Home / Inovasi / Fungsi Lain dari Ritsleting

Fungsi Lain dari Ritsleting

Tas Zipper

 

Tas zipper bukanlah produk baru. Tapi, para pelaku bisnisnya membuatnya dalam bentuk yang berbeda-beda. Sehingga, masing-masing produk mempunyai cirikhas dan selalu tampak seperti produk baru. Demikian pula, dengan tas zipper karya Dyah

 

[su_pullquote]Jika dibuka “hingga titik darah penghabisan”, maka dompet dan tas itu akan berubah menjadi zipper yang sangat panjang[/su_pullquote]

e-preneur.co. Ritsleting atau retsleting, ternyata tidak hanya berfungsi sebagai penutup. Benda ini, juga memiliki fungsi luar biasa unik yaitu sebagai bahan baku untuk membuat dompet, tas, tempat tisu, dan sebagainya.

Itulah yang terlintas dalam benak Dyah Kusumawati, ketika ia datang dalam suatu pameran ritsleting yang diselenggarakan di Museum Tekstil, Jakarta Pusat. Kebetulan, salah satu peserta pameran―produsen ritsleting Cina yang membangun pabriknya di Tangerang―juga menyelenggarakan workshop.

“Saya tertarik dengan produk yang mereka buat. Sebab, berbeda dengan ritsleting yang beredar di pasaran di mana ukurannya sudah baku, serta hanya berwarna hitam dan putih. Sementara produk mereka, berbentuk gulungan/roll sepanjang 1 yard (= 0,9144 meter, red.) dan berwarna-warni (ada ratusan warna, red.),” tutur Dyah.

Keanekaragaman warna itulah yang menjadi penekanan Dyah, bukan merek atau produsennya. Di sisi lain, saat itu, ia sedang merintis suatu usaha. “Jadi, saya membeli produk mereka sebanyak empat roll,” lanjutnya.

Dalam pameran tersebut, produsen ritsleting Cina itu juga memamerkan tas zipper. Pada awalnya, para pengunjung pameran menduga motif garis-garis pada tas tersebut merupakan motif kain. Faktanya, motif itu merupakan ritsleting aneka warna yang disusun sedemikan rupa dan bisa dibuka sampai ke bawah.

“Akhir Desember 2009, ketika saya cuti, saya mengisi waktu luang saya dengan membuat tas zipper mirip dengan yang saya temui dalam pameran,” ungkap kelahiran Jakarta, 8 Maret 1972 ini.

Tas zipper yang dimaksud oleh Dyah yaitu tas yang berbahan baku utama zipper atau ritsleting. Sementara, zipper yang digunakan berbentuk gulungan. Sehingga, ia bebas berkreasi membentuknya menjadi berbagai macam produk, seperti aneka macam tas, dompet, dan tempat tisu.

Tercatat, kala itu, Dyah menghasilkan lebih dari 10 item produk yang dibanderol dengan harga tidak lebih dari Rp100 ribu. Dan, inilah salah satu pembeda kreasi Dyah dengan produk sejenis yang pernah dilihatnya di sebuah mal, yang dipatok dengan harga Rp200 ribu.

Tapi, sarjana komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta, ini akan menaikkan harga produknya sebesar 10%, bila berwujud pesanan. Sebab, dibutuhkan zipper dalam jumlah lebih banyak ketimbang biasanya.

Sekadar informasi, untuk produk terkecil (dompet) dibutuhkan zipper sepanjang sekitar 120 cm. Sedangkan untuk produk yang paling besar (tas), memerlukan zipper sepanjang 18 m–20 m. Berkaitan dengan itu, konsumen yang akan memesan harus menyertakan ukurannya, di samping bentuk produk yang diinginkan.

“Misalnya, untuk tas berukuran 35 cm x 35 cm, saya membuatnya dari bawah sampai ke atas dengan ritsleting yang telah diukur masing-masing sepanjang 35 cm,” jelasnya.

Dompet dan tas zipper ini memiliki keunikan yaitu jika dibuka “hingga titik darah penghabisan”, maka ia akan kembali ke bentuk semula berupa zipper yang sangat panjang. Keunikan inilah, yang juga membedakannya dengan produk sejenis yang ada atau pernah ada. Sekadar informasi, tas zipper bukan produk kreasi baru tapi masing-masing kreatornya memiliki cirikhas tersendiri, sesuai dengan daya kreasi mereka.

Untuk memperoleh produk yang dinamai Kreasi Zipper ini, pada awalnya konsumen harus memesannya. Alasannya, keterbatasan sumber daya manusia. Selain itu, juga karena ia tidak mau membuatnya dalam jumlah banyak. Mengingat, model selalu berkembang dan untuk menjaga eksklusivitas produk. Maklum, konsumen utamanya ‘kan perempuan yang notabene tidak mau dikembari.

“Di satu sisi, justru dari konsumen yang memesan itulah saya memperoleh masukan aneka model. Di sisi lain, dengan konsep made by order, pemasukan memang tidak sebanyak jika saya berproduksi secara rutin. Tapi, untungnya, pesanan selalu ada. Selain itu, saya juga aktif menawarkannya melalui berbagai situs pertemanan,” ucap perempuan, yang pernah menerima pesanan casing laptop ini.

Namun, sekitar Januari atau Februari 2010, muncul permintaan untuk reseller, maka ia banting kemudi dengan berproduksi secara rutin. “Pada mulanya 50 pieces dan hanya untuk memenuhi pesanan dari Jakarta,” katanya.

Lantas, pada Februari−Maret, meningkat hingga dua kali lipat. Lantaran, adanya permintaan dari luar luar Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), seperti dari Balikpapan, Cirebon, Martaputra, Bima, Papua, dan Denpasar. Bahkan, juga Jepang. “Tapi, omsetnya belum besar, masih turun naik,” kilahnya.

Selain itu, ia juga sedang menjajagi pembelian langsung. “Saya belum punya toko. Tapi, kalau konsumen berminat membelinya secara langsung, dapat mengunjungi agen saya di Depok. Agen ini juga mempunya beberapa reseller,” lanjut Dyah, yang menggunakan kediaman orang tuanya di Kedunghalang, Bogor, sebagai home industry-nya. Selain juga memanfaatkan tenaga para tetangganya.

Tak pelak, aneka tas dan dompet dengan model unik dan berwarna ngejreng pun bertumpuk di tempat yang dinamainya Rumah Kreasi Zipper itu. Tentang warna produknya yang eye catching, Dyah memang sengaja membuatnya seperti itu. Sebab, sasaran utama produknya yaitu para ABG (Anak Baru Gede) dan anak-anak gaul cewek.

Sementara dilihat dari modelnya, memang cenderung untuk dipakai dalam suasana santai dan tidak untuk membawa barang-barang yang relatif berat. Mengingat, keterbatasan pada kancing tarik itu sendiri.

Sayangnya, produk ini belum memiliki after sales service. Karena, adakalanya, ritsleting akan terpeleset atau macet. Meski, untuk produk ini sangat jarang terjadi. Tapi, bila hal ini terjadi, maka produk ini pun sudah tidak dapat dipakai lagi.

“Untuk itu, yang bisa saya lakukan saat ini hanya memberi tahu konsumen bahwa tas ini cuma tas gaul atau untuk jalan-jalan,” jelas wanita berkerudung ini.

Prospeknya? “Sesuatu yang tidak terlalu umum, cenderung akan dicari orang. Meski begitu, produk semacam ini ada batas waktunya,” pungkas Dyah, yang berencana merintis keagenan di berbagai daerah

 

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …