Home / Kiat / Mempertahankan Bisnis dengan Memperluas Pemasaran dan Diversifikasi Produk

Mempertahankan Bisnis dengan Memperluas Pemasaran dan Diversifikasi Produk

Perhiasan Mutiara

(Lombok Paradise)

 

Ada banyak cara untuk mempertahankan sebuah usaha agar tidak kolaps, lantaran konsumen sudah jenuh dengan produknya. Ishak memilih memperluas jaringan dengan memperbanyak reseller, di samping melakukan diversifikasi produk. Kini, baik perhiasan mutiara Lombok maupun madu hutan Bima-nya berjalan saling mendukung

 

e-preneur.co. Pada 29 Juli 2018, terjadi gempa di Lombok. Imbasnya, penduduk kehilangan hampir semua harta benda mereka, seperti rumah, ternak, hingga usaha mereka.

Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB) turut berpartisipasi meringankan penderitaan penduduk, melalui program tanggap bencana. “3 Agustus 2018, saya dikirim ke sana. HA-IPB, berdasarkan kajian dan masukan dari lapangan, menempatkan saya di Desa Salut,” kisah Maulana Ishak.

Selama dua minggu, pria yang akrab disapa Ishak ini tinggal di desa terujung di Lombok Utara itu. Saat sedang santai bersama rekan-rekannya, ia bertemu dengan pengrajin mutiara yang hanya mampu menyelamatkan mutiara-mutiaranya, sementara rumah dan segala peralatan usahanya hancur. Imbasnya, ia tidak bisa menjalankan lagi usahanya.

“Orang itu menawarkan mutiara-mutiaranya ke saya. Saya katakan jika harus membeli semuanya, saya tidak mempunyai uang sebanyak itu. Lalu, saya menawarkan kerja sama,” tutur sarjana S-1 di bidang ilmu manajemen sumberdaya perairan dari IPB ini.

Bentuk kerja sama itu yakni Ishak memberikan suntikan dana kepada pengrajin mutiara tersebut. Tapi, itu bukan dana investasi, melainkan dana simpanan.

Suntikan dana sebesar Rp50 juta itu, bisa digunakan untuk membeli peralatan dan bahan-bahan penunjang lain. Sehingga, jika Ishak mendapat permintaan dari Jakarta atau Bogor, misalnya, maka sang pengrajin mutiara bisa langsung mengerjakan.

“Kalau perhiasan dari mutiara itu ia hargai Rp1 juta, ia tinggal memotong dari suntikan dana. Kalau saya menjualnya lebih dari harga yang ia jual, maka ia juga mendapat kelebihan hasil penjualan itu dari perputaran dana,” lanjutnya.

Pada hari pertama dipasarkan, ternyata lima set (1 set terdiri cincin, gelang, liontin, dan giwang/anting-anting, red.) perhiasan mutiara langsung “disabet” teman-teman Ishak. Selanjutnya, hari demi hari hari, perhiasan itu semakin banyak yang terjual.

Mulut reseller lebih dipercaya ketimbang teknik advertiser

Puncaknya pada lebaran lalu di mana 229 set tandas. Padahal, ia membandrol perhiasan mutiaranya dengan harga Rp400 ribu‒Rp1,2 juta (mutiara tawar grade A).

Sekadar informasi, bila semula tersedia dalam berbagai grade, kini dikerucutkan hanya ada grade A. Mengingat, lebih difokuskan pada bisnis.

Dua minggu setelah suntikan dana pertama, Ishak menyuntikkan dana kedua sebesar Rp30 juta. Disusul suntikan dana ketiga sebesar Rp20 juta. Sehingga, total dana yang disuntikkan sebesar Rp100 juta.

“Sebenarnya, di hari kedua penjualan, ada delapan set perhiasan mutiara kami yang dikembalikan oleh konsumen hanya karena dikemas dalam wadah mika. Konsumen tersebut beranggapan itu bukan mutiara asli. Kebetulan, sertifikatnya juga belum ada. Suntikan dana yang ketiga itulah, yang pada akhirnya digunakan untuk membeli kotak/kemasan dan mencetak sertifikat,” jelas Ishak, yang ketika usaha ini berjalan satu tahun dan booming pada lebaran lalu, lantas membuat perusahaan dengan nama PT Nusantara Multi Jaya.

Dalam perjalanannya, perhiasan mutiara yang diberi label Lombok Paradise ini mengarah ke fashion yang memiliki potensi repeat order, sekaligus jenuh. “Jika kami bertahan, kami berpotensi kolaps. Untuk itu kami pun merancang dua strategi,” ucap sarjana S-2 di bidang ilmu pengembangan masyarakat dari almamater yang sama ini.

Strategi pertama, memperluas jaringan pemasaran. Sehingga, bukan hanya konsumen A yang dijaring, melainkan konsumen dari A sampai Z. “Artinya, jika konsumen A sudah jenuh, maka kami berpaling ke konsumen B, C, dan seterusnya. Untuk itu, kami menambah jumlah reseller,” jelasnya.

Menjual mutiara, Ishak melanjutkan, tidak seperti menjual ayam di mana konsumen menitikberatkan pada ayamnya. Sedangkan menjual mutiara, lebih menitikberatkan pada siapa penjualnya.

“Di sini, harus ada trust. Kalau pembeli tidak percaya dengan penjualnya, tidak mungkin dia mau mengeluarkan uang Rp400 ribu‒Rp1,2 juta, bahkan puluhan juta rupiah, hanya untuk membeli perhiasan mutiara,” kata kelahiran 28 Juni 1988 itu.

Jadi, ia menambahkan, strateginya bukan advertiser, melainkan memperlebar jaringan melalui reseller. Karena, mulut reseller lebih dipercaya ketimbang teknik advertiser.

Namun, jika hanya bermain di sini, sekuat apa pun mampu menambah reseller, tetap berisiko. Atau, jika strategi ini berjalan dengan lambat, maka strategi kedua pun dimunculkan yakni diversifikasi produk.

Untuk itu, Ishak memunculkan madu hutan Bima. Karena, produk ini dinilai lebih mempunyai potensi repeat order. Mengingat, madu juga dapat berfungsi sebagai obat dan dapat dikonsumsi harian.

Kini, Ishak sudah mengemas madu hutan Bima itu sebanyak 300 jar dari 1.000 jar yang ditargetkan. Harga untuk setiap jar (1 jar = 350 gr, red.) Rp250 ribu. Untuk pengiriman ke seluruh Pulau Jawa, ia membebaskan ongkos kirim.

Jika Ishak menyatakan bahwa keunggulan madunya ada pada kemurniannya, maka ia menyebut keaslian merupakan keunggulan mutiaranya. Di samping itu, juga after sales.

“Misalnya, konsumen memesan cincin dengan diameter jari 1,8. Lantaran berhasil diet, ternyata diameter jarinya berubah menjadi 1,6. Sebenarnya, itu kesalahan konsumen. Tapi, karena itu bagian dari entertain, maka cincin pun kami kecilkan tanpa biaya,” jelasnya.

Karena itu, dalam pembelian Lombok Paradise, konsumen lebih banyak memesan daripada membeli produk yang sudah jadi. Mengingat, dalam perhiasan mutiara ada hal-hal yang harus diperhatikan.

Pertama, jenis mutiaranya (mutiara laut, mutiara tawar, atau mutiara shell), warnanya (biru, pink, putih, hitam, gold, silver, atau hijau), grade-nya, dan berat mutiaranya. Kedua, spesifikasi pengikatnya (perak, emas, atau rhodium). Ketiga, ukuran jari dan tangan.

“Jadi, kalau ditanya apakah barangnya sudah ready, akan kami jawab sudah ready 50%. Sementara untuk membuatnya ready 100% hanya dibutuhkan waktu 1‒2 hari,” lanjut Ishak, yang target market-nya para pria yang membeli perhiasan mutiaranya untuk pasangan mereka. Karena, sebagai gift, tidak mungkin membeli 1 piece, setidaknya 1 set.

Kini, Ishak dan timnya telah menjual hampir 1.000 pieces perhiasan mutiara. Ke depannya, dengan kapasitas produksi 100‒400 pieces, Ishak menargetkan ekspor ke Asia yang akan dicapai dalam tempo lima tahun ke depan. Karena, bisnis ini sangat prospektif. “Perhiasan di Indonesia, khususnya, selain permata dan mutiara, apa lagi?” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …