Home / Agro Bisnis / Prospek Bisnis Menjanjikan Si Miracle Plant

Prospek Bisnis Menjanjikan Si Miracle Plant

Kelor

 

Memiliki aura mistis, tapi juga mempunyai kandungan nutrisi yang luar biasa. Itulah kelor, yang ditetapkan WHO sebagai miracle plant. Sebagai komoditas, tanaman bandel ini juga memiliki prospek bisnis yang menjanjikan

 

Kelor termasuk tanaman yang bandel dan tidak memiliki hama

 

e-preneur.co. Kelor (Latin: moringa oleifera, red.) merupakan tanaman keras. Di Jawa, dikenal dengan nama limaran dan lebih banyak digunakan sebagai sarana untuk membersihkan jenazah saat dimandikan, di samping juga digunakan untuk melumpuhkan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu hitam (susuk, santet, dan sebagainya). Adakalanya, pucuk daunnya dijadikan Sayur Bening yang segar bila dimakan.

“Sekitar 2−3 tahun terakhir ini, saya mulai tertarik dengan kelor. Karena, di lapangan, sejak saya ‘bermain’ rempah, ada beberapa buyer yang menanyakan. Mereka juga membuka harga, yang bagi saya, termasuk tinggi untuk ukuran biji dan daun keringnya. Waktu itu, kelor sempat berada di harga Rp95 ribu−Rp100 ribu per kilogram,” kata Arif Munandar dari Komunitas Tjabe Poejang.

Selanjutnya, biji dan daun kering tersebut dijadikan powder (bubuk atau tepung, red.) dengan beragam tingkat kehalusan. Kadangkala, diseduh sebagai teh. Sementara yang memiliki tingkat kehalusan 150−200 mesh, dimasukkan ke dalam kapsul dan dikenal dengan istilah Kapsul Moringa. “Jadi, pengolahan lebih lanjut cenderung sebagai obat-obatan, selain sebagai teh,” lanjutnya.

Mengingat, ternyata, kelor mempunyai kandungan nutrisi yang luar biasa tinggi. Hingga, WHO (World Health Organization) pun menetapkan kelor sebagai miracle plant. Salah satu “prestasinya” yaitu mengatasi kekurangan gizi di Ethiopia. “Saat itu, salah satu timnya dari Israel, yang mampu membawa Ethiopia seperti sekarang dengan teknologi budidaya kelor bersamaan dengan budidaya kopi. Dan, dari situlah, akhirnya kelor terkenal sebagai pohon ajaib,” ungkap sarjana ekonomi ini.

Berbicara tentang budidayanya, terdapat dua teknik penanaman kelor. Pertama, menggunakan biji (seedling). Kedua, dengan teknik stek.

Mana yang lebih baik dari kedua teknik penanaman tersebut, sangat tergantung pada kebutuhan. “Kalau butuhnya cepat, gunakan cara stek. Tapi, kalau butuhnya jangka panjang dan aman, maka gunakan seedling,” kata warga Gang Kedompon, Adikarso, Kebumen, ini.

Sebab, dengan cara stek, cukup menancapkan batang kelor yang masih basah ke dalam tanah. Selanjutnya, dia akan tumbuh dengan sendirinya. Imbasnya, tidak ada perakaran tunjang. Sehingga, cengkramannya ke tanah menjadi lemah, gampang goyah.

“Begitu terkena angin, langsung ambruk dan akhirnya mati,” imbuhnya. Namun, pertumbuhan dan pemanenan lebih cepat. Sebaliknya dengan teknik seedling di mana perakarannya lebih kuat, tapi pertumbuhan lebih lambat, demikian pula dengan waktu pemanenan.

Berbicara tentang dipanen berarti diambil hasilnya. Kelor sudah dapat dipanen pada usia tiga bulan. Sebab, dari polybag umur satu bulan menuju tiga bulan, kelor mampu setinggi kurang lebih 170 cm. Tapi, kapasitasnya masih sedikit, mengingat masih cabang tunggal.

“Normalnya, sudah dapat dipanen pada umur setahun. Berapa banyak hasilnya dari satu pohon, sangat tergantung besarnya pohon,” katanya. Biji kelor dipetik dalam kondisi sudah tua (berwarna hijau kekuningan, red.). “Jangan matang di pohon. Karena, dia akan pecah dan bijinya yang memiliki ‘sayap’ akan terbang ke mana-mana,” lanjutnya.

Pohon kelor akan bertahan hidup atau terus berproduksi, selama dia mampu menghadapi segala gangguan yang ada. Uniknya, semakin sepuh, rendemen nutrisinya semakin bagus, meski produktivitasnya semakin berkurang.

Dan, ternyata, kelor termasuk tanaman yang daya tahannya sangat tinggi. “Saya pernah ke Pulau Muna di Sulawesi Tenggara di mana kondisi tanahnya berupa karst (batu gamping/kapur). Tanaman yang tumbuh di sana cuma tiga yakni kelor, akasia, dan kayu manis,” kisahnya.

Di Pulau Muna, kelor dikonsumsi sebagai lalapan dan dijual di pasar sebagai sayuran. “Orang-orang Muna terbiasa makan kelor dan mereka mempunyai daya tahan fisik yang luar biasa,” lanjutnya.

Namun, tidak berarti, kelor hanya dapat ditanam di tanah berkapur. Arif melihat, kelor pun dapat tumbuh subur di Wagirpandan, Kecamatan Rowokele, Kebumen, yang notabene tanahnya gembur. Dari sini, dapat disimpulkan kalau kelor termasuk tanaman yang bandel. Bahkan, sampai sejauh ini, dia tidak memiliki hama.

Sayangnya, kalau boleh dibilang begitu, tanaman ini kurang populer di kalangan petani di Jawa. Karena, alasan tersebut di atas. Hanya ada beberapa tempat yang menanam kelor, seperti Pati, Blora, dan Pemalang. Meski begitu, di Blora mampu dihasilkan kehalusan tepung hingga 250 mesh.

Kelor cenderung lebih banyak ditanam di luar Jawa, di Maluku misalnya, dengan minimal lahan 1.400 meter. “Dengan sistem tumpang sari dengan kemukus, lumayan pendapatan yang diperoleh,” ungkapnya.

Padahal, ada banyak permintaan dari Singapura dan Hong Kong. Sementara harga per kilogram untuk tepung daun Rp65 ribu−Rp75 ribu dan untuk tepung biji Rp90 ribu−Rp95 ribu.

Jadi, bila berbicara tentang prospek bisnisnya, tentu saja menjanjikan. Walau belum mampu memenuhi semua permintaan, tapi demand and supply masih seimbang. “Sampai sejauh ini, nilai ekonomis kelor masih bagus,” pungkas kelahiran Kebumen, 17 Maret 1974 ini.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …