Home / Agro Bisnis / Dapat Diterapkan di Sawah dan Juga di Dalam Pot

Dapat Diterapkan di Sawah dan Juga di Dalam Pot

System of Rice Intensification

 

Teknik baru dalam penanaman padi atau System of Rice Intensification (SRI) membuat produktivitas beras meningkat berlipat-lipat, ramah lingkungan, biaya produksinya murah, dan sebagainya. Tapi, pada awal kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh pihak-pihak tertentu. Namun, kini, perlahan dan pasti telah banyak yang menerapkan SRI dengan hasil panen seperti yang diharapkan

 

e-preneur.co. Tahukah Anda, jika sistem penanaman padi yang selama ini dilakukan para petani kita ternyata salah, terutama setelah munculnya intensifikasi pupuk? Hal ini, terbukti dari adanya perbandingan yang tajam antara tingginya biaya produksi dengan semakin rendahnya jumlah beras yang dihasilkan.

Di sisi lain, hal itu juga semakin membuktikan bahwa selama berpuluh-puluh tahun pupuk digunakan dalam sistem pertanian kita, ternyata tetap tidak mampu menggantikan pekerjaan kompos dalam tanah. Namun, mengapa sistem yang telah dijalankan selama berabad-abad itu tetap dilakukan?

Jawabannya gampang saja yaitu adanya pihak-pihak tertentu yang tidak mau mengakui kesalahan tersebut dan menolak hadirnya teknik baru dalam penanaman padi. Seperti, ketika System of Rice Intensification (SRI) yang terlahir di Madagaskar lebih dari 20 tahunsilam hadir, lalu diperkenalkan ke seluruh penjuru dunia (termasuk Indonesia, red.) pada tahun 1999.

SRI yang sudah dipraktikkan di Tanah Air kita sejak tahun 1997, tapi baru booming pada tahun 2006, dianggap sebagai kebohongan. Sehingga, tidak mendapat tanggapan yang bagus dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Penolakan ini, sebenarnya lebih terkait pada masalah arogansi di bidang keilmuwan.

Kemudian, seorang PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dari Jawa Barat dengan menggunakan data-data dari internet, mencoba teknik ini dan berhasil. Tapi, gara-gara hal itu, ia justru akan dipecat. Karena, dianggap melawan program pemerintah.

“Lalu, ia meminta perlindungan pada Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda di mana saya merupakan salah seorang sesepuhnya. Kami menanggapi dengan mengecek fakta yang ada dan ternyata benar,” tutur Mubiar Purwasasmita.

Fakta ini, Mubiar melanjutkan, memang mengagetkan. Sehingga, membuat risih para peneliti. Sebab, terdapat meningkatan produktivitas beras dari semula 4 ton menjadi 8 ton, kemudian 9 ton, dan seterusnya.

“Produktivitas beras yang semakin lama semakin tinggi membuat para peneliti semakin tidak percaya. Karena, secara genetika, potensinya hanya mencapai 10 ton. Jadi, tidak mungkin lebih daripada itu,” kata pria, yang saat itu menjabat sebagai Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Pada tahun 2003, seorang dosen junior di program studi yang sama, melalui buku-buku yang dibacanya, memperkenalkan istilah Intensifikasi Proses kepada Mubiar. “Sesudah saya pelajari, saya menarik kesimpulan bahwa saya dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar sarjana teknik kimia dari ITB ini.

Nasinya tahan tiga hari!!!

Jadi, apa itu SRI? “Kami tetap menamainya Intensifikasi Proses. Nama populernya yakni System of Rice Intensification yang disingkat SRI, mendekati nama Dewi Sri, Si Dewi Padi. Sedangkan penemunya yaitu Katayama, seorang ilmuwan Jepang. Jadi seharusnya dinamai Katayama Method,” tutur doktor dari Institut National Polytechnique de Lorraine, Prancis, ini.

Dalam SRI, Mubiar menambahkan, terdapat tiga prinsip kerja. Pertama, anakan.

“Selama ini, kita menanam padi dengan benih yang sudah berumur 25 hari. Menurut Katayama, pada umur 12 hari, benih padi akan mengeluarkan ruas-ruasnya yang pertama, yang nantinya akan menghasilkan 60% anakan. Kalau benih ditanam saat berumur 20 hari, ruas-ruas yang tumbuh sudah rusak. Sehingga, tidak dapat dipakai lagi,” jelasnya.

Dengan demikian, ia menambahkan, bila kita menanam padi dengan benih berumur 25 hari, maka potensi anakannya hanya sepertiga dari seharusnya. Sedangkan dalam SRI, benih yang digunakan berumur lima hari.

Kata para petani, ia melanjutkan, satu lubang diisi dengan lima benih. Faktanya, satu lubang berisi belasan benih.

“Dengan SRI, satu lubang untuk satu benih. Tapi, menurut Departemen Pertanian (sekarang: Kementerian Pertanian, red.) itu menyalahi peraturan. Lalu, dibuatlah percobaan di mana lubang pertama diisi satu benih, lubang kedua dua benih, lubang ketiga tiga benih, dan seterusnya. Hasilnya, lubang pertama menghasilkan 43 anakan, sedangkan lubang ketiga menghasilkan 45 anakan tapi berwarna kuning (tanda kekurangan nutrisi, red.),” katanya.

Benih-benih padi itu, Mubiar menambahkan, ditanam dangkal. Karena, ternyata hasilnya lebih baik.

“Penanaman secara dangkal ini merupakan hasil penemuan seorang petani kita, yang melihat bahwa Rumput Gajah selalu lebih besar daripada padi. Selanjutnya, ia membalikkan keadaan dengan menyemai bibit Rumput Gajah dan menanamnya sedalam mungkin. Sebaliknya, benih padi ditanam dangkal. Hasilnya, sang padi lebih gede daripada si Rumput Gajah. Ternyata, kedangkalan membuat sirkulasi oksigen lebih lancar,” ucapnya.

Prinsip kerja SRI yang kedua yaitu air. Menanam padi biasanya dilanjutkan dengan menggenanginya.

“Genangan air harus dihilangkan. Karena, akan mencegat oksigen masuk ke dalam tanah. Sehingga, tanah pun membusuk, semua proses organik tidak berjalan, dan tumbuh antihama. Yang lebih fatal lagi, lantaran digenangi air, akar tidak mendapat oksigen. Padahal, akar sangat membutuhkan oksigen. Sehingga, akhirnya ia mengambilnya dari tanaman. Terjadilah perombakan sel akar yang semula mengalirkan nutrisi dari akar ke daun menjadi dari daun ke akar. Kerusakan ini terjadi hingga ¾ bagian hingga diistilahkan busuk,” jelasnya.

Sekadar mengingatkan, padi bukan tanaman air, melainkan tanaman yang memerlukan air. Sehingga, tidak perlu digenangi, tapi cukup dibasahi.

Sistem kerja SRI yang ketiga yakni pengolahan tanah. Pada dasarnya, tanaman tidak perlu dipupuk. Sebab, pabrik pupuk dapat dibangun sendiri di dalam tanah.

“Kompos bukan pengganti pupuk, tapi memberi struktur tanah yang multi spaces. Sehingga, tanah pun menjadi beruang-ruang (gembur) dengan materi organik. Di sisi lain, tanah yang subur adalah tanah yang bercacing. Sebab, cacinglah yang membuat ‘jalan tol’ untuk udara dan air,” ujarnya.

Kesimpulannya, Mubiar melanjutkan, SRI membuat produktivitas beras meningkat berlipat-lipat, ramah lingkungan, biaya produksinya murah, kualitas beras yang dihasilkan lebih bagus, dan serangan hama dapat diperkecil, serta harga jualnya sama dengan padi organik. “Bahkan, dibandingkan dengan nasi yang dihasilkan dari padi yang ditanam secara konvensional, nasi yang dihasilkan melalui SRI mampu bertahan tiga hari!” tegasnya.

Sekadar informasi, SRI hampir sama dengan sistem penanaman organik, tapi sistem penanaman organik bukan SRI. Karena, SRI tetap menggunakan pupuk yang pabrik pupuknya terdapat di dalam tanah.

SRI pernah diterapkan di 3.000 ha lahan sawah di Jawa Barat plus 5 ha lahan gambut di Karawang. Tapi, masih sebatas untuk padi. Padahal, sistem ini juga dapat diterapkan pada tanaman pangan lain, sayur mayur, sayur buah, dan buah-buahan. Bahkan, binatang ternak. Di samping itu, SRI tidak harus diterapkan di sawah, tapi juga di dalam pot.

Jadi, jangan heran, bila suatu ketika Anda menemukan tanaman padi di rumah-rumah warga Bandung. Bahkan, bisa jadi, nantinya juga di rumah Anda.

Check Also

Dapat Dijadikan Bahan Baku Masakan, Juga Bahan Baku Obat-obatan

Leunca Selama ini, masyarakat Jawa Barat hanya menjadikan Tanaman Leunca sebagai tanaman hias. Sementara buahnya, …