Home / Agro Bisnis / Kecil Burungnya, Besar Nilai Jualnya

Kecil Burungnya, Besar Nilai Jualnya

Kenari

 

Tidak ingin selamanya bergantung pada negara-negara pengimpor kenari, para peternak di Tanah Air “menciptakan” galur murni. Di sisi lain, ternyata, harga jual galur murni 2−3 kali lipat lebih mahal ketimbang indukannya. Sehingga, menjadi incaran para peternak burung mungil ini

 

e-preneur.co. Sebuah data menyebutkan bahwa 40% penduduk Indonesia (yang diasumsikan sebanyak 250 juta, red.) atau sama dengan 100 juta orang, gemar memilihara binatang. Dari 100 juta orang tersebut, 80% atau 80 juta orang di antaranya diketahui suka memelihara binatang dari keluarga burung dan unggas. Sedangkan 5% dari 80 juta orang itu atau sama dengan 4 juta orang, mengkhususkan memelihara Burung Kenari (Latin: Serinus Canarius, red.).

Burung Kenari (selanjutnya, kita sebut kenari, red.), sesuai dengan namanya, ditemukan untuk pertama kalinya di Pulau Canary yang saat itu sedang dijajah Italia. Dalam perjalanannya, burung yang awalnya hanya berbulu warna kuning ini dikembangbiakkan di Italia.

Tapi, lantaran Italia merupakan bagian dari Eropa Barat, pada akhirnya perkembangbiakkan kenari pun menyebar ke negara-negara Eropa Barat lainnya. Seperti Inggris, yang dikenal paling getol mengembangbiakkan burung yang ukurannya hanya sebesar genggaman tangan perempuan dewasa ini.

Urutan berikutnya jatuh pada Jerman dan Belanda. Nah, dari penjajah Belanda itulah, kita mengenal kenari. Berkaitan dengan itu, kenari yang dikembangbiakkan di Indonesia disebut Holland Canary.

Di mancanegara, kenari yang ditemukan untuk pertama kalinya pada abad ke-15 ini, digemari karena keindahan bentuk tubuh dan warna bulunya. Sedangkan di Indonesia, dikenal karena kemerduan suaranya.

Dalam perkembangannya, segala keunggulan yang dimiliki burung ini berbaur menjadi satu. Karena itulah, kenari dikategorikan dalam tiga hal yaitu bentuk tubuh (type canary), warna bulu (colorbred canary), dan suaranya (singer canary).

“Untuk keindahan postur tubuhnya, kita mengenal kenari jenis Yorkshire, Lancashire, Border, Norwich, Gloster, Lizard, dan lain-lain. Untuk warna bulunya, kenari dikategorikan dalam red intensive, yellow intensive, varigata, star blue, red cross, dan sebagainya. Sementara untuk suaranya, kenari memiliki suara yang panjang (tidak terputus-putus), tajam, dan bisa mencapai oktaf dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah secara teratur/berirama. Lebih daripada itu, ia memiliki suara bersifat rolling di mana hal ini tidak dimiliki burung-burung lain. Kenari jenis penyanyi ini, di antaranya Waterslager, Spanish Timbrado, Roller, American Singer, Persian Singer, dan lain lain,” jelas Nungki Soetrisno, penghobi dan peternak Burung Kenari.

Keunggulan lain, kenari lokal gampang dibudidayakan. Tingkat keberhasilannya bisa mencapai 90%. Sebaliknya dengan kenari impor, yang tingkat kegagalannya bisa mencapai 40%.

Harga jual galur murni lebih mahal dibandingkan Yorkshire impor

Sebab, kenari impor harus mengalami proses adaptasi terlebih dulu. Selain itu, memelihara burung ini, boleh dibilang, masih tren baru. Sehingga, masih banyak orang yang mencari-cari cara bagaimana memeliharanya. Ditambah lagi dengan pelitnya para peternak kenari di Eropa, dalam membagi ilmu mereka.

“Tapi, secara umum, lebih mudah ketimbang memelihara burung-burung lain,” kata Nungki, yang membangun “peternakannya” di kawasan Depok.

Kenari impor baru dapat dikawinkan setahun setelah beradaptasi atau berumur sekitar dua tahun. Sedangkan kenari lokal sudah dapat dikawinkan pada umur tujuh bulan.

Setelah itu, kenari betina akan menghasilkan tiga butir telur. Jika sistem pemeliharaannya baik, maka telur-telur tersebut akan menetas semuanya dan anak-anak burung yang dihasilkan akan bertahan hidup dalam waktu relatif lama. Kenari betina yang diternakkan secara manusiawi, hanya akan bertelur 3−4 kali dalam setahun hingga masa reproduksinya berakhir pada umur tiga tahun (kenari mampu bertahan hidup hingga berumur enam tahun, red.).

Setelah masa reproduksinya berakhir, tidak berarti penghargaan terhadap kenari betina akan berakhir pula. Ia masih dapat dipelihara karena keindahan bulu-bulunya. Di samping itu, kehadirannya mampu memancing kenari jantan untuk bersuara.

Berbeda sekali dengan yang terjadi dulu, ketika orang-orang membeli kenari bukan untuk diternakkan. Sehingga, keberadaan kenari betina dipandang sebelah mata pun tidak. Sebab, ia tidak dapat bersuara seperti kenari jantan. Singkat kata, kini, baik kenari jantan maupun betina dihargai sama.

Namun, harga menjadi berbeda ketika berbicara tentang kenari lokal dan kenari impor. Saat baru datang dari negaranya, kenari impor yang biasanya berumur setahun dan belum diketahui kondisinya, sudah dibandrol dengan harga minimal Rp3,5 juta per ekor. Bahkan untuk Holland Canary, yang diketahui harganya paling murah pun masih dihargai setidaknya Rp750 ribu per ekor. Sedangkan kenari lokal yang biasanya sudah dijual pada umur 3−7 bulan, cuma dihargai kurang lebih Rp200 ribu per ekor.

“Setelah burung-burung impor ini dipelihara di Indonesia selama 1−2 bulan, harga jualnya bisa naik 2−3 kali lipat. Karena, burung-burung tersebut sudah terkondisi. Seperti, sudah diketahui jenis kelaminnya. Sehingga, kalau ia berkelamin jantan sudah diketahui mau ngawin atau tidak, kalau mau ngawin sudah diketahui mandul atau tidak, dan sebagainya,” ungkap sarjana ekonomi manajemen dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini.

Tapi, bila pemeliharaan itu berlangsung minimal selama setahun, maka harga burung itu akan turun lagi. Sebab, si burung sudah dianggap tua.

Nah, agar tidak terkecoh saat membeli burung mungil ini, maka Anda harus mengetahui perbedaan antara yang impor dengan yang lokal dengan melihat ring yang terpasang pada kakinya. Ring yang dimasukkan ke dalam salah satu kaki si burung ketika baru berumur 7−12 hari ini, semacam sertifikasi.

Setiap tahun, warna ring berganti sesuai dengan hasil kesepakatan para peternak kenari di luar negeri. Selain itu, pada ring tersebut juga dituliskan berbagai kode, misalnya di negara mana burung ini diternakkan dan kapan.

Contoh, kenari yang diternakkan di Jerman tahun 2009 akan menggunakan ring berwarna ungu dengan grafir DKB09. Sedangkan yang diternakkan di Jerman tahun 2010, memakai ring berwarna oranye dengan grafir DKB10. Dengan demikian, tidak mungkin dipalsukan.

Di Indonesia, mengingat komunitas peternak kenari belum terbentuk dengan baik, maka belum semua kenari yang mereka ternakkan memakai ring. Sementara yang sudah memakai ring, warna ring-nya berbeda-beda untuk setiap peternak. Demikian pula dengan kode-kode yang digunakan, yang lebih mengacu pada nama peternakan atau kota di mana peternak tinggal.

Namun, Anda juga harus waspada dengan ring dan grafir yang terpasang pada kaki burung tersebut. Contoh, bila si burung memakai ring dengan kode 09, berarti burung tersebut sudah berada di tangan si peternak selama dua tahun (asumsi tahun 2011, red.).

Sehingga, ia sudah sangat beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika akan diternakkan di Indonesia, tentu ia membutuhkan masa adaptasi yang relatif lama. Bahkan, ada kemungkinan ia gagal beradaptasi atau langsung mati.

Hal ini, tentu berbeda sekali dengan ring dengan kode 11 yang berarti umur si burung baru berumur setahun atau kurang. Dengan demikian, lebih mudah beradaptasi.

Selain sudah “kadaluarsa”, hal itu juga menandakan jika burung tersebut bermasalah. Dalam arti, tidak laku di pasaran.

“Suatu hal yang tidak wajar. Mengingat, permintaan akan kenari dari negara-negara Eropa Barat bukan hanya datang dari Indonesia, tapi juga dari Australia dan terutama sekali dari Saudi Arabia. Di sisi lain, hasil ternak kenari itu terbatas,” ungkapnya.

Akhirnya, para peternak kenari di Indonesia berusaha mengatasi ketergantungan mereka akan kenari impor, dengan “mencetak” galur murni. Galur murni dihasilkan dari mengawinkan Yorkshire (jenis kenari yang paling diminati, red.) betina yang dibesarkan di Indonesia dengan Yorkshire jantan impor. Keturunan mereka disebut F (filial)1. Harga jual F1 lebih mahal dibandingkan Yorkshire impor.

“Saya menjualnya dengan harga minimal Rp5,5 juta. Karena, sangat susah menternakkannya. Di sisi lain, kenari galur murni ini banyak dicari oleh mereka yang bertujuan menternakkan burung ini,” kata pemilik 60 ekor burung kenari dari 11 jenis ini, seperti Fife Fancy, Parisian Frilled, Gloster, Lizard, Holland, Norwich, dan Spanish Timbrado.

Namun, ketika “unsur” Yorkshire-nya semakin lama semakin berkurang, harga jualnya pun semakin lama semakin turun. Meski, cara menternakkanya semakin lama semakin gampang.

Hal itu terjadi, jika F1 dikawinkan dengan kenari “lokal” yang lain di mana keturunannya disebut F2. Lalu, F2 dikawinkan dengan kenari “lokal” yang lainnya lagi dan keturunannya disebut F3. Begitu seterusnya.

Nungki sendiri mulai menekuni galur murni ini tahun 2010. Tepatnya, setelah ia “membuang” semua kenari silangan yang diternakkannya sejak tahun 2005, dengan modal awal Rp150 ribu.

“Saya memelihara burung ini, karena setelah saya pelajari lebih jauh, ternyata ia menyimpan banyak keunikan. Dari situ, saya browsing dan lalu membeli kenari jantan impor yang saya kawinkan dengan kenari betina lokal hingga berkembang biak. Saya bisa menjualnya secara rutin 12 pasang/bulan, yang per ekornya seharga setidaknya Rp300 ribu,” kisah kelahiran Yogyakarta, 18 September 1963 ini.

Prospeknya? “Akan booming. Seperti, yang pernah terjadi pada tanaman hias,” pungkas Nungki, yang menjual hasil ternaknya by online.

Catatan:
  • Bagi mereka yang ingin menternakkan kenari dalam skala kecil, tidak perlu repot menyediakan ruangan. Bila memiliki teras di belakang rumah, gantungkan saja sangkar-sangkarnya di langit-langit rumah.
  • Dalam skala ini, dapat dikerjakan sendiri.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …