Home / Celah / Modalnya Lebih Murah

Modalnya Lebih Murah

alifastore.com

 

Ketika naluri bisnis sudah memanggil, orang-orang mempunyai kecenderungan untuk begitu saja memenuhi panggilan itu, tanpa menyadari bahwa persiapan yang mereka lakukan belum sempurna. Tapi, pengalaman adalah guru terbaik dan Juni pun terus berkembang dengan bisnis barunya yang berkonsep online: alifastore.com

 

[su_pullquote]Modal membangun bisnis online lebih murah ketimbang bisnis offline[/su_pullquote]

e-preneur.co. Jika jodoh itu belum ketemu, maka hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun sekali pun tidak akan awet. Tapi, ketika jodoh itu sudah ditemukan, maka hubungan itu pun akan menemukan klik-nya. Sehingga, segala sesuatunya akan berjalan dengan mulus.

Demikian pula, dengan bisnis. Buktinya, bisnis-bisnis yang dibangun Juni Handoko, setelah resign dari tempat kerjanya.

Pada 1 Januari 2005, ia memutuskan untuk terjun ke dalam bisnis servis AC (Air Conditioner). Tapi, karena banyak masalah di bisnis itu, sarjana teknik mesin dari Institut Teknologi Indonesia ini menutup bisnisnya dan beralih ke bisnis instalasi listrik, pada tahun 2007.

Ternyata, di sini, ia juga menemui masalah lagi. “Kalau di servis AC, saya terbentur pada masalah SDM (sumber daya manusia). Maka, di instalasi listirik, saya terbentur pada permodalan,” tutur Juni.

Lalu, pada tahun 2009, ia bergabung ke Tangan Di Atas (TDA), sebuah komunitas bisnis. Setahun kemudian, secara iseng, ia belajar tentang pembuatan blog di TDA. Selanjutnya, pada 1 Januari 2011, ia bertekad berjualan secara online.

“Saat itu, ada seorang teman yang berjualan baju renang muslimah. Lantas, saya membeli dan menjualnya melalui akun pribadi di facebook,” tambah Juni, yang begitu berjualan langsung ada penjualan. Sehingga, dalam perkembangannya, ia terus-menerus menambah item jualannya, seperti gamis, mukena, baju muslim, jilbab, dan kaos anak.

alifastore.com, demikian Juni menamai “tokonya”. Dibangun di garasi berukuran 3 m x 3 m di rumah yang ia diami bersama istri (Ratih Wulandari Nurullita) dan anak-anak mereka.

Untuk bisnis ini, ia hanya menanamkan modal sebesar Rp1,2 juta, yang digunakan untuk membeli sekantong tas kresek produk yang akan dijual. Sementara untuk laptop, ia hanya mempunyai satu yang digunakannya bergantian dengan Ratih.

Menurut Juni, pada dasarnya, dalam bisnis ada lima pilar yaitu marketing, SDM, sistem, produk, dan keuangan di mana semuanya harus ada baik dalam bisnis online maupun offline. Tapi, dalam online, marketing-nya menggunakan internet. Sehingga, tidak perlu menyewa tempat (bisa menggunakan salah satu ruangan di rumah, red.).

Untuk produk, pada awal membangun bisnis bisa menggunakan sistem dropship. Atau, jika ada produsen di sekitar rumah, tinggal minta izin untuk memotret produk-produk mereka lalu di-upload di website. Singkat kata, bisnis online lebih murah ketimbang bisnis offline.

Sementara sistem, ada dalam bentuk keberadaan ruangan sebagai kantor dan jam kerja. Karena, bisnis ini tidak bisa dijalankan selama 24 jam.

Selain itu, juga harus ada SDM, seperti alifastore.com yang memiliki 11 karyawan tetap dan dua karyawan tidak tetap. “Untuk skala kecil, bisa saja tidak memerlukan SDM atau dikerjakan sendiri. Tapi, tetap saja bisnis ini tidak dapat dijalankan selama 24 jam,” ujarnya.

Ratih menimpali, “Inilah yang membedakan bisnis online yang dijalankan secara profesional dengan bisnis online yang selama ini dikategorikan sebagai bisnis sampingan atau bisnisnya para Ibu Rumah Tangga (bisnis pengisi waktu, sekadar menambah uang belanja, red.)”. Sedangkan modal, dibutuhkan untuk belajar internet.

Di sisi lain, dalam bisnis, kelahiran Jakarta, 13 Juni 1977 ini melanjutkan, kita harus memposisikan diri kita apakah ingin menjadi produsen, pemilik merek, atau distributor. Karena, kita tidak dapat menjalankan semuanya.

Dan, ia memilih atau memposisikan sebagai distributor. “Sebagai distributor, kami tidak perlu memikirkan desain, membangun brand, mengelola penjahit, mencari bahan, dan sebagainya. Kami tinggal menjual dan membentuk jaringan, seperti agen, reseller, dan lain-lain,” kata Juni, tentang keuntungan sebagai distributor.

Sedangkan sisi ruginya, ia menambahkan, ada pada permodalan. Mengingat, menjualkan produk orang lain dengan sistem beli putus, jika “salah” membeli produk yang imbasnya tidak laku di pasaran, maka kerugian secara finansial yang harus ditanggung relatif besar.

“Untuk itu, di awal membangun bisnis ini, kami tidak membeli barang dalam jumlah banyak/besar. Lalu, kami melakukan tes pasar. Tapi, mengalami kerugian dalam bisnis itu tidak masalah. Karena, dalam bisnis kalau tidak untung ya rugi,” tegas Ratih.

Untuk produk yang dijual, Juni hanya berjualan saja. Tidak ada pertimbangan tertentu. Kecuali, ia melihat adanya peluang, barang, dan pasar.

Namun, untuk menepis pemikiran sebagian anggota masyarakat bahwa membeli barang secara online sama dengan membeli kucing dalam karung, ia mempersilahkan konsumen menukar barang yang sudah dibeli bila barang diterima dalam kondisi rusak/cacat/tidak sesuai dengan yang ditawarkan, atau mengembalikan dalam bentuk uang bila konsumen menginginkan hal itu. Asalkan, barang belum dipakai, dicuci, dan labelnya masih ada, serta mau menanggung ongkos kirimnya.

“Bagi kami, mendapat kepercayaan dari konsumen itu yang utama. Artinya, jangan sampai mereka was-was. Sebab, mereka mau membeli dan lalu mengirimkan uang saja sudah was-was. Jadi kalau mereka complain, kami menerima complain itu,” ucap Juni, yang 90% jualannya diserap pasar.

Target? “Kami ingin menjadi besar, baik dari sisi omset maupun jumlah karyawan. Setahun ke depan, kami ingin menaikkan omset 100% dari tahun sebelumnya, menambah item produk, jumlah SDM, dan modal,” pungkas Juni, yang menegaskan bahwa bisnisnya berjalan mulus dan telah merambah ke seluruh negeri. Bahkan, hingga ke mancanegara (ASEAN).

 

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …