Home / Kiat / Raih Pasar Dalam Negeri dengan Pendekatan ke Banyak Pihak

Raih Pasar Dalam Negeri dengan Pendekatan ke Banyak Pihak

Bola Majalengka

 

Ekspor produk bukan masalah pelik bagi Irwan Suryanto. Mengingat, produknya, Bola Majalengka, telah “melambung” ke seluruh penjuru dunia. Tapi, ironisnya, justru tidak mampu menjadi tuan di negerinya sendiri. Karena itu, berbagai upaya pun ia lakukan agar Bola Majalengka bisa menjadi pilihan pertama konsumen Indonesia

 

e-preneur.co. Seringkali, bukan seseorang atau sesuatu bangsa yang menciptakan suatu produk, yang mendapat manfaat dari hasil karyanya itu. Tapi, justru orang atau bangsa lain yang mengambil manfaat itu sebaik-baiknya dan juga sebesar-besarnya.

Begitulah, kurang lebih gambaran tentang Bola Triple S atau yang lebih dikenal sebagai Bola Majalengka. Dikatakan begitu, sebab, produk ini digagas dan diciptakan oleh H. Irwan Suryanto yang berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Namun, 90% pengguna Bola Majalengka justru pesepakbola luar negeri. Seperti, pesepakbola Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (Timur Tengah dan Cina).

Sementara pasar Indonesia hanya menyerap 10% Bola Majalengka. “Jadi, saya merasa seperti menjadi tuan rumah di negeri orang,” ucap Presiden Direktur Sinjagara Santika Sport (Triple S) ini.

Dengan demikian, bagi Irwan, merebut pasar mancanegara tidak sesulit yang dilakukan para pelaku bisnis lain. Bahkan Cina, yang seringkali menjadi momok bagi para pengusaha dalam negeri pun mampu ia “taklukkan”. Sekadar informasi, Cina pernah memesan satu juta Bola Majalengka.

”Orderan dari luar negeri sampai tidak tertangani. Tapi, sebenarnya, saya lebih ingin pasar Bola Majalengka berimbang antara luar negeri dengan dalam negeri. Kalau bisa 50:50,” ungkap Irwan, yang pernah menerima pesanan dari Brasil sebanyak dua juta bola untuk perhelatan Piala Dunia 2014.

Untuk mewujudkan keinginannya, ia mengirim surat ke Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di era kepemimpinan Nurdin Halid dan Djohar Arifin. Namun, hingga kini, surat itu tidak diketahui nasibnya.

Padahal, dalam statuta FIFA (Fédération Internationale de Football Association) pemain profesional tidak boleh menggunakan bola yang tidak bersertifikat FIFA. Tapi, kenyataannya, para pemain sepakbola di Divisi II dan Divisi III masih memakai bola yang tidak bersertifikat FIFA.

Masalah lainnya yakni masih banyak konsumen Indonesia yang minder memakai produk dalam negeri dan merasa wah lantaran menggunakan produk luar negeri. “Padahal, kualitas Bola Majalengka sama dengan merek-merek tenar yang merajai dunia, sementara harganya hanya seperlima dari merek-merek terkenal tersebut (yang juga dibuat di Indonesia),” katanya. Apalagi, sejak beberapa waktu lalu, Bola Majalengka telah mendapat sertifikasi dari FIFA.

Berbeda dengan masyarakat Vietnam, Thailand, Korea, dan Jepang, ia menambahkan, yang bangga terhadap produk negaranya sendiri. “Para Diplomat Korea bangga naik mobil Hyundai. Para pemain sepakbola nasional Thailand bangga memakai kaos produksi FBT (Football Thailand),” lanjutnya.

Meski begitu, Irwan mengakui jika pemerintah sebenarnya sangat mendukung gerakan mencintai produk dalam negeri. Tapi, upaya tersebut belum direspon dengan baik oleh masyarakat.

Namun, Irwan tidak patah arang. Untuk mewujudkan tekadnya menjadi tuan di negeri sendiri, ia melakukan presentasi di sejumlah instansi. Termasuk, ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pak Nuh (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, red.) sangat berkomitmen menyelenggarakan pendidikan dengan mutu terbaik. Dengan adanya Dana alokasi Khusus (DAK) untuk alat peraga olahraga dan seni, Triple S bisa memenangkan tender. Apalagi, Pak Nuh menginginkan produk yang berkualitas,” ungkapnya.

Sementara bola-bola produk Triple S, baik bola sepak, bola voli, maupun bola basket sudah bersertifikat internasional. “Jadi, kualifikasi yang dituntut Pak Nuh bisa kami penuhi,” lanjutnya.

Untuk mewujudkan tekad menjadi tuan di negeri sendiri, Triple S melakukan presentasi di sejumlah instansi, serta membuka peluang dan menghidupkan UKM di Indonesia

Namun, alat peraga olah raga dan seni untuk anak sekolah, bukan hanya bola, tapi ada 29 item. Dengan demikian, bisa sekaligus membuka peluang dan menghidupkan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia. Seperti, pengrajin jaring net, shuttlecock, dan sebagainya.

“Konsekuensinya, para pelaku UKM ini harus meningkatkan kualitas produk mereka. Sehingga, memenuhi kualifikasi yang ditetapkan,” ujarnya.

Dengan adanya DAK alat peraga yang diluncurkan tahun 2010 untuk SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan tahun 2011 untuk SD (Sekolah Dasar), celah bisnis ini menjadi semakin cerah. Sebab, ada sekitar 5.000 SMP dan 36.250 SD yang mendapat sumbangan alat peraga. “Ini sebuah peluang yang besar,” ucapnya.

Selain itu, Triple S yang kemudian melakukan ekspansi ke produk-produk olah raga lain dan apparel juga memanfaatkan momentum eforia futsal. “Sebagaimana bola sepak, bola futsal Triple S juga langsung menyodok ke posisi atas. Mengingat, bola futsal kami sudah disertifikasi oleh sebuah lembaga internasional di Prancis,” ungkapnya.

Irwan menegaskan bahwa dari sisi produksi dan pemasaran, Triple S memang tidak mempunyai masalah. 3.000 karyawannya terus berproduksi baik yang di Majalengka, Cirebon, Kuningan, maupun Indramayu. Sementara order dari luar negeri juga masih terus berdatangan. Bahkan, banyak yang tidak terlayani.

“Di seluruh dunia dibutuhkan sekitar 250 ribu bola tiap hari,” pungkas Irwan, yang merintis Triple S sejak tahun 1994. Tapi, ia yang beberapa waktu lalu menyerahkan tongkat estafet pengelolaan perusahaan ini ke putra bungsunya, Jefri Romdonny, tetap bertekad ingin menjadi tuan di negeri sendiri. Apa pun aral yang dihadapinya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …