Home / Agro Bisnis / Si Gempal yang Has Bright Future

Si Gempal yang Has Bright Future

Ayam Lingnan

 

Beternak ayam, boleh dikata, selalu menguntungkan. Apalagi, bila ayam tersebut mempunyai banyak keunggulan. Sehingga, bisa cepat “dipanen” dan dijual. Seperti, Ayam Lingnan ini

 

e-preneur.co. Lingnan adalah ayam bukan ras (buras) yang berasal dari Provinsi Lingnan, Cina. Ayam pedaging ini memiliki banyak kelebihan, seperti pertumbuhannya jauh lebih cepat ketimbang ayam buras lain, tahan terhadap penyakit, cukup jinak, mudah dipelihara sama halnya ayam buras lokal, dan pakannya sedikit. Selain itu, tektstur dagingnya hampir mirip Ayam Kampung lokal, tapi tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek.

Sementara secara fisik, Ayam Lingnan jantan mempunyai perawakan gemuk dan besar, serta berbulu tebal. Sehingga, ia juga cocok dipelihara di daerah yang beriklim relatif dingin. Di samping itu, binatang ini memiliki sepasang kaki yang kekar dan berwarna putih kekuningan, khas Ayam Kampung. Hal itu, membuatnya dapat bergerak lincah.

Sedangkan si betina, mempunyai ukuran pantat atau sekitar kloaka yang cukup lebar. Sehingga, produksi telurnya lumayan banyak dan ukurannya hampir sebesar telur ayam ras petelur.

Berkat keunggulan-keunggulan tersebut, Ayam Lingnan memperoleh julukan Ayam Jawa Super atau Ayam Kampung Super dan cocok dikembangbiakkan di negara kita. Tapi, untuk mengembangbiakkannya, ayam berbadan gempal ini harus dipelihara terlebih dulu.

Selanjutnya, dikawinkan dengan Ayam Kampung pribumi. Tujuannya, tentu saja agar dihasilkan kuthuk (Jawa: anak-anak ayam, red.) yang cepat besar. Sehingga, cepat “panen” yang berarti pula hemat waktu dan biaya pemeliharaan.

“Imbasnya, perputaran modal dan keuntungannya pun cepat. Apalagi, kalau kita sudah mempunyai indukan Lingnan asli. Kita tinggal ‘memproduksinya’ sendiri. Tidak perlu membeli DOC (Day Old Chicken = bibit ayam, red.)nya dari peternak lain,” kata Alief Ardi, peternak ayam dari Kendal, Jawa Tengah.

Alief mencontohkan sepasang Ayam Lingnan (asli) yang pertama kali dipeliharanya, pada sekitar tahun 2003. Saat itu, ayam-ayam tersebut masih berumur lebih kurang dua minggu.

Ayam Lingnan hemat waktu dan biaya pemeliharaan

Lalu, pada saat berumur 2,5−3 bulan, dengan pemberian pakan yang baik yang diramunya sendiri, bobot ayam ini pun melonjak hingga 1 kg. Sedangkan jika diberi pakan buatan pabrik, berat badannya bisa lebih daripada itu. Di luar masalah pakan yang diberikan, Ayam Lingnan jantan yang disilangkan dengan Ayam Kampung betina atau Ayam Pelung betina juga akan menghasilkan anak-anak ayam silangan yang cepat besar.

Bertolak dari uji coba itulah, setahun kemudian, ia mulai serius menternakkan Ayam Lingnan dengan modal awal Rp1 juta. Selanjutnya, sarjana kehutanan dari Institut Pertanian Bogor ini, membelanjakan uang itu untuk membeli dua anakan Ayam Lingnan asli berumur seminggu dan beberapa Ayam Kampung lokal, pakan, serta untuk membiayai pembuatan kandang dari kayu dan bambu.

Tahap berikutnya, mengawinkan Ayam Lingnan pada umur 7−8 bulan. Karena, pada umur itu, salah satu anggota keluarga unggas ini dinilai sudah mulai produktif. Setelah dikawinkan, si induk yang memiliki periode sangat produktif pada umur 11 bulan−2 tahunan itu akan bertelur sebanyak 15−20 butir per periode, tergantung pada kualitas pakan, vitamin, mineral, dan cuaca.

Dari sekian telur yang dihasilkan, 95% di antaranya akan bertahan hidup hingga siap jual. Sementara si induk, ketika masa produktifnya sudah berakhir (pada umur lebih dari tiga tahun, red.), maka berakhir pula masa hidupnya dan selanjutnya dapat kita temui di meja makan.

“Saya menjual Ayam Lingnan baik saat masih DOC, ayam muda, maupun ayam remaja. Bahkan, bila perlu indukannya pun saya jual. Sebab, setiap tahap umur ada saja yang membutuhkan,” ucap laki-laki, yang juga berprofesi sebagai guru swasta ini. Sementara untuk membeli bibit ayamnya, ia menyarankan untuk menghubungi Balai Penelitian Ternak Temanggung, Jawa Tengah.

Untuk pemasarannya, Alief “melempar” hasil ternaknya ini ke Semarang, Pati, Brebes, Tersono, Batang, dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Bahkan, hingga ke Jakarta, Bogor, dan Cirebon. “Ayam Lingnan masih langka di Indonesia. Karena itu, berapa pun produksi DOC pasti akan diserap pasar. Singkat kata, Ayam Lingnan sangat prospektif, has bright future!” tegas kelahiran Semarang, 27 April 1973, ini. Nah, tunggu apalagi?

 

Catatan 1
Panca Tahapan Memelihara Ayam Lingnan

Tahap 1: Pemeliharaan DOC

Pemeliharaan DOC merupakan kegiatan yang paling penting. Mengingat, pertumbuhan dan kesehatan ayam diawali dari pemeliharaan sejak kecil. Karena itu:

  • DOC yang baru menetas harus langsung dipisahkan dari induknya atau jika menetasnya melalui mesin tetas harus langsung diambil.
  • Yang masih berumur 1−25 hari dipelihara dalam kotak atau kandang yang rapat, yang terbuat dari kardus atau papan. Selanjutnya, diberi lampu supaya hangat dan agar pada malam hari mereka tetap dapat makan.
  • Untuk ukuran kandang, disesuaikan dengan jumlah anak ayam di dalamnya. Yang penting, tidak terlalu padat. Sehingga, jumlah pakan dan minum terbagi merata ke semua anak ayam. Sementara pakan yang diberikan berupa pakan pabrik (BR1), yang mengandung protein minimal 30%−40% guna memacu pertumbuhan anak ayam. Untuk minumannya, harus diganti setiap hari.
  • Untuk menjaga kesehatan, beri mereka vitamin alami atau ramuan dari dedaunan. Sedangkan untuk menghindarkan mereka dari penyakit tetelo, beri mereka vaksinansi saat berumur empat hari, empat minggu, empat bulan, dan seterusnya.

  Tahap 2: Pemeliharaan ayam dara

  • Pada umur 25 hari−1,5 bulan, anak-anak ayam tersebut mulai ditumbuhi bulu yang lebat. Sehingga, lampu boleh dikurangi sedikit demi sedikit sampai akhirnya tidak menggunakannya lagi.
  • Tempatkan mereka di kandang dari bambu dengan alas bambu yang renggang atau langsung diumbar dengan alas kandang dari sekam. Yang penting, kotorannya dibersihkan secara teratur.
  • Pakan dan minuman diberikan tiap kali habis. Pakan yang diberikan bisa dimodivikasi sendiri atau jika memiliki modal bisa dilanjutkan dengan pakan pabrik.

Tahap 3: Pemeliharaan ayam muda

  • Pada umur 1,5–5 bulan, pakan pabrik sudah bisa mulai dikurangi dan digantikan dengan dedak dan jagung kuning. Tapi, dedaunan tetap harus diberikan. Karena, makanan ini berfungsi sebagai vitamin dan agar tidak sakit.
  • Pakan yang diberikan boleh basah atau kering dan jumlahnya secara bertahap terus dinaikkan, sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya. Pakan ini diberikan setiap pagi dan sore.
  • Ayam sudah boleh diumbar, tapi disesuaikan dengan umurnya.

Tahap 4: Pemeliharaan ayam remaja

  • Pada umur 5−8 bulan, khusus untuk pakannya, sebaiknya diberi makanan yang bervariasi. Seperti singkong, pisang, talas, atau ubi dan sesekali diberi obat cacing.

Tahap 5: Pemeliharaan ayam dewasa untuk indukan

Untuk menghasilkan anak-anak Ayam Lingnan asli tentu caranya dengan mengawinkan sesama Ayam Lingnan asli. Nah, pada pemeliharaan untuk perkawinan, sebaiknya:

  • Buatlah sekat-sekat pada kandang. Lalu, pada setiap sekat, letakkan 1 ekor Ayam Lingnan jantan dan 7−9 ekor Ayam Lingnan betina. Untuk pakannya, berikan pakan dalam jumlah banyak dan berkualitas bagus, serta tambahkan dedaunan atau buah-buahan. Sehingga, perkawinan itu akan menghasilkan telur yang fertil.
  • Ambil telur-telur itu setiap hari, untuk dikumpulkan dan ditetaskan dengan mesin penetas. Karena, biasanya induk Lingnan asli tidak mau mengeram.

                         

Catatan 2   
  1. Lama pemeliharaan enam bulan.
  2. Biaya bisa ditekan bila peralatan pakan dan minum dibuat sendiri, serta vitamin diramu sendiri.
  3. Kandang dibuat dari bambu dengan atap seng yang tipis (bisa digunakan sampai 5 tahun).
  4. Harga pakan diperhitungkan eceran, sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …