Home / Inovasi / Bakso Sehat yang Tidak Mahal

Bakso Sehat yang Tidak Mahal

Bakso Lohua ala Omah Lawuh

 

Makanan sehat identik dengan rasa tidak enak dan harga mahal. Tapi, Omah Lawuh menepis anggapan itu dengan menghadirkan Bakso Lohua yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak autis, mereka yang terkena kanker, serta mereka yang dilarang mengonsumsi gluten dan telur, dengan harga jual yang wajar dan rasa tetap enak

 

e-preneur.co. Hampir semua orang menyukai bakso. Tapi, karena kondisi tertentu, beberapa orang tidak diperbolehkan menyantap makanan berkuah ini.

Omah Lawuh yang berdiri pada tahun 2014, melihat hal ini sebagai peluang. Resto yang semula dibangun untuk menyediakan olahan makanan yang sehat ini pun banting kemudi, dengan melakukan inovasi pada bakso.

Namun, bukan sekadar bakso, melainkan bakso yang sehat, sesuai dengan konsep awal yang diusung Omah Lawuh. Pengertian bakso sehat di sini, menurut Skolastika Thalika, yakni terbuat dari daging ayam probiotik, tanpa telur, dan menggunakan tepung sagu atau bisa juga mocaf (modified cassava flour atau tepung ubi kayu, red.)

Sementara kuahnya, berasal dari rebusan ceker ayam probiotik. “Untuk membuat kuahnya saja, kami membutuhkan waktu hingga 24 jam,” jelas Thalika, sapaan akrab pendiri dan pemilik Omah Lawuh..

Dikatakan bahwa bakso ini dibuat dari ayam probiotik, bukan dari daging sapi. “Terus terang, kami kesulitan memperoleh sapi yang grass feed dan tidak disuntik hormon. Kalau pun ada, lokasinya di Bali,” kata Thalika, yang memperoleh pasokan ayam probiotik dari peternak ayam probiotik di Metro, Lampung

Setelah dihitung-hitung, ia melanjutkan, ternyata ongkos produksinya menjadi sangat mahal. Sementara konsep utama Omah Lawuh yakni menjual makanan, tapi bukan yang mahal. Sehingga, semua kalangan bisa menikmati. “Makanan yang enak dan sehat itu tidak perlu mahal. Makanan yang enak itu tidak membuat isi kantong ‘menjerit’,” tegasnya.

Di sisi lain, sapi seperti tersebut di atas belum tentu selalu tersedia. Sedangkan jumlah peternak ayam probiotik, mulai bamyak. Sehingga, selalu ada ketersediaan bahan baku utama.

Sebagai bakso yang sehat, bakso yang dihadirkan Omah Lawuh pada 19 Februari 2019 itu dapat dikonsumsi oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Terutama, autis.

Sekadar informasi, autis terbagi menjadi beberapa tipe di mana ada penderitanya yang dilarang makan telur, tepung terigu, atau bawang putih. “Kebetulan, bakso ini masih menggunakan bawang merah dan bawang putih, di samping bahan-bahan masakan lain. Kami menyebutkan semua ingredient-nya di kemasan,” bebernya,

Selain itu, bakso yang juga dikenal dengan nama Bakso Lohua atau Bakso Serabut ini juga aman bagi mereka yang sudah sepuh, yang notabene sudah dilarang mengonsumsi banyak gluten dan telur. Bakso Lohua dapat pula dikonsumsi oleh mereka yang terkena kanker dan sedang diet. “Bahkan, untuk orang-orang sehat yang sekadar ingin menyantap makanan sehat,” tegasnya.

Inovasi berikutnya yang dilakukan Omah Lawuh yaitu menawarkan Bakso Lohua dalam bentuk makanan beku dan dipasarkan secara online. “Perubahan konsep dari resto ke makanan beku ini, dilatarbelakangi oleh banyak faktor. Pertama, masalah tempat. Dalam menjalankan usaha kuliner, kami harus pindah tempat beberapa kali. Bahkan, lingkungan kami tinggal saat ini pun bukan lingkungan yang bisa menerima makanan sehat. Kedua, saat ini zamannya serba online. Jadi, mau tidak mau, kami pun harus berpindah ke makanan beku,” jelasnya.

Bakso ini terbuat dari daging ayam probiotik, tanpa telur, dan menggunakan tepung sagu

Ya, kondisi jalanan yang semakin macet dan cuaca yang tidak bersahabat, membuat banyak orang malas keluar rumah dan memilih untuk memesan makanan secara online. Termasuk di kawasan pinggiran Tangerang, lokasi Omah Lawuh. “Tidak ada minimum order. Karena, ongkos kirim kan ditanggung pemesan,” tambahnya.

Bakso Lohua dikemas hanya dalam satu ukuran di mana dalam kemasan tersebut berisi 12 bakso. Sementara untuk kuahnya, sebanyak 200 ml. Bakso yang tidak menggunakan bahan pengenyal, serta tambahan bahan pengawet, pemutih (pewarna), dan perasa ini dijual dengan harga Rp45 ribu.

“Untuk membelinya, bisa memesan melalui instagram kami. Nanti, kami akan mengirimkan ke para pembeli di seluruh Jabodetabek dengan ojek online,” jelasnya.

Untuk menghidangkan bakso yang bisa untuk dua porsi ini yakni dengan memanaskan terlebih dulu bakso dan kuahnya. “Untuk kuahnya bisa ditambahkan air lagi hingga 400 ml. Bila kurang asin atau manis, bisa ditambahi garam atau gula sesuai selera,” ujarnya. Bakso ini, bisa pula dihidangkan dengan tambahan rebusan sayur-sayuran.

Namun, Thalika mengakui bahwa pemasaran bakso yang berbentuk kotak ini, sampai sejauh ini belum mampu menyentuh semua konsumen. Mengingat, hanya dipasarkan secara online dan melalui berbagai bazar, yang biasanya didatangi oleh mereka yang ingin hidup sehat.

“Di samping itu, kami masih kekurangan SDM (Sumber Daya Manusia). Jika suatu produk ingin banyak yang terjual, maka harus sering mengikuti bazar. Untuk bisa selalu mengikuti bazar, maka harus mempunyai banyak SDM,” jelasnya.

Namun, ia optimis. Menurutnya, prospek makanan sehat untuk 10 tahun ke depan masih bagus. Mengingat, semakin banyak orang yang menyadari lebih baik menyantap makanan sehat daripada sakit.

“Pola hidup sehat sedang marak. Jadi, kehadiran Bakso Lohua ini pas dengan momentumnya orang sedang ingin hidup sehat. Kalau dulu hanya sebagai gaya hidup, maka sekarang hidup sehat sudah menjadi kebutuhan. Di sisi lain, bakso disukai oleh banyak orang. Jadi, seharusnya tidak sulit pemasarannya. Apalagi, konsumen yang menyambutnya mengatakan enak. Abaikan konotasi jika sehat itu tidak enak dan mahal,” pungkasnya.

Karena itu, Omah Lawuh bertekad akan mengeluarkan satu persatu makanan beku yang sehat untuk anak-anak, setiap enam bulan. Seperti, nugget, kaki naga, dan sebagainya. Sementara untuk orang dewasa, produk berikutnya yang akan dihadirkan yakni siomay ayam, ayam bumbu kuning, ayam goreng lengkuas, dan ayam lodoh.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …