Home / Inovasi / Jilbab Tetap Awet dan Bebas Kusut

Jilbab Tetap Awet dan Bebas Kusut

Lemari Jilbab

(Kinjenk)

 

Koleksi jilbab yang terbilang banyak, seringkali justru “merepotkan” pemiliknya saat akan disimpan. Karena itu, agar jilbab tidak cepat rusak atau setidaknya kusut, Kinjenk pun membuat lemari jilbab yang sangat praktis

 

e-preneur.co. Kaum hawa biasanya senang mengoleksi berbagai macam barang, mulai dari aneka merek tas, sepatu, hingga pakaian dengan model-model terbaru. Demikian pula, para wanita berkerudung.

Adalah sesuatu yang jamak jika mereka mengkoleksi varian jilbab dengan berbagai ukuran, warna, corak, bahan, dan model. Sebab, selain tidak mungkin mereka hanya memiliki dua atau tiga jilbab yang mesti dipakai secara bergantian pada acara-acara yang berbeda, mereka juga selalu ingin menambah koleksi jilbab begitu model baru beredar di pasaran.

Sebagai barang koleksi, tentu jilbab-jilbab tersebut memerlukan perlakuan khusus agar tidak cepat rusak. Sementara “perawatan” terhadap jilbab tidak cukup hanya dicuci dan diseterika agar tetap indah dan cantik saat dikenakan, melainkan juga harus disimpan di tempat yang benar.

Selama ini, biasanya, jilbab disimpan dengan cara ditumpuk menjadi satu di dalam lemari bersama pakaian. Padahal, selain membuat jilbab kusut saat akan dipakai, payet-payet atau manik-manik yang menjadi hiasan jilbab berisiko tersangkut pada baju. Sehingga, jilbab pun rusak.

Solusi lain, jilbab digantung dengan hanger. Tapi, jika satu jilbab membutuhkan satu hanger, maka lemari pakaian Anda akan penuh sesak.

Lalu, muncul cara lain lagi yang lebih tepat yakni menggunakan hanger khusus jilbab, yang populer disebut lemari jilbab. Tapi, lemari jilbab yang dimaksud bukanlah lemari dalam arti sesungguhnya.

Disebut lemari, lantaran hanger yang satu ini mampu memuat beberapa jilbab dalam satu gantungan. Kemudian, ditutup dengan kain dan mika plastik. Sehingga, jilbab aman tersimpan, tanpa risiko tersangkut.

Bisa dilipat, bisa digantung, dan bisa dibawa ke mana pun

“Kalau hanya dari besi, tanpa pembungkus (kurung), jilbab akan tetap kotor terkena debu atau jatuh ke lantai,” kata Ade Firmansyah, pembuat lemari jilbab yang terinspirasi dari penjual pakaian di sebuah pasar tradisional.

Lemari jilbab berbentuk hanger bertingkat ini bisa dilipat menjadi kecil. Sehingga, bisa dibawa ke mana pun. Lemari jilbab juga bisa digantung di dalam lemari pakaian, seperti menggantung jas yang dibungkus dengan plastik.

Lemari ini mempunyai ukuran beragam, menyesuaikan ukuran lemari sesungguhnya. Jika lemari pakaian Anda kecil, maka lemari jilbab yang bisa masuk yakni model simple atau berukuran 35 cm x 100 cm. Sedangkan lemari jilbab model jumbo (berukuran 45 cm x 120 cm), bisa memuat lebih banyak jilbab.

“Namun, jika tidak muat dengan bentuk lemari pakaian mana pun, digantung di dinding juga tidak masalah. Sebab, hanger sudah dilapisi penutup,” ujar Firman, sapaan akrabnya.

Pembuatan lemari jilbab ini cukup mudah. Firman hanya perlu membuat pola pada kain, sesuai ukuran. Lalu, dijahit bersama dengan mika plastik. Lantas, dipasangkan hanger di dalamnya.

Karena itu, ia menyadari, produk ini mudah ditiru. Apalagi, menurutnya, prospek penjualan lemari jilbab cukup menjanjikan.

Terbukti dari total produk yang ia buat, 95% -nya langsung diserap pasar. Sedangkan sisanya, hanya berupa produk cacat atau rusak.

Meski muncul banyak pesaing, Firman memilih konsentrasi membuat produk yang berkualitas. Selebihnya, biar konsumen yang memilih.

“Setahu saya, sudah ada beberapa orang yang membuat produk yang sama. Tapi, keberadaan mereka justru membuat saya dan tim bertambah semangat memperbaiki kualitas produk kami, serta menambah desain dan model terbaru,” ujarnya, optimis.

Karena itulah, Firman ingin mengetahui respon pelanggan terhadap produk buatannya. Untuk itu, ia tidak segan-segan mengaplikasikan langsung ide desain dari pelanggan.

“Beberapa model, motif, atau ide datang atas inisiatif atau keinginan pelanggan. Saya tidak menutup kesempatan pelanggan memberi masukan. Jika memang idenya bisa saya realisasikan, kenapa tidak dilaksanakan?” lanjutnya.

Dalam sebulan, Firman rutin menghasilkan lebih dari 3.000 lemari jilbab. Mengingat proses pengerjaannya, cukup cepat. Untuk satu lemari bisa dikerjakan kurang dari satu jam oleh lima tenaga penjahitnya.

“Satu lemari bisa selesai dalam hitungan menit saja. Kalau pesanan dalam jumlah banyak, misalnya sampai 1.000 unit, bisa makan waktu beberapa hari. Tergantung, jumlah penjahit dan skill mereka,” jelasnya.

Harga jual lemari jilbab bervariasi, tergantung modelnya. Firman menyediakan tiga model yaitu model simple, model baju, dan model jumbo. Ia juga memberi potongan harga sekitar 35%, bagi pelanggannya yang memesan dalam jumlah besar.

Lemari jilbab yang diberi merek Kinjenk ini sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Ketika pasar dalam negeri sudah dikuasai, Firman ingin menjajal peruntungannya ke pasar mancanegara.

“Namun, saya tidak terburu-buru. Jika sudah siap, saya akan mencoba menembus pasar internasional. Tidak perlu jauh-jauh, yang dekat saja dulu. Misalnya, negara tetangga,” pungkasnya.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …