Home / Kiat / Menjaga Loyalitas Konsumen dengan Konsistensi Resep

Menjaga Loyalitas Konsumen dengan Konsistensi Resep

Rumah Makan Angke

 

Kendati bisnis rumah makan itu anti-krisis, tidak berarti anti-bangkrut. Untuk itu, perlu kiat yang jitu. Seperti yang dilakukan RM Angke, yang menerapkan banyak strategi agar bertahan. Salah satunya yakni konsistensi resep, meski usia resep itu sudah lebih dari setengah abad. Imbasnya, loyalitas pelanggannya terus terjaga

 

e-preneur.co. Richard Branson adalah salah satu pengusaha sukses dengan label crazy entrepreneur. Mengingat, pola pikir out of the box-nya nyaris mendekati “kegilaan”. Tapi, dari sanalah, bisnis Virgin Group berbiak menjadi sekitar 200 perusahaan, dengan jumlah karyawan 40.000, dan beroperasi di sedikitnya 30 negara di dunia.

“Seringkali, keyakinan kita bertabrakan dengan pendapat orang lain. Tapi kalau kita mempunyai keyakinan berhasil, mengapa kita tidak berani mengeksekusinya?” tanya Peter Leeansyah, Owner dan Managing Director Rumah Makan (RM) Angke, dengan nada retoris.

Peter—sebagaimana Richard Branson―pernah dicap “gila”oleh rekan-rekannya, ketika membuka cabang rumah makannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebab, dengan investasi yang sangat besar, ia membangun sebuah rumah makan terbesar dan termegah di lokasi tersebut. “Rumah makan yang kecil-kecil bisa mengambil market kamu, tapi kamu tidak bisa mengambil market mereka,” tutur Peter, menirukan pendapat sejumlah rekannya.

Bahkan, ketika Peter melakukan “jajak pendapat” ke sekitar 100 orang, hampir 95 orang (yang artinya 95%, red.) menyatakan rumah makan itu bakal gagal. Namun, ia tidak mundur.

Bersama tim profesionalnya, ia melakukan survei tempat selama hampir tiga tahun yang dimulai pada tahun 2002. Lalu, dengan tekad bulat, tahun 2005, RM Angke Kelapa Gading pun didirikan dengan megah.

“Tiga bulan pertama rumah makan dibuka, konsumen langsung ramai. Tapi, ternyata, antusias konsumen ini menimbulkan persoalan tersendiri. Pelayanan menjadi tidak maksimal. Karena terlalu lelah, karyawan pun bermuka masam,” kisahnya.

Sebelum persoalan ini berlarut-larut, Peter dan timnya membuat strategi unik: menolak pelanggan ketika separuh dari kursi yang tersedia terisi pengunjung. “Ada dua alasan bagus untuk strategi ini: pengunjung yang ada di dalam bisa terlayani secara memuaskan, sedangkan calon pengunjung yang ditolak menjadi lebih penasaran lagi,” ujar Peter, yang selama menerapkan strategi ini sekaligus juga merekrut dan memberi pelatihan sumber daya manusia (SDM) baru.

Sementara pengunjung yang terlayani dengan memuaskan akan secara sukarela bertindak menjadi marketer. Sedangkan pengunjung yang ditolak akan penasaran dan berusaha untuk bisa booking lebih awal.

Di sisi lain, begitu SDM siap, pintu RM Angke pun dibuka lebar-lebar. Tapi, kali ini berbeda dengan awal rumah makan dibuka, para pelayan sudah siap dan tidak akan kedodoran lagi.

Selanjutnya, dari tahun ke tahun, RM Angke pun terus berkembang. Untuk mengatasi persaingan, rumah makan ini tidak hanya menyediakan masakan khas Cina, melainkan merambah ke paket pernikahan, paket ulang tahun, dan gathering.   “Semua sudah terintegrasi. Kami mempunyai sekuriti sendiri, lift sendiri. Sehingga, klien dijamin puas,” ucapnya.

Menurut Peter, bisnis rumah makan itu anti-krisis. Namun, ia mewanti-wanti jika bisnis rumah makan itu ibarat uang koin yakni prospektif sekaligus kompetitif. Maksudnya, walau anti-krisis, bukan berarti anti-bangkrut. Untuk itu, perlu kiat yang jitu.

“Banyak rumah makan yang sudah berdiri lama gulung tikar waktu terjadi krisis. Bukan karena tidak prospektif, melainkan karena strateginya salah. Sebab,  banyak juga rumah makan yang justru bertumbuh saat terjadi krisis,” paparnya.

Untuk itu RM Angke menerapkan kiat jitu yakni konsistensi resep, meski usia resep itu sudah lebih dari setengah abad. “Resep di RM Angke lebih dari 50 tahun lalu sama dengan resep yang ada saat ini dan masih akan tetap sama sampai tahun-tahun mendatang,” tegasnya.

Bisnis rumah makan selalu prospektif, tapi juga sangat kompetitif

Dengan konsistensi resep itulah, loyalitas pelanggan RM Angke juga terjaga. Resep yang turun-temurun membuat konsumennya juga turun-temurun. “Ini rumah makan yang resep dan konsumennya dari generasi ke generasi,” tambahnya.

Selain kukuh pada resepnya, untuk menjaga loyalitas konsumen, Peter juga membuat program-program untuk konsumen. Misalnya, ia bekerja sama dengan beberapa bank penerbit kartu kredit. Sehingga, member RM Angke bisa mendapatkan diskon. Nasabah bank mitra juga bisa menukarkan poin reward-nya dengan makan di RM Angke.

Member RM Angke yang disebut Angke Friend, juga bisa menukarkan poin mereka dengan berbagai hadiah yang menarik. “Kami sebut Angke Friend Aktif, jika minimal makan di rumah makan ini lebih dari satu kali dalam sebulan. Jumlah mereka lebih dari  27.000 dan kebanyakan makan di sini lebih dari satu kali dalam sebulan. Bahkan, ada yang seminggu lebih dari satu kali,” ungkapnya.

RM Angke yang dikonsepkan sebagai masakan keluarga yang diangkat ke restoran ini, memiliki lebih dari 100 jenis menu. Meski rumah makan yang sangat besar, namun penyajian di RM Angke bisa bersifat fleksibel. “Kalau yang datang 10 orang ya kenyang. Kalau yang datang dua orang ya tidak kelebihan,” jelasnya.

Suasana di RM Angke juga didesain untuk sebuah keakraban. Bangunannya yang berlantai enam di mana setiap lantainya memiliki luas 1.000 m² ini, didesain tanpa pilar dan tanpa sekat. Sehingga, kemeriahan dan keakraban terlihat dari ujung ke ujung.

Sementara Peter yang berkantor di salah satu sudut rumah makan ini, acapkali menyapa atau menyalami pengunjung yang datang menghampirinya. Atau, sekadar mengangkat tangan sembari menghadiahi senyuman, bagi pengunjung yang berlalu di depannya.

“Bisnis rumah makan selalu prospektif, selama orang masih butuh makan.  Tapi, sangat kompetitif. Untuk itu, perlu strategi jitu,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …