Home / Senggang / Resto Area / Tempat Makan yang Menyimpan Banyak Kenangan

Tempat Makan yang Menyimpan Banyak Kenangan

Toko Oen

 

Semarang dikenal sebagai kota bersejarah. Mengingat, selain bangunan-bangunan zaman pemerintah kolonial Belanda, di sini juga ada tempat-tempat makan legendaris yang berumur lebih dari setengah abad. Salah satunya dan wajib dikunjungi yakni Toko Oen, yang tetap mempertahankan keutuhan bangunan dan menu-menunya agar peninggalan leluhur ini tidak hilang tergerus perubahan zaman

 

e-preneur.co. Menjelang lebaran lalu, Rusdian Lubis, kontributor eksklusif e-preneur.co, mudik dari Jakarta ke Surabaya. Selain mudik, Yan, sapaan akrabnya, juga melakukan wisata kuliner hampir di setiap tempat yang disinggahi.

e-preneur.co menuliskan kembali ulasannya secara acak. Jika di edisi lalu e-preneur.co menuliskan pengalaman Yan dengan Srabi Notosuman atau Srabi Solo, maka berikut ini tentang Toko Oen yang legendaris.

Terjepit di antara resto-resto kakilima. Itulah Toko Oen, sebuah toko roti yang merangkap resto masakan Eropa, Cina, dan Indonesia.

Toko ini memiliki sejarah yang amat panjang. Dibuka untuk pertama kalinya pada tahun 1922, di Yogyakarta. Namun, kini, toko itu sudah hilang ditelan zaman.

Sementara cabangnya yang terletak di Jalan Pemuda, Semarang, telah berumur 83 tahun (dibuka pada tahun 1936, red.). Toko Oen ini dikelola oleh Jenny, cucu Mr. Oen, sang pendiri resto.

Toko Oen Semarang, begitu ia juga dikenal, mengusung konsep art deco untuk interiornya dengan memadukan gaya Eropa dan Cina. Untuk makanannya, tersaji berbagai roti jadul (jaman dulu, red.) kolonial, seperti spekkoek, poffertjes, dan lain-lain

Sementara menu andalan Toko Oen yaitu nasi goreng, Bestik Lidah Sapi, dan carbonade (iga babi). “Oh ya, ice cream jadulnya juga top. Dan, sekarang, ice cream semacam itu hanya dapat ditemui di Toko Oen Semarang, Zangrandi Surabaya, dan Ragusa Jakarta,” ucap Yan, yang untuk berbuka puasa mencicipi lumpia, ice cream, poffertjes, dan kopi.

“Saya sempat berbincang dengan Pak Mulyono, yang telah bekerja selama 43 tahun pada anak Mr. Oen. Ayah Pak Mulyono, dulu bekerja sebagai koki Mr. Oen,” kata Yan.

Menurut Pak Mul, begitu sapaan akrabnya, pengunjung Toko Oen rata-rata generasi kolonial (berumur 70an tahun) dan kebanyakan berasal dari etnis Cina atau turis bule. Sedangkan generasi milenial-nya hanya sedikit. “Mereka Cuma pesan kopi, lalu bermedsos ria selama berjam-jam,” ujar Pak Mul. Sekadar informasi, password wi-fi Toko Oen yakni ganjelril, nama roti jadul yang seret di tenggorokan.

Ice cream jadulnya top banget

Merunut sejarahnya, Toko Oen untuk pertama kalinya dibuka di Yogyakarta, pada tahun 1922. Sang pendiri, Liem Gien Nio, semula penjual kue kering.

Ketika membuka toko, ia mencomot nama keluarga suaminya, Oen Tjoen Hok. Sementara makanan yang dijual selain kue kering, juga ice cream, serta masakan Belanda, Cina, dan Indonesia.

Lalu, pada tahun 1934, Toko Oen membuka cabang di Jakarta dan Malang. Setahun atau dua tahun kemudian, membuka cabang lagi di Semarang.

Tapi, pada tahun 1958, Toko Oen Yogyakarta dan Jakarta ditutup. Lantaran, kerepotan mengelolanya. Sedangkan Toko Oen Malang dikelola oleh pemilik baru.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …