Home / Celah / Alternatif Makanan Sehat dan Halal

Alternatif Makanan Sehat dan Halal

Siomay Ayam Haji Tan

 

Segala makanan atau masakan dengan “brand” Tionghoa identik dengan tidak halal. Namun, Andrew Tan menepis anggapan itu dengan “melahirkan” Siomay Ayam Haji Tan, sekaligus menjadikannya ladang syiar kepada masyarakat tentang apa itu halal dan sehat, di samping kemudahan dalam menyajikannya. Imbasnya, permintaan bisa membludag hingga mencapai 100% menjelang lebaran, khususnya

 

e-preneur.co. Setiap anak mengakui bahwa masakan Ibu mereka merupakan masakan yang paling enak di dunia. Demikian pula, dengan anak-anak almarhumah Vera Pangka.

Perempuan berdarah Tionghoa keturunan Banjarmasin ini, mempunyai beberapa resep masakan atau makanan yang enak di lidah ketiga jagoannya. Hingga, mereka tidak mampu melupakannya.

Selanjutnya, dipicu oleh teman-teman yang pernah merasakan masakan sang Ibu, akhirnya, si bungsu Andrew Irfan Tan membangun bisnis makanan. Niatnya, agar semakin banyak orang yang bisa merasakan masakan sang Ibu, sekaligus meneruskan resep warisannya.

“Awalnya, siomay ini dibuat untuk konsumsi keluarga. Kemudian, saya melihat adanya peluang yang bagus di sini. Terutama, dalam syiar Islam,” kata Andrew. Sebab, di kalangan masyarakat Indonesia, brand Tionghoa itu identik dengan tidak halal.

“Namun, dengan nama yang diberikan yaitu Siomay Ayam Haji Tan, saya syiar kepada masyarakat bahwa pertama, Siomay Ayam Haji Tan merupakan siomay berbahan baku ayam dengan rasa oriental. Di sini, saya ingin memberi brand image kepada masyarakat: meski rasanya oriental tapi muslim,” lanjut Andrew, yang terlahir sebagai muslim, meski berdarah Tionghoa.

Kedua, kalangan Etnis Tionghoa Muslim itu ada di tengah-tengah masyarakat kita. “Dan, kami mempunyai produk makanan yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Khususnya, yang muslim,” tambahnya.

Di samping itu, secara umum, Andrew ingin menyediakan alternatif makanan halal dan sehat. Untuk itu, proses pembuatan Siomay Ayam Haji Tan dipastikan halal. Sehingga, orang-orang yang memakan siomay ini akan merasa aman dan manfaat dari makanan yang bersih dan suci.

“Namun, halal itu harus dipahami bukan dari sekadar zatnya, dalam arti, tidak mengandung babi atau bahan-bahan yang dilarang dalam Islam. Ada suatu bahan baku yang sebenarnya halal, tapi karena proses pengolahan salah, maka barang itu menjadi haram. Contoh, telur. Barang ini halal, tapi karena kotoran-kotoran yang melekat pada kulitnya cuma dibersihkan seadanya (menurut kaidah Islam, telur itu harus dibersihkan dalam air yang mengalir, red.), maka ketika dimasak, ia berubah menjadi barang yang haram,” jelasnya.

Selain itu, Siomay Ayam Haji Tan juga tidak menggunakan MSG, zat pengawet makanan, dan zat perasa tambahan. Untuk menggiling dagingnya saja, Andrew membuat alat penggiling daging sendiri untuk memastikan kehalalannya.

Meski rasanya oriental, tapi muslim

Sementara untuk bumbunya, kacang disangrai terlebih dulu, lalu dibuang kulitnya, dan sesudahnya digiling. Proses sangrai yang berarti tidak menggunakan minyak, dilakukan untuk mengurangi kolesterol.

Mengapa siomay tersebut dari daging ayam? Sarjana pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta ini mempunyai alasan tersendiri. Menurutnya, pertama, ayam merupakan daging yang mudah diperoleh. Kedua, Ikan Tenggiri dengan kualitas yang baik, harganya tidak murah. Ketiga, bagi mereka yang alergi dengan ikan atau hasil laut lainnya, kehadiran siomay ayam bisa dijadikan alternatif.

Siomay Ayam Haji Tan dapat ditemui di sebuah toko buku di kawasan Tebet dan Rumah Sakit Darmawangsa, serta sebuah tempat kursus matematika. Siomay yang masih dipasarkan dengan sistem titip jual ini, dijual dalam kondisi beku. Untuk itu, sebelum disantap harus dikukus atau digoreng dulu.

Siomay ayam ini dijual dalam dua kemasan. Kemasan pertama terdiri dari tiga pieces dan kemasan kedua terdiri dari dua pieces, yang masing-masing dilengkapi dengan dua dari empat apa yang biasa disebut siomay sayur yakni kentang, kol, pare, atau tahu. Untuk kemasannya, Andrew menggunakan plastik, bukan styrofoam, guna menghindari kemungkinan adanya zat-zat yang berbahaya dalam styrofoam.

Siomay Ayam Haji Tan sering dijadikan alternatif masakan saat lebaran. Atau, tepatnya, ketika orang-orang mulai bosan menyantap lontong/ketupat opor, sambal goreng hati, kue-kue kering, dan sebagainya.

Imbasnya, permintaan bisa membludag hingga mencapai 100%. Sekadar informasi, dalam kondisi “normal” siomay yang dibuat di kediaman Andrew di kawasan Matraman, Jakarta Timur, ini diproduksi tiga kali dalam seminggu dengan kapasitas 600 pieces yang semuanya segera diserap pasar.

“Akhirnya, mereka memesan siomay ke kami. Mengingat, produk kami merupakan produk beku yang bisa bertahan lebih dari sebulan dalam refrigerator dan lima hari dalam suhu kamar. Sedangkan bumbunya, bisa bertahan lima hari dalam kulkas. Untuk menyantapnya, tinggal mengukus atau menggorengnya. Bahkan, anak-anak pun bisa melakukannya sendiri,” kata kelahiran Jakarta, 24 April 1982 ini.

Pesanan bukan hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya, tapi sudah merambah ke Batam, Surabaya, dan Pekanbaru yang dikirimkan dengan menggunakan paket satu hari sampai. “Untuk dalam kota, saya mengirimnya langsung dengan charge pada radius tertentu. Tapi charge ini negotiable,” pungkas Andrew, yang berencana membuka outlet dan mengembangkan pemasaran dengan sistem reseller agar semakin banyak orang bisa merasakan siomay ini.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …