Home / Kiat / Jadikan Kesalahan dan Kegagalan Sebagai Pembelajaran

Jadikan Kesalahan dan Kegagalan Sebagai Pembelajaran

Pernak-pernik Pernikahan

(omah desain)

 

Selama orang-orang masih memiliki keinginan untuk menikah, maka selama itu pula bisnis pernak-pernik pernikahan akan selalu ada. Namun, tidak berarti usaha ini berjalan tanpa kendala, baik interen maupun eksteren. Tapi, Lilis dan omah desain-nya justru menjadikan kendala-kendala itu sebagai proses pembelajaran agar bisa terus bertahan, bahkan berkembang, di bisnis yang penuh persaingan ini. Dan, dia berhasil

 

e-preneur.co. Untuk membidik pangsa pasar yang luas dan terus berkesinambungan, dibutuhkan kejelian dan ketepatan. Dan, Lilis Susanti tahu betul hal itu.

Sarjana D-3 Akademi Desain Visi, Yogyakarta, ini menjadikan bisnis undangan dan pernak-pernik pernikahan lainnya sebagai samudera bisnisnya. Sekali pun, bisnis ini kian menjamur di kotanya.

“Bisnis kami bergerak di bidang jasa yang khusus menangani pernikahan, mulai dari pre wedding, undangan, souvenir, photo wedding, hingga video shooting. Kami juga menerima proyek pembuatan buku, brosur, buku tahunan, dan semua hal yang berhubungan dengan cetak-mencetak,” jelas Lilis, yang menamai usahanya omah desain.

Nama omah desain dicetuskan oleh kelahiran tahun 1986 ini, pada tahun 2004. “Nama omah desain saya pakai, karena waktu itu saya belum mempunyai kantor dan memakai omah (Jawa: rumah, red.) sebagai kantor,” kisahnya.

Sementara dalam menjalankan usaha, ia “menciptakan” kantor di dunia maya melalui website dan facebook, yang diberi nama omahdesain.com. Ternyata, hal itu membuahkan hasil.

Lalu, pada tahun 2006, Lilis “membangun” kantor kecil-kecilan di rumahnya. Dan, lima tahun kemudian, omah desain pun berdiri tegak di tengah masyarakat dan memiliki kantor yang layak, yang terletak di Jalan Ambar Asri, Sleman, Yogyakarta.

Berbicara tentang usahanya, menurut Lilis, prospeknya dari tahun ke tahun semakin berkembang dan tidak ada habis-habisnya. Sebab, orang-orang yang akan menikah pasti membutuhkan bantuan orang lain, untuk melancarkan prosesi pernikahan mereka.

Di sisi lain, hal itu memunculkan persaingan dengan pelaku usaha yang sama, yang semakin lama semakin sengit. “Kebutuhan untuk pernikahan tidak akan pernah berkurang. Dan, karakter konsumen kami rata-rata royal. Mereka mau membayar mahal untuk karya yang kami tawarkan, asal sesuai keinginan mereka,” kiatnya.

Masalah akan selalu muncul di saat-saat tak terduga. Jadi, teruslah siapkan strategi dan berinovasi

Selain itu, ia juga harus mengalami suka-duka ketika berhadapan dengan para klien, yang notabene orang-orang yang sedang berbahagia. “Sukanya, saat klien merasa cocok dan puas. Sedangkan dukanya, saat kena omelan klien lantaran salah cetak atau kendala teknis lain pada waktu proses produksi,” ucapnya.

Ia juga harus menghadapi omset yang menurun drastis, saat memasuki bulan-bulan yang dilarang untuk menikah. Sekadar informasi, menurut Islam dan adat Jawa, terdapat bulan-bulan yang tidak memperbolehkan orang-orang melangsungkan pernikahan. Seperti, bulan puasa dan bulan suro/muharram.

Namun, Lilis tidak menyerah dengan kendala-kendala yang ada. Ia justru belajar banyak hal untuk kemajuan bisnisnya. Misalnya, pada bulan-bulan “sepi”, ia terus berinovasi dan selalu membuat promo-promo menarik, di samping harus terus memantau dan mengawasi proses desain maupun produksi.

Sementara sebagai perempuan yang membawahi pegawai yang mayoritas laki-laki, Lilis menghadapinya dengan santai dan bersahabat. “Saya menerapkan sistem kepercayaan penuh, tanpa aturan yang aneh-aneh. Pokoknya pekerjaan harus beres dan tepat waktu,” tegasnya.

Saat ini, Lilis sudah bisa tersenyum lega melihat omset per bulan omah desain yang terus merangkak naik. Meski, tidak berarti ia sudah bisa bersantai.

Ke depan, ia harus menyiapkan kiat baru dan terus berinovasi agar bisa lebih diterima masyarakat. “Masalah akan selalu muncul di depan, di saat-saat tak terduga. Penting menjadikan semua kesalahan dan kegagalan sebagai sebuah pembelajaran. Di samping itu, harus siap menghadapi respon klien yang makin variatif,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …