Tapi, pada akhirnya, ia beralih ke keramik dekoratif dan printing. Karena, merasa teknik ini lebih bersih, tidak banyak reject, tidak membutuhkan banyak tukang, dan dapat didesain di komputer sedemikian rupa. “Sehingga, mampu memenuhi pesanan khusus secara cepat,” jelas Yotty, yang melabeli produknya Sinar Asih Sajati.

Keramik semacam ini, memang sudah banyak kita jumpai. Tapi, ia menjamin bahwa keramiknya berbeda.

“Keramik yang saya gunakan bisa buatan Indonesia, bisa pula buatan mancanegara. Tapi, cat printing-nya buatan Jerman dan Korea. Keunggulan cat khusus yang dapat ditransfer ke keramik ini yaitu ketika keramik dibakar dengan suhu 800° C atau lebih, warna yang keluar dari cat tersebut semakin cantik, serta teksturnya  semakin jelas dan mengkilap,” ungkapnya. Sekadar informasi, printing yang dimaksud di sini merupakan teknik melukis atau mencetak gambar, foto, logo dan sebagainya di atas keramik.

Keramik berlogo yang dibuat Yotty telah menembus berbagai departemen dan instansi, baik pemerintah maupun swasta dan perorangan di hampir seluruh Indonesia. Tapi, ternyata, untuk bisa menembus departemen dan instansi pemerintah tersebut, ia melakukannya, boleh dikata, semudah membalik telapak tangan.

“Saya cukup menghubungi beberapa showroom keramik terkenal di Jakarta, yang pangsa pasarnya dari Sabang sampai Merauke. Lalu, saya menawarkan diri untuk digandeng atau menjadi rekanan. Sehingga, hasil karya saya ikut terbawa nama mereka, sedangkan keramik-keramik yang dijual showroom-showroom tersebut juga cepat laku. Jadi, menguntungkan kedua belah pihak,” ungkapnya.

Menurutnya, hal semacam itu, jauh lebih menguntungkan daripada ia harus mempunyai showroom atau usaha keramik sendiri. “Saya kan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa showroom. Di sisi lain, produk rekanan saya juga cepat laku. Produk mereka, boleh dikata, seret terjual karena tidak berlogo atau berhiaskan apa pun,” katanya.

Namun, setelah ia beri logo atau hiasan, akhirnya banyak yang membeli atau memesan. Apalagi, ia selalu mampu memenuhi pesanan baik dalam jumlah maupun waktu.

Uniknya, perempuan yang telah menjadi rekanan hampir seluruh showroom keramik di Jakarta ini, tidak pernah menerima penolakan. “Itu bisa terjadi, karena saya selalu memberi yang terbaik. Bagi saya, keuntungan itu nomor dua, sedangkan yang pertama dan utama yaitu memberi pelayanan terbaik, dengan cara memenuhi deadline yang telah ditentukan,” tegasnya.

Penuhi deadline yang telah ditentukan

Yotty juga mau memenuhi pesanan ulang tahun anak sekolah sebanyak 50 pieces mug, misalnya, meski kapasitas tungku pembakaran keramiknya 600 pieces. “Bahkan, pesanan sebanyak dua pieces pun saya terima. Sebab, saya yakin, dari melayani jumlah yang minim, nantinya akan berkembang menjadi jumlah yang besar,” imbuh Yotty, yang tidak memberlakukan minimum order, tapi pernah menerima maksimum order mencapai 50 ribu pieces dari perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi minuman bersoda dan minyak goreng.

Imbasnya, Sinar Asih Sajati mampu bertahan hingga lebih dari 34 tahun. Bahkan, tidak tersentuh sama sekali oleh krisis moneter.

“Saya juga tidak menggunakan tenaga tetap dalam jumlah banyak. Karena, itu berarti banyak pula kewajiban yang harus saya tanggung dan itu berisiko. Meski begitu, saya menggaji enam karyawan tetap saya di atas UMR (Upah Minimum Regional), agar mereka merasa terjamin hidupnya dan aman bekerja pada saya,” ujarnya.

Wanita, yang dengan bantuan para karyawannya, setiap bulan memenuhi pesanan minimal 3.000 pieces ini lebih suka memperbesar jumlah karyawa freelance. “Sebab, jika ada tender, otomatis saya membayar tenaga mereka. Bahkan, bila perlu dengan bonus. Sebaliknya, saat sedang tidak ada tender, saya juga tidak harus mengeluarkan uang apa pun,” lanjutnya.

Untuk mengimbangi kondisi tersebut di atas, ia lebih fokus pada pemesanan barang daripada membuat barang untuk persediaan. Sebab, pemesanan bersifat pasti (dibayar). Sedangkan barang ready stock, lebih memungkinkan terjadinya penimbunan. Mengingat, tidak semuanya bisa diserap pasar.

Di samping itu, pemilik perusahaan harus menguasai setidaknya tiga keahlian. Dalam hal ini, Yotty menguasai proses pembakaran keramik meski tidak memiliki latar belakang keahlian membuat keramik, menyablon, dan menjadi marketer.

Pemilik perusahaan juga harus terjun langsung, dari awal hingga akhir proses produksi. “Hal ini, secara tidak langsung akan membuat karyawan lebih terpicu semangat kerjanya,” tegasnya.

Untuk pengembangan usahanya, ia juga tidak mau berhubungan (baca: meminjam modal, red.) dengan bank. Ia cukup menyediakan deposito dalam jumlah memadai. Selain itu, pemesan produknya harus menyerahkan uang muka sebesar 50%.

“Kemudian, uang muka tersebut saya tambahi dengan modal saya tadi, untuk membeli bahan baku. Pengeluaran saya ini, nantinya akan tertutup oleh penagihan akhir. Setelah saya pakai untuk membayar ini itu, sisanya saya masukkan lagi ke bank untuk deposito pemesanan berikutnya. Jadi, saya tidak pernah kehabisan modal,” papar Yotty, yang menghargai produknya berdasarkan berapa banyak warna cat yang digunakan.

Ia juga tidak mengubah kondisi tempat usahanya, yang berada di sebuah rumah mungil di kawasan Pasar minggu, Jakarta Selatan. Meski, usahanya telah berskala internasional. Ia cukup menata rumah itu sedemikian rupa. Sehingga, tampak luas dan mewah.

Sekadar informasi, hasil karya Yotty juga telah merambah ke berbagai kedutaan besar asing. Melalui para pejabatnya, banyak perusahaan minuman yang memesan produknya.

“Dengan ukuran (tempat usaha) segini saja sudah tertampung dan terlayani kok (orderan-orderan itu), mengapa harus dibesarkan? Nanti malah mubazir atau kalau salah mengelolanya bisa jadi malah bangkrut,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …