Home / Inovasi / Mengubah yang Jadul Menjadi Kekinian

Mengubah yang Jadul Menjadi Kekinian

Sagon Zaya

 

Banyak makanan tradisional yang kini sudah sulit dicari. Karena, rasanya tidak enak atau selera telah berubah. Merasa agak prihatin dengan kondisi ini dan melihat masih ada nilai jual di sagon, salah satu camilan jadul, Asih pun memunculkan kembali sagon khas kampung halamannya berikut aneka varian rasanya. Imbasnya, langsung ludes diserap pasar

 

Untuk meraih pasar generasi milenial, Sagon Zaya memunculkan berbagai varian-varian rasa yang mereka gemari, seperti keju, kismis, dan cokelat di samping jahe, wijen, dan daun jeruk

 

e-preneur.co. Sagon? Anak-anak muda, yang kini mempunyai sebutan keren: generasi milenial, yakin tidak mengenal makanan kecil ini. Bahkan, di Kebumen, mereka beranggapan sagon adalah makanan jadul (jaman dulu) yang tidak enak dan keras.

Ya, sagon merupakan makanan tradisional yang umumnya terbuat dari tepung ketan, kelapa, dan gula pasir. Sementara di Kebumen, sagon terbuat dari tepung kacang hijau, kelapa, dan gula pasir.

Di kalangan Masyarakat Nampudadi, Petanahan, Kebumen, sagon ini hanya dibuat menjelang lebaran untuk dikonsumsi sendiri maupun hidangan bagi para tamu. “Kami mempunyai tetangga yang kebetulan masih kerabat, Bibi Surip. Beliau sering diminta orang-orang untuk membuatkan sagon, sementara bahan bakunya mereka bawa sendiri. Setelah pesanan jadi, mereka tinggal memberi uang lelahnya,” tutur Gumanti Asih.

Waktu merasakan sagon buatan sang Bibi, Asih, begitu ia akrab disapa, merasa makanan ini enak tapi kok tidak dijual. Lalu, ia memutuskan belajar pada beliau tentang apa bahan yang digunakan, melihat prosesnya, dan akhirnya mencoba membuatnya sendiri.

Pada awalnya, Asih menggunakan kacang hijau hasil tani Bapaknya sebagai percobaan dan berhasil. Dalam perkembangannya, mengingat kebutuhan semakin banyak, ia juga menggunakan kacang hijau milik tetangganya. Sekadar informasi, saat musim penghujan, para petani di sini akan menanam padi. Sementara saat musim kemarau, mereka menanam kacang hijau.

“Kami pun menjadikannya sebagai usaha pada Desember 2015. Tapi, masih bersifat coba-coba. Dalam arti, suami yang bekerja sebagai sales, sambil ngider barang yang dijual, ia juga menyebarkan sample sagon ini,” kisahnya.

Dari situ, sarjana D-3 manajemen ini memperoleh masukan seperti apakah produknya terlalu manis, terlalu keras, dan sebagainya. “Baru pada Januari 2016, kami serius meluncurkan sagon yang kami beri nama Zaya,” lanjut perempuan, yang hanya menggelontorkan modal Rp500 ribu dalam usaha ini, yang lantas digunakan untuk membeli kacang hijau dan gula pasir.

Dalam perjalanannya, Asih mempekerjakan enam karyawan yang semuanya perempuan. Tapi, selalu saja ada yang tidak masuk saat berproduksi. “Mereka tidak masuk saat sedang musim sawah (menanam dan memanen padi, red.). Demikian pula, jika sedang musim mantu (kawinan) dan ada yang meninggal,” ungkapnya. Praktis, dalam setahun, hanya sekitar 7−8 bulan sekali semua karyawan itu masuk setiap hari.

Jika ada lima saja yang masuk, ia melanjutkan, maka dalam sehari bisa dihasilkan 40 bungkus di mana per bungkusnya berbobot 200 gr. Selanjutnya, dengan harga Rp25 ribu, Zaya dipasarkan melalui berbagai celah, seperti melalui berbagai toko di Kebumen dari Prembun hingga Purbowangi, selain itu juga di Lampung dan Kudus. Imbasnya, langsung diserap pasar.

Zaya juga dapat dibeli secara online melalui whatsapp dan online shop (melalui tangan kedua). “Tidak ada minimum order, kecuali ingin menjadi reseller-nya,” ujarnya.

Namun, Asih belum mau berhenti sampai di situ. Ia ingin memunculkan kembali makanan jadul ini agar tidak hilang ditelan waktu. Untuk itu, ia tidak hanya menyasar mereka yang telah berumur 30 tahun ke atas atau yang pernah mengenal sagon, melainkan juga generasi milenial.

Untuk itu, kelahiran Kebumen, 6 Maret 1983 ini memunculkan varian-varian rasa yang digemari anak-anak muda. Semisal, keju. “Ternyata, mendapat tanggapan positif,” katanya. Di samping varian keju, kismis, dan cokelat yang dibanderol dengan harga Rp30 ribu/kemasan, ia juga “melahirkan” varian jahe, wijen, dan daun jeruk yang dipatok dengan harga Rp25 ribu/kemasan.

Kini, Zaya yang merupakan pelopor penjualan komersil untuk kacang hijau, mampu membukukan omset rata-rata Rp7 juta/bulan dan akan melonjak lebih dari tiga kali lipat saat lebaran. Bukan cuma itu, jumlah produksi pun naik lebih dari 50%.

Prospeknya? “Saya kira ada prospeknya, kalau melihat sekarang sudah banyak pihak yang juga membuat sagon seperti saya. Tapi, mereka bukan pesaing, melainkan pemicu agar kami terus bertahan di usaha ini dan terus berinovasi,” pungkas Asih, yang ke depannya berencana menambah kapasitas produksi dan melebarkan pasar.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …