Home / Agro Bisnis / Pasarnya Masih Akan Selalu Ada

Pasarnya Masih Akan Selalu Ada

Sansevieria

 

Pamor Sansevieria memang sudah menurun saat ini. Tapi, pasarnya masih akan selalu ada. Karena, si Lidah Mertua ini bukan sekadar tanaman hias, melainkan juga memiliki sejuta manfaat

 

Sansevieria memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki tanaman hias daun yang lain

 

e-preneur.co. Sansevieria. Setiap orang sudah mengetahui, setidaknya pernah mendengar atau melihat tanaman hias daun ini. Maklum, beberapa waktu lalu, bersama dengan “rekan-rekannya” seperti Anthurium, Adenium, Aglonema, dan Puring, tanaman ini merajai kancah bisnis tanaman hias.

Hal itu, terlihat dari harga mereka yang dibanderol dengan nilai yang sangat tidak masuk di akal. Imbasnya, para petani dan pedagang tanaman hias, khususnya tanaman hias daun, pun berubah menjadi orang kaya baru. Salah satunya yaitu Rizal, yang pernah suatu hari melakukan transaksi Sansevieria sebesar Rp350 juta!

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap tanaman-tanaman ini semakin lama semakin merosot. Hal ini, terlihat dari semakin menurunnya nilai jual mereka.

Contoh, Anthurium yang pada tahun 2006 dihargai Rp2 juta/pohon, empat tahun kemudian merosot menjadi sekitar Rp200 ribu/pohon. Bahkan, dalam pameran Flora dan Fauna Jakarta yang rutin diadakan setiap tahun, si Raja Daun ini sudah tidak dijumpai lagi.

Berbeda dengan Sansevieria, demikian menurut Rizal, yang meski harganya juga cenderung menurun, tapi peminatnya masih terus ada. Malah, muncul para peminat baru, sejalan dengan bermunculannya varian-varian baru.

“Mungkin, ini juga disebabkan oleh keunggulan-keunggulan Sansevieria yang tidak dimiliki tanaman hias daun yang lain,” kata pria, yang juga Ketua Bidang  Pemberdayaan, Pemanfaatan, dan Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan di Kompensasi (Komunitas Pecinta Sansevieria Indonesia) ini.

Beberapa keunggulan tersebut yaitu pertama, pada umumnya, tanaman mengeluarkan oksigen pada pagi hari dan menyerap oksigen pada malam hari. Sehingga, tidak layak ditempatkan di dalam ruangan.

“Lain halnya dengan Sansevieria, yang mengeluarkan oksigen sepanjang waktu. Sehingga, tidak berbahaya bila ditempatkan di dalam ruangan. Selain itu, nilai estetikanya tidak kalah dengan tanaman hias lain. Karena itu, Sansevieria juga sering digunakan untuk menghiasi taman,” lanjutnya.

Kedua, untuk penanamannya, tanaman yang juga dikenal dengan nama Lidah Mertua ini tidak membutuhkan lahan yang luas. Di samping itu, ia dapat ditanam dengan berbagai cara yaitu gen atau generatif, penyilangan serbuk, tancap daun, rimpang, dan sebagainya. “Bahkan, dicampakkan begitu saja, dia bisa tumbuh,” ujar pemilik lahan seluas 1 ha di Karawang, Jawa Barat, yang ditanami 75 ribu pohon Sansevieria dari 150 jenis ini.

Ketiga, ia tahan air dan tahan panas. “Untuk penyiramannya, tidak perlu dilakukan setiap hari. Disiram seminggu sekali juga tidak masalah,” imbuhnya.

Keempat, tanaman yang memiliki daun runcing seperti mata pedang (sehingga ada yang menyebutnya sebagai tanaman pedang-pedangan, red.) ini, antipolutan atau mampu menyerap berbagai macam bau (termasuk asap rokok, red.). Selain itu, juga antiradiasi atau bisa menyerap berbagai bahan kimia yang dikeluarkan oleh perabotan rumah tangga dan partikel bebas yang dikeluarkan oleh layar komputer, televisi, dan lain-lain. Hal ini, sesuai dengan hasil penelitian selama 25 tahun yang dilakukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yang menyatakan bahwa Sansevieria mampu menyerap 107 polutan udara.

Kelima, sebagai tanaman herbal, salah satu tanaman purba ini dapat digunakan sebagai obat luka ringan, penyembuh ambeien dan diabetes, dan sebagainya. Bahkan, Korea dan Jepang sebagai importir Sansevieria terbesar telah mengolah suatu zat yang terkandung dalam tanaman ini menjadi ekstrak antikanker.

Keenam, seratnya yang sangat liat dapat digunakan sebagai bahan baku pakaian. Ketujuh, Sansevieria dapat dijual baik indukan maupun anakannya, tergantung pada permintaan konsumen.

“Biasanya, indukan dijual setelah anakannya tumbuh. Tapi, jika baik indukan maupun anakan diminati konsumen, petani masih bisa menanamnya lagi dengan mencacah-cacah daun yang tersisa. Lantas, menancapkannya di tanah. Kasarnya, jual satu, kembangin lima,” ucap kelahiran Binjai, 23 Januari 1973 ini.

Keunggulan kedelapan, tanaman ini memiliki 700 jenis dan akan terus bertambah jenisnya melalui persilangan yang dilakukan secara sengaja, untuk “melahirkan” varian-varian baru yang sifatnya langka. Dan, last but not least, Sansevieria dapat mengalami mutasi.

“Mutasi (mutant) pada Sansevieria, terjadi karena perubahan kromosom secara alamiah. Karena itu, Sansevieria mutant tidak selalu muncul. Tapi, ketika suatu jenis Sansevieria mengalami mutasi, maka selanjutnya (sebagai indukan) ia akan ‘melahirkan’ anakan-anakan Sansevieria mutant pula,” jelas Rizal, yang memulai bisnis Sansevieria pada tahun 2006 dengan modal awal Rp500 ribu ini.

Uniknya, mutasi yang sebenarnya kelainan atau kecacatan ini justru dihargai mahal oleh konsumen. Contoh, Sansevieria Variegata normal berwarna hijau, maksimal dihargai Rp100 ribu/pohon. Tapi, setelah mengalami mutasi akan berubah menjadi kuning atau putih dengan sedikit garis hijau di pinggirnya, harganya pun melonjak sampai 100 kali lipatnya.

Tentang harga, ia melanjutkan, sebenarnya lebih ditentukan oleh apresiasi konsumen terhadap tanaman yang mampu bertahan hingga puluhan tahun, tanpa pernah merontokkan daunnya ini. Misalnya, saat booming, Sansevieria dihargai Rp50 juta–Rp100 juta per pohon, tapi kini hanya sekitar Rp2.500,- sampai Rp10 ribu per pohon. Demikian pula dengan bibitnya, yang cuma dihargai Rp5 ribu/pohon pada beberapa jenis tertentu dan mencapai Rp500 ribu untuk beberapa jenis yang lain.

“Namun, Sansevieria masih mempunyai pasar, yang ditandai dengan bermunculannya peminat baru. Bahkan, saya pernah menjual Sansevieria dengan harga Rp1 juta/pohon. Selain itu, secara rutin memenuhi permintaan pedagang-pedagang (tanaman hias) lain.” kata Rizal, yang kini per bulan meraup omset rata-rata Rp10 juta (dulu, Rp3,5 milyar/tahun atau sekitar Rp290 juta/bulan, red.).

Sekadar informasi, Rizal juga baru saja menampik pesanan dari luar negeri sebanyak 2 juta pohon Sanseviera/tahun atau sekitar 160 ribu pohon/bulan, karena keterbatasan kemampuannya. Tidakkah Anda tertarik berbisnis tanaman yang dulu menjadi incaran maling ini?

 

Catatan

Untuk pemula, menurut Rizal, ada tiga jenis Sansevieria yang dapat dijadikan indukan yaitu Sansevieria Cylindrica Patula yang harga per pohonnya Rp10 ribu, Sansevieria Laurentii (Rp2.500,-/pohon), dan Sansevieria Tiger Stripe (Rp5 ribu/pohon). “Tapi, saya sarankan untuk menggunakan Sansevieria Cylindrica Patula atau Tiger Stripe. Karena, Sansevieria Laurentii rentan terhadap penyakit,” katanya.

Sementara untuk lahannya, minimal seluas 10 m² di mana untuk setiap meter persegi lahan ditanami 15 pohon Sansevieria Cylindrica Patula. Dengan demikian, untuk lahan seluas 10 m² dibutuhkan 150 pohon.

Dalam proses budidaya tanaman yang disebut orang bule sebagai Snake Plant ini, tidak dibutuhkan pot (cukup dengan menggunakan sistem tancap daun, red.), tidak pula tenaga kerja dan biaya untuk membeli bahan baku penunjang seperti pupuk kandang dan sekam. Selanjutnya, Sansevieria sudah layak jual pada umur 7 bulan–1 tahun (terhitung dari pertama kali tancap daun).

“Pada umur itu, performance-nya sudah oke dan anakannya sudah banyak,” tambahnya. Untuk setiap pohon, dihargai Rp30 ribu–Rp70 ribu.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …