Home / Agro Bisnis / Unggas Hasil Perkawinan Impossible yang Prospektif

Unggas Hasil Perkawinan Impossible yang Prospektif

Tiktok

 

Itik jantan kawin dengan entok betina sudah lumrah. Tapi, untuk mengawinkan itik betina dengan entok jantan memerlukan campur tangan manusia. Sementara hasil perkawinannya disebut Tiktok, yang mewarisi keunggulan-keunggulan kedua “orang tuanya”

 

e-preneur.co. Tiktok, apaan tuh? Bunyi jamkah? Bukan, melainkan anak hasil kawin suntik antara itik betina dengan entok jantan.

Mungkin, bagi sebagian masyarakat kita, nama ini terdengar asing. Tapi, akan terdengar akrab di telinga, jika kita menyebut nama lainnya yaitu Serati, Beranti, Togri, Ritog, Tongki, atau Mandalung.

Di samping itu, perkawinan antara itik dengan entok juga bukan sesuatu yang aneh. Sebab, di alam liar, perkawinan antara itik jantan dengan entok betina sering terjadi.

“Kebetulan kromosom (sel pembawa sifat, red.) mereka sama jumlahnya. Sehingga, dalam perkawinan tersebut sangat mungkin terjadi pembuahan. Tapi, anak yang dilahirkan akan steril atau mandul. Di sisi lain, bobot tubuh entok betina lebih ringan daripada entok jantan, seukuran itiklah,” jelas Falinus Simanjuntak, pencetus istilah Tiktok.

Namun, pria yang akrab disapa Linus ini melanjutkan, berbeda dengan Tiktok yang merupakan hasil perkawinan antara entok jantan dengan itik betina. Perkawinan ini sebenarnya impossible terjadi, mengingat ukuran dan bobot entok jantan yang jauh lebih besar dan berat daripada itik betina. Karena itu, dilakukan dengan kawin suntik (artificial insemination).

Di samping itu, perkawinan antara entok jantan (rata-rata berbobot 5 kg) dengan itik betina (rata-rata berbobot 1,5 kg) akan menghasilkan Tiktok seberat minimal 3 kg. Sedangkan perkawinan entok betina (rata-rata berbobot 1,5 kg) dengan itik jantan (rata-rata berbobot 1 kg) hanya akan menghasilkan Bebek Salah-salah (begitu istilah yang digunakan masyarakat Tanjungbalai, red.) seberat 1 kg.

Daging Tiktok lebih enak dan empuk daripada daging ayam atau bebek

Itik betina bertelur 3−4 bulan sekali. Telur-telur yang dihasilkan, meski telah disuntik sperma entok, tetap dianggap sebagai telur itik.

Lantaran selama ini itik selalu diternakkan, maka mereka sudah “lupa” caranya mengerami. Sehingga, harus dibantu dengan mesin tetas. Uniknya, bila telur itik menetas setelah 28 hari “dierami” dan telur entok menetas pada hari ke-35, maka Tiktok akan menetas pada hari ke-32 (28 hari + 35 hari = 63 hari : 2).

“Jika diberi makan makanan yang berkualitas, induk Tiktok mampu berproduksi hingga 70% (120 hari x 70% = 84 butir),” kata mantan Direktur Kebun Binatang Ragunan ini.

Perlu diketahui, itik betina mampu bertelur sejak berumur enam bulan sampai berumur 2,5 tahun. Pada tahun pertama, mereka mampu menghasilkan 90% (100 butir). Tetapi, setelah berumur lebih dari 2,5 tahun, produksi telurnya akan menurun hingga 20% (24 butir).

“Biasanya, saat produksi telurnya menurun 40%−20%, di kalangan peternak berarti tanda bahwa masa hidupnya harus diakhiri. The time is up,” imbuhnya.

Dalam pengembangbiakan Tiktok, ia menambahkan, tidak harus menggunakan itik dan entok jenis tertentu, tapi harus berasal dari bibit unggul. Sehingga, dagingnya mulus dan tampak bagus.

“Saya sarankan, kalau bisa Tiktoknya berbulu putih mulus. Sebab, dagingnya yang juga putih mulus akan tampak lebih menarik bagi konsumen. Hal ini, hanya akan terjadi bila yang dikawinkan yaitu entok jantan dan itik betina yang keduanya berbulu putih,” ucapnya.

Seperti yang pernah ia lakukan yaitu mengawinkan Itik Peking (yang pada dasarnya memang berbulu putih dan berukuran besar, red.) dengan itik biasa (kalau bisa Itik Alabio). Sehingga, akhirnya, dihasilkan Peking Alabio atau Peking lokal dengan aneka macam warna. Setidaknya, Peking lokal ini memiliki 50% gen bulu putih.

Selanjutnya, Peking lokal betina dikawinkan dengan entok jantan berbulu putih. Sehingga, “lahirlah” Tiktok yang cenderung berbulu putih. “Mengingat, mereka memiliki 75% gen bulu putih. Selain itu, daging mereka pun cenderung lebih besar,” tambah Linus, yang menjalankan peternakannya di kediamannya yang terletak di Desa Bedahan, Sawangan, Depok.

Selain mempunyai daging yang besar, Tiktok juga rendah lemak (hanya 1% di bagian dada dan 1,5 % di bagian paha, sedangkan ayam broiler 1,3% di bagian dada dan 6,8% di bagian paha, red.) dan pemakan segalanya. Sehingga, cost production-nya pun rendah. “Dagingnya lebih enak dan empuk daripada daging ayam atau bebek,” ujarnya.

Tiktok juga mewarisi daya tahan induknya terhadap berbagai virus yang menyerang unggas. Misalnya, Virus Flu Burung.

“Virus Flu Burung lebih banyak menyerang ayam dan Burung Puyuh, sedangkan pada itik tidak berpengaruh banyak. Dalam hal ini, itik hanya sebagai reservoir, mediator, atau perantara ke pihak lain. Kondisi ini, memudahkan para petani atau peternak untuk memeliharanya dan dalam skala kecil tidak akan berdampak kerugian apa pun,” imbuh Linus, yang telah mengembangkan Tiktok sejak tahun 2001.

Catatan

Bagi Anda yang berminat mengembangbiakkan Tiktok, tapi tidak mau repot harus memulainya dari awal, mengingat proses pengembangbiakkannya menelan biaya yang tidak sedikit dan memerlukan tenaga ahli dalam proses perkawinannya, dapat langsung dengan membeli anakan Tiktok ke peternakannya, membesarkan hingga berumur dua bulan, lalu tinggal menjualnya.

Untuk beternak Tiktok skala rumah tangga, tanpa kandang tidak masalah. Tapi, Tiktok yang berumur sehari membutuhkan lampu berkekuatan 40 watt atau lampu minyak tanah hingga mereka berumur dua minggu, agar tubuh mereka selalu hangat. Selain itu, dalam perawatannya tidak memerlukan tenaga kerja atau dapat dikerjakan sendiri.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …