Home / Kiat / Keluar Pakem untuk Curi Perhatian Pasar

Keluar Pakem untuk Curi Perhatian Pasar

Seni Topeng Kontemporer

 

Tidak semua orang menyukai hal-hal yang berbau tradisional. Karena, terkesan kuno dan monoton, tidak mengikuti perkembangan zaman. Padahal, dengan sedikit modifikasi, yang tradisional pun akan tampak moderen. Seperti, topeng kontemporer buatan Simon

 

Dilihat dari bentuknya, topeng-topeng kreasi ini juga cukup manis dan unik jika menghiasi dinding di ruang tamu

e-preneur.co. Seni topeng yang hadir di tengah-tengah masyarakat bisa dibilang monoton. Karena, kurang berkembang dalam mengikuti alur zaman. Dari dulu, bahkan hingga kini, seni topeng yang dihasilkan oleh pengrajinnya masih seputar tokoh-tokoh ilusi atau pewayangan.

Namun, di tangan Simon, topeng yang sebenarnya memiliki pakem sendiri itu ditabrak hingga menjadi satu bagian dari kesenian kontemporer atau kekinian yang indah, tidak biasa, dan memiliki prospek bisnis yang cerah.

Bagi pria berpenampilan sederhana dan bersahaja ini, selain sebagai penggerak roda ekonomi, membuat topeng juga menjadi semacam perenungan diri. Karena itulah, berbekal dua tahun menimba ilmu pada almarhum Effendi, seorang seniman asal Yogyakarta, Simon pun memantapkan diri berkecimpung penuh dalam kerajinan topeng karakter sejak tahun 1991.

“Lantas, saya mendirikan usaha pembuatan topeng kontemporer yang saya namakan Retno Dumilah. Untuk bahan baku, dari awal hingga sekarang, saya menggunakan sampah kertas. Sementara untuk cetakannya, saya menggunakan tanah liat,” jelas Simon.

Yang membedakan topeng karakter dengan topeng-topeng yang lain, menurut Simon, yakni pembuatan topeng karakter selalu di luar pakem. Bukan hanya model atau bentuknya yang nyeleneh dan begitu jujur, melainkan juga warnanya yang bisa dibilang berani. Bahkan, pada salah satu topengnya, ia memberi warna yang berbeda dan saling bertabrakan.

“Berbagai kreasi topeng karakter yang umumnya saya buat, meliputi bentuk badut, tokoh wayang, wajah atau sketsa manusia, hingga karakter hewan. Khusus untuk sketsa manusia, saya juga menerima pesanan dari konsumen,” kata pria, yang memiliki workshop dan galeri di Kelurahan Kawedanan, Magetan, Jawa Timur, ini.

Misalnya, ia melanjutkan, konsumen minta dibuatkan topeng yang persis seperti wajahnya atau wajah keluarganya. “Selain masyarakat biasa, beberapa pejabat penting negeri ini juga pernah berkunjung ke galeri saya dan minta dibuatkan topeng yang sesuai dengan karakter mereka,” kenangnya.

Proses pembuatan topeng karakter, menurutnya, tidaklah sulit. Siapa pun bisa membuatnya. Tapi, kita harus peka dan terus mengasah imajinasi visual agar hasil akhirnya bisa sempurna.

Hal pertama yang dilakukan ketika ingin membuat topeng karakter yaitu membuat cetakan dari tanah liat. “Jadi, di atas tanah liat itulah sebenarnya kita akan berkreasi, membentuk wajah seseorang, atau karakter siapa pun,” ujarnya.

Setelah proses pertama selesai, selanjutnya menempelkan sampah kertas yang terlebih dulu diolah atau dilebur dengan lem. Kertas yang bagus digunakan untuk membuat topeng yakni limbah karung kertas semen. “Untuk finishing-nya, saya menggunakan cat khusus yang tidak mudah luntur atau buram,” imbuhnya.

Dilihat dari bentuknya, topeng-topeng kreasi Simon ini cukup manis dan unik jika menghiasi dinding di ruang tamu. Meski topeng-topeng tersebut, juga bisa digunakan atau dipakai untuk pementasan sendratari atau kegiatan seni lainnya.

“Karena itu, pada setiap topeng itu saya buatkan pengait di atasnya agar bisa dipasang di ruang tamu. Biasanya, saya mendapat pesanan untuk membuatkan topeng sekeluarga lengkap,” ucapnya.

Untuk harga, bisa dibilang terjangkau. Hanya dengan merogoh kocek Rp20 ribu–Rp125 ribu, konsumen sudah bisa membawa pulang topeng karakter yang dipilih. Menurut Simon, harga yang dipatok tergantung pada tingkat kesulitan dan besarnya topeng.

“Biasanya pada Bulan Agustus hingga Oktober di mana banyak digelar event seperti panen raya, serta HUT pemerintah daerah, penjualan topeng saya akan ikut meroket. Pada event-event tersebut, saya juga sekaligus mengiklankan diri kepada masyarakat yang datang untuk berkunjung ke workshop kami,” kata Simon, yang mampu membukukan omset rata-rata Rp3 juta/bulan. Omset akan meningkat drastis pada bulan-bulan tertentu, yang banyak digelar event.

Untuk pemasarannya, Simon masih menggunakan promosi dari mulut ke mulut, selain melalui event-event khusus. “Ke depan, saya berharap bisa mengenalkan produk melalui media online. Sehingga, siapa pun dan di mana pun bisa memesan. Selain itu, harapan saya juga bisa membuka pasar atau kerja sama dengan galeri di Bali agar pangsa pasar untuk topeng buatan saya lebih luas,” tutupnya.

 

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …