Home / Celah / Masih Banyak Celah yang Dapat Ditembus

Masih Banyak Celah yang Dapat Ditembus

Lilin Hias

(Lilinina)

 

Dulu, di Indonesia, lilin hanya berfungsi sebagai alat penerang. Kini, sama halnya dengan di luar negeri, dengan bentuk-bentuk yang cantik, lilin juga digunakan hampir di berbagai kesempatan. Misalnya, sebagai suvenir pernikahan atau alat promosi suatu produk. Imbasnya, omset yang dibukukan dari usaha pembuatan lilin hias kadangkala sangat menakjubkan

 

e-preneur.co. Sebesar apa pun bentuknya, nyala yang ditimbulkan oleh lilin tetaplah kecil dan tidak cukup dapat menerangi ruangan di sekitarnya. Tapi, kala lilin ini tidak sekadar sebagai penerang tapi juga berfungsi sebagai suvenir dengan bentuk-bentuk yang cantik, sangat menakjubkan omset yang bisa diperoleh pembuatnya.

Namun. bukan itu yang melatarbelakangi Agustina Dharmayanti yang sejak kecil memiliki hobi membuat segala macam pernak-pernik, misalnya perhiasan dari batu-batuan. Lilin-lilin hias itu, semula hanya dibuatnya secara iseng. Tapi, kemudian, temannya yang akan menikah terkesan dengan hasil karyanya dan memesan 660 lilin hias untuk suvenir pernikahannya.

“Padahal, saat itu saya masih dalam taraf coba-coba. Bahkan, saya tidak tahu di mana harus membeli bahannya atau bagaimana modelnya. Tapi, dengan modal nekad, saya sanggupi saja permintaannya,” kata perempuan yang biasa disapa Nina ini.

Selanjutnya, melihat celah yang terbuka, akhirnya Nina mengubah keisengannya menjadi bisnis pada tahun 1988 dengan label Lilinina. Lantas, sekitar tahun 1999‒2000, ia mendapat kiriman buku tentang bagaimana membuat lilin hias dan berbagai bentuk lilin hias dari Kakaknya yang berada di Jepang.

Dengan tambahan pengetahuan itu, sarjana administrasi niaga dari Universitas Indonesia ini pun rutin menerima pesanan sebanyak 100‒1.500 lilin per orang. Lilin-lilin hias itu, sebagian besar untuk cenderamata pernikahan dan sebagian yang lain untuk suvenir event-event khusus, misalnya natal, Valentine, seminar, dan promosi produk. “Alhamdulillah, pesanan untuk suvenir selalu datang setiap tahun tergantung dari musimnya,” ucap Nina, yang selalu “panen” bila musim kawin tiba.

Nina yang kemudian dibantu oleh tiga tenaga lepas jika harus menerima pesanan dalam jumlah banyak dan diselesaikan dalam waktu singkat, mengakui bahwa bisnis ini sangat menguntungkan. Sebab, dengan bahan baku jadi, ia hanya perlu mengeluarkan modal tidak lebih dari Rp1 juta.

“Jadi, bisa dibayangkan bila bahan bakunya dibuat sendiri. Saya bisa membuat berkarung-karung lilin hias ukuran kecil dan dapur saya pun terus ngebul,” kata wanita, yang juga mengajar pembuatan handycraft untuk para Ibu ini.

Sangat menguntungkan

Namun, laiknya bisnis, selalu saja ada kendala yang menghadang. “Terus terang, saya terbentur pada masalah promosi. Seandainya saya mempunyai toko yang bisa menjadi tempat saya menaruh barang hasil karya saya, orang pun akan lebih mudah mencari dan mendapatkan barang-barang saya,” ujar kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1973 ini.

Nina mengakui bahwa ia pernah ditawari sebuah mal untuk memasukkan barang-barangnya ke sana. Tapi, lantaran harga yang diberikan sangat menekan harga produknya, wanita yang juga rajin membuat kotak hantaran, anting dan kalung dari batu-batuan atau mutiara, serta boneka untuk suvenir ini tidak berani menerima tawaran itu.

“Akhirnya, hanya mereka yang mempunyai kartu nama saya, pernah menerima suvenir buatan saya, atau pernah membaca artikel tentang saya yang tahu tentang saya,” pungkas Nina, yang pernah meraup omset bersih sekitar Rp10 juta.

Berbicara prospeknya sebagai bisnis, menurut Nina, sangat baik dan banyak celah yang masih dapat ditembus. Terlebih, jika mampu menembus pasar luar negeri. Karena itu, banyak yang terjun ke bisnis ini yang otomatis juga mendatangkan banyak pesaing.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …