Home / Inovasi / Mengubah yang Pahit Menjadi Manis

Mengubah yang Pahit Menjadi Manis

Halua

Setiap wilayah di Indonesia mempunyai makanan atau minuman khas, yang tidak akan tergusur oleh arus moderenisasi. Salah satunya, Halua atau manisan khas Melayu

 

Halua bisa dinikmati oleh segala umur. Termasuk, anak-anak yang tidak doyan sayur

 

e-preneur.co. Sumatera Utara merupakan daerah dengan sejuta pesona kuliner. Di sini, banyak jenis makanan yang menerbitkan air liur. Satu di antaranya yaitu camilan khas Melayu.

Banyak peluang menjanjikan di ranah ini. Seperti mengolah buah dan sayur-mayur yang berasa pahit dan pedas menjadi panganan manis dan nikmat atau manisan khas Melayu yang biasa disebut Halua, yang dilakoni Harimah.

Di tempat usahanya yang terletak di Jalan Flamboyan Raya Lingkungan III, Medan, Ima, begitu sapaan akrabnya, menjual 20 varian Halua yang menggugah selera. Di antaranya, Cabai Merah, Pepaya, Bunga Pepaya, Asam Glugur, Buah Renda, Jeruk Kesturi, Tomat, Labu Jepang, Nenas, Paria, Kolang kaling, dan Wortel.

Tidak hanya Halua, usahanya yang diberi nama Pondok Halua Delima ini juga menjajakan beragam kue-kue tradisional Melayu yang nyaris punah di pasaran. Seperti, Bika Kampung, Kue Danga, Rasida, dan Penyaram. “Camilan khas Melayu ini sudah minim kompetitior, tapi tetap bisa bertahan sejak saya membuka usaha ini tahun 2002,” kata perempuan berumur 42 tahun ini.

Ima yang sudah dari SMP (Sekolah Menengah Pertama) pandai membuat manisan dan kue secara otodidak ini, memulai usahanya dengan modal sekitar Rp25 ribu, pada tahun 1990-an. Tanpa disangka, buatan tangan tamatan SMA (Sekolah Menengah Atas) ini diminati.

Kemudian, Ima dan saudaranya mengikutkan Halua-nya dalam sebuah pameran. “Dalam pameran yang berlangsung tahun 2001 itu, saya bertemu istri almarhum Tengku Rizal Nurdin (Gubernur Sumatera Utara, red.). Beliau mengatakan kalau buatan saya bagus dan meminta saya bergabung dengan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional) daerah. Dari situlah, saya memulai semuanya sebagai sebuah usaha,” kenangnya. Selanjutnya, nama Halua Delima dijadikan tajuk. Karena, Halua dalam Bahasa Melayu berarti manisan.

Saat membuka usaha, Ima mempunyai misi khusus bagaimana sayuran yang pahit, juga cabai yang pedas, bisa dinikmati oleh segala umur. Termasuk, anak-anak yang terkenal tidak doyan sayur. “Saya inovasikan manisan dari sayur untuk menjadi camilan yang renyah dan rasa pahitnya hilang,” jelas Ima, yang manisan Cabainya merupakan manisannya yang paling terkenal.

Saat ini, rata-rata diproduksi 100 kg Halua/bulan untuk semua jenis. Jumlah ini meningkat mencapai 500 kg, jika jelang lebaran. Untuk memperoleh Halau yang bisa bertahan sampai setahun, karena menggunakan gula murni sebagai pengawetnya, konsumen bisa membelinya ke berbagai supermarket dan toko roti di Medan.

Atau, di tokonya yang buka sejak pukul 08.00 hingga 22.00. Di sini, Ima melayani pembelian partai besar dan kecil. Dalam arti, konsumen bisa membeli Halua dalam bentuk kiloan di mana harga per kilogramnya Rp100 ribu–Rp350 ribu. Selain itu, juga tersedia dalam bentuk kemasan 250 gr dengan harga Rp35 ribu.

“Tergantung konsumen mau beli berapa. Satu ons pun saya layani,” pungkas Ima, yang selain ingin mempertahankan kuliner tradisional Melayu, juga ingin mensejajarkan produknya dengan jajanan atau oleh-oleh khas Medan yang lain.

 

 

Check Also

Bukan Sekadar Rekam Jejak Sebuah Perjalanan Cinta

Animasi Wedding Lebih hemat biaya dan waktu, serta tingkat kemiripan wajah dengan aslinya mencapai 85%. …