Home / Inovasi / Ketika Kertas pun dapat Diukir

Ketika Kertas pun dapat Diukir

Pergamano

 

Banyak kerajinan berbahan dasar kertas atau paper art yang telah lama kita kenal dan lalu kita tekuni. Masing-masing memiliki tingkat kesulitan tersendiri, di samping harga jual yang menggiurkan. Seperti, pergamano yang meski sangat sulit proses pembuatannya, tapi harga jualnya tinggi. Bahkan, mampu memberi pemasukan berlipat-lipat

 

e-preneur.co. Selalu ada hal baru yang tercipta dari selembar kertas. Seperti, origami atau teknik melipat-lipat kertas, paper quilling atau seni menggulung kertas, dan deco book atau seni menghias buku.

Kerajinan berbahan dasar kertas atau paper art tersebut, memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Sehingga, hanya orang-orang yang memiliki waktu luang yang cukup panjang dan tekun yang mampu membuatnya.

Sejak beberapa waktu lalu, muncul satu lagi kerajinan berbahan dasar kertas yang disebut parchment craft atau pergamano. Paper art ini, memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi ketimbang kerajinan berbahan dasar kertas yang disebutkan di atas.

Mengingat, hasil dari seni mengukir kertas ini sangat indah. Sehingga, harga jualnya pun terbilang mahal.

Pergamano, sama halnya dengan ketiga kerajinan berbahan dasar kertas tersebut di atas, juga tidak berasal dari Indonesia. Adalah Marina Wiyadharma, yang memperkenalkannya di Indonesia pada tahun 1997.

Menurut Marina, untuk bisa menjadi orang yang piawai dalam bidang ini tidak mudah. Di samping itu, untuk memperoleh pengakuan setelah selama beberapa waktu mempelajari teknik pergamano, seseorang harus mengikuti ujian dari guru besar pergamano di Belanda.

“Sertifikatnya dikeluarkan langsung oleh Martha Ospina. Beliaulah yang menguji hasil karya para murid dan menentukan lulus atau tidak,” ujar Marina Wiyadharma, Country Coordinator Pergamano Indonesia.

Marina begitu lulus dan mendapat sertifikat, langsung didapuk menjadi Country Coordinator Pergamano Indonesia. Karena, ia merupakan orang Indonesia pertama yang berhasil memperoleh sertifikat internasional.

“Saya memang orang Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan lisensinya. Untuk itu, saya berhak untuk mengajarkan kembali teknik pergamano,” jelasnya.

Dengan pergamano dapat dihasilkan triple income

Marina bukan hanya mengajarkan ilmu yang ia peroleh, melainkan juga menjual hasil karyanya atau menjadikannya bisnis. Maklum, harga jual paper art ini, boleh dikata, menggiurkan.

“Selain mengajar, saya juga menjual kerajinan kertas ini. Bahkan, saya pernah iseng membuat kebaya dengan teknik pergamano,” katanya.

Sejauh ini, mayoritas orang mengetahui pergamano hanya dalam bentuk kartu ucapan. Padahal, pergamano juga dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, selain kebaya tersebut di atas. Misalnya, dalam bentuk sepasang selop, tas tangan, kap lampu, hiasan dinding, kotak kado, kipas, jam dinding, keranjang mini, vas bunga berikut bunga-bunga kertasnya, hingga bingkai foto.

Pergamano menggunakan kertas kalkir yang karakternya lebih kuat daripada kertas pada umumnya. Tapi, tetap tidak boleh terkena air,” ungkapnya.

Untuk itu, untuk pergamano yang cenderung banyak bersentuhan dengan keringat, seperti kebaya, selop, dan tas, Marina menganjurkan untuk berhati-hati saat menggunakannya. Sebab, sangat disayangkan, bila hasil karya unik yang susah payah dibuat itu rusak lantaran lalai.

Marina memang sangat concern dengan setiap pergamano yang ia buat. Karena itu, ia tidak mentolelir setiap kesalahan saat membuat kerajinan tangan ini.

“Saya selalu berusaha membuat karya ini sesempurna mungkin. Bahkan, ketika mengajarkannya ke para murid, selalu saya katakan jangan sampai salah. Perlu diketahui, metode pembuatan pergamano menuntut ketelatenan tinggi. Sebab, sangat riskan timbulnya kesalahan. Untuk itu, selalu saya tekankan jika muncul kesalahan harus segera diperbaiki. Jangan disepelekan. Karena, meski kesalahan itu kecil, hasil akhirnya akan tetap terlihat cacat,” tegasnya.

Tidak mengherankan, bila hasil karya Marina disukai banyak kalangan. Meski begitu, Marina tidak bisa menghasilkan karya secara rutin seperti usaha rumahan pada umumnya. Mengingat, untuk membuat pergamano dibutuhkan waktu yang relatif lama.

“Untuk membuat karya yang sederhana saja, semisal kartu, saya hanya mampu membuat 2‒3 buah sebulan. Kecuali, jika kondisinya sedang memungkinkan, saya juga akan membuat beberapa karya lain,” ucapnya.

Namun, rak panjang di outlet-nya yang terletak di Kepala Gading, Jakarta Utara, tidak pernah kosong. Karena, beberapa muridnya sering menitipkan hasil karya mereka di sana.

Di sisi lain, jika ada pesanan khusus, Marina tidak pernah menampik. Berapa pun banyaknya pesanan itu. Untuk itu, ia akan meminta bantuan para guru yang lain yang notabene mantan muridnya. “Supaya selesai tepat waktu,” ujar Marina, yang mematok hasil karya dengan harga Rp5 ribu‒lebih dari Rp500 ribu.

Prospeknya? “Boleh dikata, cerah. Sebab, seseorang yang sudah menjadi ahli pergamano bisa menghasilkan triple income,” pungkas Marina, yang pernah menjual kipas berbentuk kepala burung yang dibingkai buatannya dengan harga Rp3 juta.

Dikatakan begitu, lantaran yang bersangkutan tidak hanya akan memperoleh pemasukan dari penjualan hasil karyanya. Tapi, juga dari melatih/mengajar atau membuka kursus dan penjualan peralatan untuk membuat pergamano, yang sejauh ini masih harus diimpor dari Belanda.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …