Home / Senggang / Resto Area / Bisa Untuk Sarapan, Bisa Untuk Makan Malam

Bisa Untuk Sarapan, Bisa Untuk Makan Malam

Sego/Nasi Liwet

 

Solo yang dulu dikenal sebagai Kota yang Tidak Pernah Tidur ini, juga dikenal sebagai kota untuk ngeplek-ngepleke ilat. Mengingat, beragam makanan berat dan ringat dapat dijumpai di kota ini dari sarapan hingga makan malam. Salah satunya, Sego atau Nasi Liwet dengan sentranya pada malam hari di Keprabon

 

e-preneur.co. Menjelang lebaran lalu, Rusdian Lubis, kontributor eksklusif e-preneur.co, mudik dari Jakarta ke Surabaya. Selain mudik, Yan, sapaan akrabnya, juga melakukan wisata kuliner hampir di setiap tempat yang disinggahi.

e-preneur.co menuliskan kembali ulasannya secara acak. Jika di edisi lalu e-preneur.co menuliskan pengalaman Yan ketika menyantap Nasi Jamblang, kali ini tentang Sega/Sego Liwet atau Nasi Liwet, nasi khas Solo.

Solo memiliki beragam kuliner, dari Sego Liwet, Tengkleng, Wedang Kacang hingga yang eksotik dan mulai sulit dijumpai seperti Gempol Pleret. Sebab, Wong (Jawa: orang, red.) Solo rata-rata keplek ilat (Jawa: suka makanan enak, red.).

“Malam itu, saya direkomendasikan makan Sego Liwet Keprabon Wongso Lemu. Sekadar info, Keprabon adalah sebuah jalan kecil yang penuh dengan berbagai resto tradisional,” kisah Yan, yang kelahiran Solo dan tinggal di Solo sampai kelas III Sekolah Dasar, sebelum akhirnya menjadi Anak Kolong di Banyumas.

Namun, sesampainya di jalan itu, ia kaget. Sebab, semua warung Sego Liwet mencantumkan nama Wongso Lemu Asli. “Saya kontak lagi si pemberi info. Ia mengatakan: Sing dodol galak (penjualnya galak),” lanjutnya.

Sego Liwet adalah nasi gurih yang disajikan dengan Sayur Labu Siam, suwiran Daging Ayam, dan kumut atau areh yang dihasilkan dari olahan santan

Meski agak sulit, akhirnya Yan menemukannya. Ternyata, Sego Liwet Wongso Lemu dengan penjualnya yang galak itu terletak agak di ujung jalan.

“Benar, Bu Wongso melayani dengan wajah cemberut. Permintaan tambahan atau sedikit kritik pada paket makanan, misalnya minta Daging Ayam suwirnya dibanyakin, dianggapnya ‘challenge to her authority’. Jadi, take it or leave it sajalah,” pungkas Yan, yang menyantap Sego Liwet sambil ditemani Macapat Asmarandana yang ditembangkan oleh seorang Ibu pemain siter.

Dilihat dari sejarahnya, meski dikenal sebagai makanan khas Kota Solo, tapi Sego Liwet merupakan makanan asli dari Baki, Sukoharjo. Kota kabupaten ini terletak kurang lebih 10 km dari Solo.

Sego Liwet mirip dengan Nasi Uduk. Dalam arti, sama-sama dimasak dengan santan. Tapi, nasi gurih ini disajikan dengan Sayur Labu Siam, suwiran Daging Ayam, dan kumut atau areh yang dihasilkan dari olahan santan.

Pada mulanya, Sego liwet dijajakan secara berkeliling dengan menggunakan tenggok (Jawa: bakul dari anyaman bambu, red.) oleh Mbok-mbok, yang menjualnyanya di pagi hari. Karena itu, Masyarakat Solo menyantap Sego Liwet untuk sarapan.

Dalam perkembangannya, Sego Liwet juga disantap pada malam hari di berbagai warung lesehan. Warung lesehan Sego Liwet yang terkenal terletak di Keprabon.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …