Home / Agro Bisnis / Prospek Bisnisnya Sehangat Sensasi Pedasnya

Prospek Bisnisnya Sehangat Sensasi Pedasnya

Cabe Jawa

 

Tidak diminati di habitat aslinya, bahkan belum banyak yang mengetahuinya, sementara di mancanegara sangat dibutuhkan. Itulah, Cabe Jawa. Namun, kini, melalui Komunitas Tjabe Poejang di Kebumen sedang digairahkan kembali penanamannya dengan tehnik dan sistem yang baik dan benar, agar dapat memenuhi permintaan yang membludak

 

Kalau para petani Indonesia mau menanam Cabe Jawa, apa lagi dengan cara yang benar, dijamin prospek bisnisnya bagus

 e-preneur.co. Bicara tentang cabe atau lombok, maka yang terlintas dalam benak yakni cabe merah besar, cabe merah keriting, atau cabe rawit. Lalu, bagaimana kalau kita berbicara tentang Cabe Jawa? Bisa jadi, hanya mereka yang berkecimpung dalam dunia rempah-rempah yang mengetahuinya.

Padahal, konon, Cabe Jawa inilah yang merupakan cabe asli penduduk Nusantara, yang telah hadir jauh sebelum cabe atau lombok yang kita kenal saat ini. Tapi, dalam perjalanan waktu, kehadirannya justru tergeser oleh cabe atau lombok tersebut.

Kondisi ini, menggelitik rasa prihatin Arif Munandar dari Komunitas Tjabe Poejang. “Kalau Cabe Jawa pada akhirnya hilang dari peradaban, maka anak cucu saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Bahkan, mereka tidak pernah mengetahui cabe asli Nusantara, khususnya tanah Jawa, itu,” ujar Arif.

Lalu, apa itu Cabe Jawa? Menurut Arif, Cabe Jawa merupakan salah satu jenis rempah-rempah dan masuk dalam keluarga sirih-sirihan. Ia juga “berkerabat” dengan merica dan kemukus.

Sehingga, bila mengacu pada penamaan Latinnya akan kita jumpai piper betle (sirih), piper nigrum (merica), piper cubeba (kemukus), dan piper retrofractum (Cabe Jawa). Selain itu, lantaran berkerabat dengan merica dan berbentuk panjang, orang bule menyebutnya long pepper atau lebih tepatnya Java long pepper. Sebab, di India, long pepper juga dapat ditemui dan disebut Indian long pepper. Meski, tekstur rasa dan buahnya masih kalah dengan yang ada di Indonesia.

Sama halnya dengan cabe yang kita kenal, Cabe Jawa juga pedas. Tapi, sensasi pedas itu tidak dapat dibandingkan dengan cabe rawit, misalnya. Karena, rasa pedas pada Cabe Jawa dihasilkan dari piperin. Sehingga, rasa hangat yang muncul akan merata ke seluruh tubuh. Berbeda dengan cabe rawit, yang membuat panas di lidah dan kadangkala mules di perut.

Di samping itu, pada umumnya orang mengonsumsinya dalam kondisi sudah dikeringkan. “Saya pernah mengonsumsinya dalam kondisi mentah matang dan mentah masak. Saya mengolahnya menjadi sambal bawang dan ternyata rasanya enak,” ucap Arif, saat ditemui di kediamannya yang terletak di Gang Kedompon, Adikarso, Kebumen.

Secara fisik, Cabe Jawa berwarna merah. Biasanya, dipetik dalam kondisi setengah matang/mengkal (ada semburat kuning atau oranye sekitar 10%−15%, red.). Sementara bentuknya, mirip miniatur biji anthurium.

“Kalau biji anthurium sebesar gagang pisau, maka Cabe Jawa kurang lebih seukuran cabe rawit. Tapi, bila dirawat dengan baik, ukurannya bisa mencapai tiga ruas jari tangan orang dewasa,” ungkap sarjana ekonomi ini.

Dilihat dari proses penanamannya, boleh dibilang, gampang. Cabe Jawa yang merupakan tanaman merambat ini sebaiknya ditanam dengan sistem stek. “Saya pernah mencoba menggunakan teknik seedling (dengan biji), ternyata berbuahnya lambat,” bebernya.

Sementara dengan sistem stek, dengan menggunakan bibit berumur 1,5 bulan atau ketinggian sejengkal (juga dapat dilihat dari keberadaan 3−4 daun pada pohon bibit, red.), maka pada usia 4−6 bulan setelah ditanam, ia akan menunjukkan tanda-tanda produktifnya. Selanjutnya, pada usia 7−8 bulan, ia sudah siap panen.

Pada awal penanaman, pohon bibit Cabe Jawa harus dinaungi. Karena, tanaman ini tidak dapat terkena sinar matahari langsung. Sementara kelembabannya, harus cukup di mana hal ini bisa diketahui dari masih basah atau tidak tanahnya.

Pada masa awal tanam ini, kita harus waspada terhadap hama nematoda (cacing gilig) dan uret (larva wangwung/kumbang tanduk). Pohon Cabe Jawa yang terkena uret akan langsung the end. Sebab, uret memakan akar. Sehingga, tanaman akan langsung layu dan akhirnya mati.

“Karena itu, kepada petani dampingan, kami mensyaratkan agar lubang tanah dan pupuk kandang yang digunakan difermentasi dulu dengan jamur metharhizium dan beauveria bassiana untuk mengendalikan kehadiran uret. Metharizzium kontak langsung dengan lambung. Jadi, jika kemakan, uret akan langsung mati. Sedangkan beauveria bassiana, jika menempel pada larva tersebut, ia akan terus-menerus tumbuh hingga akhirnya uret akan mati terselubungi, mirip mumi,” jelasnya

Untuk penyiraman, dalam kondisi kemarau seperti saat ini lakukan seminggu dua kali. Tapi, saat musim penghujan tidak perlu disirami. Untuk pemupukan, pada awal tanam, dilakukan dua minggu sekali. Selanjutnya, cukup sebulan sekali dengan menggunakan pupuk semi organik. Dalam arti, pupuk dasarnya berupa pupuk organik, kemudian ditambahkan pupuk kompos yang tidak mengandung/meninggalkan residu, tidak bersifat polutan, atau 100% larut dalam air dan non klorin.

Selanjutnya, berapa yang dapat dihasilkan dari satu pohon saja tergantung pada usianya. Pohon Cabe Jawa produktif pada umur 2−2,5 tahun. Sehingga, per minggu dapat dipanen 2−3 ons dalam kondisi basah. Oh ya, Cabe Jawa merupakan tanaman perennial atau berbuah terus-menerus. Dengan demikian, ia bisa dipanen hingga usia puluhan tahun, tapi itu sekali lagi tergantung pada perawatannya.

Sementara sebagai tanaman merambat, jika dibiarkan, ia akan merambat terus-menerus. “Tapi, dengan teknik yang saya gunakan di mana saya menggunakan kawat kasa galvanis. Kemudian, saya isi dengan bahan-bahan organik seperti arang atau sabut kelapa. Lalu, dengan jarak tanam 2 meter, saya sambungkan lima tali ijuk ke kawat kasa galvanis di sebelahnya. Dengan demikian, tanaman yang biasanya tumbuh vertikal diarahkan menjadi horizontal hingga terbentuk mirip tembok,” paparnya.

Hal ini dilakukan, sebab, jika dibiarkan terus tumbuh, tanaman ini kemungkinan bisa menggapai langit. Padahal, kita berhitung dengan waktu. Dalam arti, jika kita menanam 1.000 pohon dengan jarak tanam 2 meter dan ketinggian 7 meter, maka, saat panen, untuk memindahkan tangga dari satu pohon ke pohon berikutnya dibutuhkan waktu 5−10 menit. Jadi, kalau 1.000 pohon, waktu yang dibutuhkan 10.000 menit atau 167 jam alias 6 hari. “Ya, keburu matang dan berguguran,” lanjutnya.

Di sisi lain, penggunaan kawat kasa galvanis, lantaran di lapangan, Arif menemukan Cabe Jawa biasanya dirambatkan pada gliricidia, pohon kelor, atau pohon randu. Kemudian, ketika terjadi perebutan makanan saat pemupukan, sudah dipastikan Cabe Jawa akan kalah.

Mengingat, Cabe Jawa termasuk tanaman dengan perakaran dangkal dan serabut lembut. Sedangkan pohon inangnya, mempunyai akar yang besar. “Maksud hati memberi pupuk pada Cabe Jawa, yang terjadi justru pohon inangnya yang besar. Dalam pemanenan di mana kita menanam 1.000−2.000 pohon, tentu hal ini agak merepotkan,” tambahnya.

Perlu diketahui bahwa jika ingin menanam Cabe Jawa dalam skala bisnis, maka dibutuhkan luas lahan minimal 1.400 meter persegi. Sementara jumlah pohon bibit yang harus ditanam, sebanyak 300−500 batang. Dan, seperti dikatakan di atas bahwa dari satu pohon dapat dipanen 2−3 ons, maka dari 500 pohon akan diperoleh minimal 1 kuintal basah (penyusutan 27%−30%).

Cabe Jawa juga dapat digunakan sebagai tanaman hias. Untuk itu, dapat ditanam dalam pot. Selanjutnya, diberi pralon yang dirambati tali ijuk, agar dapat dirambati.

Dalam pemasarannya, Cabe Jawa dijual dalam kondisi kering dengan harga (saat ini sedang menurun) sekitar Rp37 ribu−Rp38 ribu per kilogram. Sedangkan saat harga sedang bagus, bisa mencapai Rp110 ribu/kg.

Naik turunnya harga, bukan karena peminatnya berkurang. Peminat terus ada. Mengingat, pada satu sisi Cabe Jawa kering di India digunakan sebagai bumbu dan pengobatan. Ya, dari sebuah sumber diketahui bahwa Cabe Jawa memiliki khasiat sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, sakit kepala, lemah syahwat, dan sesak napas. Sementara di negara-negara dengan empat musim, Cabe Jawa digunakan untuk menghangatkan tubuh.

Kendati sangat dibutuhkan, namun, boleh dikata, para buyer hanya datang ke Indonesia saat sedang peak season atau panen raya untuk melakukan inventory trading alias belanja sebanyak-banyaknya untuk disimpan sebagian, sementara sebagian yang lain dijual secara ritel ke penduduk setempat. Itulah, yang membuat fluktuasi harga.

Ironisnya, kalau boleh dibilang begitu, rempah-rempah ini tidak diminati di Indonesia. “Tapi, menurut saya, itu hanya masalah belum tahu dan belum paham bagaimana menanamnya. Kalau pun ada yang menanamnya ya sekadar menanam. Karena, harga jualnya sedang tinggi,” katanya.

Sebagai contoh, suatu ketika Arif berkunjung ke Bangka dan mendapati satu lahan dengan tanaman Cabe Jawa yang berwarna kuning. Pemilik lahan mengatakan bahwa tanaman tersebut terkena virus kuning. “Tapi, karena penyebarannya sangat cepat, saya memastikan itu bukan virus kuning, melainkan uret. Ternyata, di sebelah lahan tersebut banyak pohon kelapa sawit. Di sisi lain, mereka tidak mengetahui apa itu uret. Akhirnya, tanah digali dan ditemukan uret dalam jumlah amat banyak,” kisahnya.

Selain itu, 3−4 tahun lalu, ia melanjutkan, pernah terjadi penanaman besar-besaran Cabe Jawa di Jawa Timur. Namun, karena secara ilmu belum mendalam, mereka menggunakan pohon hidup sebagai rambatan. Imbasnya, saat panen, mereka kerepotan, belum lagi masih harus menghadapi serangan uret.

Meski belum tahu, tapi rempah ini merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara non tropis. Penduduk di sana menggunakannya setiap hari. Karena itu, harganya mahal. Dengan demikian, jika para petani Indonesia mau menanamnya, apa lagi dengan cara yang benar, dijamin prospek bisnisnya bagus.

“Mereka yang membutuhkan Cabe Jawa lebih banyak daripada yang menanamnya. Sementara tanaman ini, tidak dapat ditanam di negara-negara dengan empat musim,” pungkas Arif, yang melalui Komunitas Tjabe Poejang menyediakan bibit Cabe Jawa seharga Rp5 ribu/polybag dan saat ini tersedia ratusan ribu bibit dengan usia 1,5−2 bulan atau siap tanam.

Oh ya, Cabe Jawa bagus ditanam di lahan yang berada di ketinggian 500−700 mdpl. Artinya, di kota-kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, Cabe Jawa dapat dibudidayakan.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …