Home / Celah / Peluang Menjanjikan dari Ikan Alam

Peluang Menjanjikan dari Ikan Alam

Crispy Pora-Pora

 

Ikan Pora-pora, selama ini dikenal masyarakat di sekitar Danau Toba hanya sebagai ikan alam. Tapi, Parlin melihat celah bisnis yang sangat menggiurkan pada ikan ini. Ia membuktikannya dengan menghasilkan Crispy Pora-Pora dan turunannya

 

e-preneur.co. Jika Anda pernah menginap di seputaran Danau Toba dan menikmati keindahan salah satu danau terbesar di dunia itu, Anda akan melihat ikan-ikan kecil berwarna kehitaman yang selalu ingin dekat dengan manusia. Itulah Ikan Pora-pora (baca; pora-pora, red.), salah satu ikon Danau Toba.

Kini, pora-pora tidak hanya dikenal sebagai ikan penghias danau kebanggaan Masyarakat Batak itu, tapi juga sebagai makanan kemasan yang enak dan bergizi. Selain itu, juga bernilai jual tinggi.

Adalah Parlin Manihuruk, yang pertama kali mencetuskan pengembangan pora-pora menjadi santapan siap saji bernama Crispy Pora-Pora. Ia memulai usaha bukan melulu tentang laba-rugi, melainkan karena kecintaannya terhadap Danau Toba. Ia ingin masyarakat di sekitarnya memperoleh manfaat dari apa yang dihasilkan danau tersebut dan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

“Saya anak kampung. Selalu akrab dengan menyelam, serta menangkap dan membakar ikan di Danau Toba. Tahun 1980-an, populasi ikan di danau ini berkurang. Akhirnya, mulai tahun 2003, saya galakkan kegiatan tabur ikan di danau yang saat itu hanya dihuni 11 ribu ekor. Termasuk, pora-pora. Saya selalu menyuarakan: kalau Anda cinta Danau Toba, taburlah ikan satu ekor,” kenangnya.

Selepas kampanye tabur ikan, populasi ikan kian banyak. Salah satunya, pora-pora. Selain itu, juga terjadi perkawinan silang ikan asli danau tersebut dengan ikan yang ditabur masyarakat.

Ikan Pora-pora jauh lebih enak dan sehat ketimbang Baby Fish. Karena, mereka makan gulma yang ada di danau

Tahun 2008, mantan Dosen Universitas Nomensen, Medan, ini mendapati pertanian di sekitar danau rusak, lantaran cuaca ekstrim. Imbasnya, masyarakat yang biasa bertani bawang beralih menjadi nelayan.

“Waktu saya cek, ternyata yang mereka tangkap untuk dimakan berlebih. Bahkan, setelah dijual ke luar daerah,” kisahnya.

Lalu, ia mengamati di sekitar pasar-pasar tempat pora-pora didistribusikan. Banyak peminatnya. Termasuk, Ibu-ibu di dekat rumahnya (Kawasan Bandar Khalifah, red.). Alasan mereka, ikan ini murah.

“Dari situlah, saya berpikir mengapa ikan ini tidak diproduksi siap saji saja. Apalagi, persediaannya membludak,” lanjutnya.

Sebelum memulai usaha, Parlin membawa contoh pora-pora sebanyak 5 kg ke Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Bogor. Di BRPBAT, ia menemukan ikan yang mirip dengan pora-pora yang disebut orang Bogor sebagai Baby Fish. Namun, jika pora-pora tumbuh alami, maka Baby Fish ditambak.

Di BRPBAT pula, ia mendiskusikan cara mengolah ikan ini. Selanjutnya, membawa dua orang dari BRPBAT ke Danau Toba. “Mereka menyimpulkan, pora-pora jauh lebih enak dan sehat. Karena, makan gulma di danau. Sejak saat itu, saya semakin semangat,” tambahnya.

Berikutnya, mereka mendesain mesin untuk mengolah ikan. Ada tiga mesin saat itu, yang difungsikan untuk menggoreng dan mengeringkan minyak.

Lantas, Parlin membuat kelompok-kelompok nelayan di Danau Toba. Tepatnya, di sekitar Aji Bata dan Parapat. Imbasnya, masyarakat di sekitar danau tidak hanya mencari ikan, tapi juga mendapatkan pekerjaan baru yaitu menyiangi (membersihkan ikan) dan kemudian menggorengnya dengan mesin, yang disediakan untuk kelompok nelayan tersebut.

Menurut Parlin, di Danau Toba, setiap hari, hampir 40 ton pora-pora hasil tangkapan nelayan didistribusikan ke Jambi, Padang, Bengkulu, Batam, dan lainnya. “Saya libatkan masyarakat. Karena, ingin menaikkan taraf hidup mereka,” ujarnya.

Ikan-ikan itu hanya dihargai Rp2.000,-/kg. Tapi, melalui kelompok nelayan yang ia bentuk, ikan-ikan itu dibeli dengan harga Rp3.000.-/kg.

“Selanjutnya, saya ajarkan mereka menggunting (membersihkan) ikan. Hasilnya, saya beli dengan harga Rp5.000,-/kg. Setelah itu, saya minta mereka membumbui dan menggorengnya. Hasilnya, saya beli dengan harga Rp80.000,-/kg. Terakhir, saya kemas sendiri dalam kotak kardus menjadi Crispy Pora-Pora,” paparnya.

Tanpa disangka, produk yang dikemas dengan ukuran 100 gr dan dibanderol dengan harga Rp15 ribu, serta dengan daya tahan delapan bulan ini ketika dibawa Parlin ke beberapa pameran, langsung menjadi buruan. Tahun 2011, Parlin pun mendirikan CV Crispy Pora-Pora dan mulai melebarkan pengenalan produk ke Jakarta, Surabaya, Penang, dan lain-lain. Kini, peminatnya datang dari Aceh, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, dan tentu saja Medan, serta beberapa menteri yang kebetulan singgah ke Danau Toba.

Perjalanan bisnis Crispy Pora-Pora memang tidak langsung melejitkan keuntungan. Semua berjalan pelan.

Rata-rata dalam sebulan, alumnus Fakultas Teknik Universitas Nomensen ini menjual sekitar 2.000 kardus. Padahal, kapasitas produksinya bisa lebih banyak jika dikaitkan dengan kemampuan mesin, yang mampu menampung 1.800 kardus/hari dengan hanya lima jam kerja.

“Belum saya lakukan itu. Karena, pasarnya belum kencang. Produksi masih saya batasi. Tapi, tahun 2013, saya targetkan bisa mencapai posisi enak di bisnis ini. Sebab, Jakarta sudah memesan 1.000 kardus/bulan,” ucap Parlin, yang sudah balik modal dari modal awal Rp60 juta.

Sejatinya, Parlin mempunyai target lebih besar yakni bisa memproduksi Crispy Pora-Pora dengan kualitas rasa yang sama di seluruh Danau Toba seperti yang sudah dipasarkannnya. Dengan demikian, terjadi penyerapan tenaga kerja.

“Saya katakan kepada pemerintah (Sumatera Utara/Sumut) ketika diundang seminar bahwa dasar saya ingin membuat ini yaitu pertama, mengurangi pengangguran. Saat ini, katanya, Indonesia krisis pangan. Padahal, ada kok makanan dari air tawar dengan protein bagus,” ujar penerima SNI Nominee Award tahun 2012 ini.

Kedua, ia menambahkan, mengapa ikan sarden dari Cina bisa datang/dimasukkan ke Surabaya dan dikalengkan, lalu mengapa ikan danau tidak bisa? “Ketiga, produk ini bisa menambah jumlah oleh-oleh khas Sumut,” imbuhnya.

Di samping itu, ia berencana mengembangkan limbah minyak bekas menggoreng pora-pora menjadi sabun dengan formula khusus. “Bisa dibilang, ini produk turunan. Kami akan menamainya Sabun Pora-pora,” pungkasnya.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …