Home / Inovasi / Karya Unik yang Diminati Masyarakat Mancanegara

Karya Unik yang Diminati Masyarakat Mancanegara

Kaligrafi Rempah

 

Rempah-rempah, selama ini, hanya berfungsi sebagai bumbu dapur. Tapi, Yasin menaikkan “derajatnya” dengan menjadikannya sebagai bahan baku kaligrafi. Saking uniknya produk ini, masyarakat mancanegara pun meminati

 

e-preneur.co. Rempah-rempah, seperti merica, ketumbar, cengkeh, Bunga Lawang, biji-bijian, Bubuk Teh, Daun Waru, dan lain-lain acapkali kita gunakan untuk memasak dan dapat dibeli dengan harga murah. Tapi, di tangan trampil Yasin Ronasli—yang dengan tekun merangkainya menjadi huruf demi huruf Arab hingga membentuk kaligrafi yang indah—nilai jualnya meningkat.

“Penggunaan rempah-rempah merupakan aktualisasi dari kondisi Indonesia, yang memiliki banyak rempah-rempah menarik yang diakui dunia. Sejarah juga mencatat, Indonesia pertama kali dijajah lantaran negeri ini mempunyai sumber daya alam berupa rempah-rempah yang memikat,” begitu menurut Yasin.

Selanjutnya, dengan keahlian yang dimilikinya, kelahiran 26 Juni 1974 ini “menyulap” rempah-rempah tersebut menjadi lukisan yang menarik. Selain itu, dengan rempah-rempah itu pula, Yasin membuat lampu, papan nama, dan lain-lain.

Namun, ternyata, untuk bisa sampai ke tahap tersebut, Yasin harus bergulat dengan batinnya. Mengingat, sejak tahun 1999, ia berprofesi sebagai pembuat tato.

“Banyak pelanggan saya di Tanjungbalai dan Tebing Tinggi. Karena, bisa dibilang, saya ini perintis tato temporer di sana. Namun, uang banyak yang saya dapatkan habis entah ke mana. Saya juga merasa tidak nyaman, kalau ada pelanggan yang minta dibuatkan tato di bagian badan yang tertutup,” ungkapnya.

Selepas itu, Yasin berdoa dan tafakur. Ia meminta kepada Allah agar diberi jalan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. “Karena itu, kalau ditanya mengapa saya bisa terjun ke kaligrafi rempah, saya menyebutnya hidayah dari Allah,” ujarnya.

Meski harga rempah-rempah tidak mahal, tapi selalu digunakan yang baru

Tahun 2004, ia pulang ke Belawan dan mencoba usaha membuat hiasan nama. Lantas, setelah ia melihat sebuah ayat dalam Alquran, ia langsung bercerita kepada sahabatnya tentang keinginannya membuat kaligrafi.

“Teman saya minta dibuatkan satu. Saya mentok, lalu saya salat dan minta ditunjukkan jalan. Dan, kaligrafi pertama yang saya buat yaitu Surat Yasin,” kisahnya.

Empat tahun kemudian, Yasin yang pada awalnya hanya menekuni kaligrafi mencoba membuat produk lain. Misalnya, dengan Daun Waru, ia membuat piring, lukisan, dan lain-lain agar mereka yang non muslim juga bisa membeli produknya.

Tahun 2009, ia mengembangkan lampu semprong, tempat tisu, dan sebagainya. “Kalau dijumlahkan, sekarang sudah ada 50-an jenis produk yang telah saya hasilkan,” katanya.

Sementara untuk bahan bakunya, sejauh ini ia tidak menemui kendala. “Meski harga rempah tidak mahal, tapi saya selalu menggunakan yang baru,” lanjutnya.

Karya Yasin semakin dikenal. Beberapa pameran diikutinya. Seperti tahun 2008, bersama PT Telkom, ia mengikuti pameran di Jakarta.

Awalnya, tidak ada yang memandang stan kaligrafi rempahnya. Pada hari kedua, ia memasang tulisan yang lebih spesifik “Kaligrafi dari Rempah”. “Setelah itu, banyak yang datang. Termasuk staf Menteri BUMN, yang memesan kaligrafi berukuran besar,” kenangnya.

Dalam memasarkan karyanya, Yasin melakukannya dengan, bisa dibilang, teramat sederhana. Ia memanfaatkan teras rumahnya yang berada di Jalan Deli Asrama Satpol Airud, Medan−Belawan, dan menggunakan jasa agen di seluruh Indonesia. Ia menjual karya kaligrafinya dengan harga Rp750 ribu−Rp4 juta.

Meski begitu, pelanggan karya kandidat penerima penghargaan ASEAN Development Citra Awards 2012/2013 ini sudah menjangkau mancanegara.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …