Home / Kiat / Bertahan dengan Detil Melayani Klien dan “Merangkul” Para Vendor

Bertahan dengan Detil Melayani Klien dan “Merangkul” Para Vendor

Pranatacara Wedding Planner

 

Tahukah Anda, bila dalam setahun bisa “lahir” 50 wedding organizer (WO) atau wedding planner baru? Tapi, biasanya, di tahun kedua mereka tinggal lima. Mengapa? Karena, seperti bisnis pada umumnya, WO maupun wedding planner tidak bisa hanya bermodalkan pengalaman instan, namun harus dibangun dan dijalankan dengan serius. Seperti, Pranatacara yang hadir sejak tahun 2005 dan bertahan hingga saat ini

 

e-preneur.co. Setiap kali ada anggota keluarga yang akan menikah, maka anggota keluarga yang lain akan sibuk mempersiapkannya, dengan dibantu kerabat, teman, tetangga, dan lain-lain. Hal ini terjadi, karena yang bersangkutan bukan orang-orang yang sering mengadakan pesta besar atau bahkan baru pertama kalinya menikahkan anak mereka.

Jadi, lantaran tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka mereka akan meminta bantuan pihak-pihak lain seperti tersebut diatas yang pernah mantu. Tapi, itu terjadi di zaman dulu atau di beberapa tempat di luar Jakarta.

Berbeda dengan di Jakarta di mana orang-orangnya dibelit oleh kesibukan. Sehingga, mengharapkan bantuan tenaga dari mereka, sekali pun anggota keluarga sendiri, tipis kemungkinannya akan dibantu. Hal inilah, yang kemudian memicu munculnya orang-orang yang meng-organize atau memberi masukan bagaimana mempersiapkan pernikahan, yang disebut wedding organizer (WO) atau wedding planner.

Orang yang akan menikah atau menikahkan anak-anak mereka tinggal datang ke WO. Lalu, WO akan bertanya apa mau mereka, berapa jumlah tamu yang akan diundang, di mana lokasinya, dan sebagainya.

“Nah, mereka yang memberi masukan inilah yang disebut WO atau wedding planner dan itulah yang saya jalankan. Singkat kata, WO atau wedding planner itu semacam konsultan dan juga mediator yang membantu mewujudkan keinginan pengantin,” jelas Gandy Priapratama, owner Pranatacara Wedding Planner (baca: Pranatacara, red.).

Pranatacara hadir pada tahun 2005. Kehadirannya dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi Gandy yang berasal dari keluarga besar.

“Ketika ada anggota keluarga saya yang menikah, maka saya pun kebagian tugas. Pada awalnya, saya sudah bekerja di suatu perusahaan di mana saya sudah mendapat berbagai fasilitas yang terbilang lumayan. Sedangkan hobi saya yaitu menolong orang. Dari semula hanya menolong saudara, berkembang menjadi orang di luar keluarga. Akhirnya, terpikir untuk membuat WO. Alhamdulillah terus berjalan dan makin lama makin rame,” tutur Gandy.

Sama dengan bisnis-bisnis lain, WO juga harus dirintis dengan serius agar bisa bertahan. Salah satu caranya, di-create menjadi layaknya sebuah perusahaan

Tahun 2007, Gandy mengundurkan diri dari tempat kerjanya. “Pranatacara, saya bangun dengan Rp0,-. Saya hanya menyebarkan kartu nama. Tapi, modal terbesar yakni pengalaman dari seringnya membantu jika keluarga hajatan. Sehingga, saya mengetahui ini itu, di samping modal jaringan. Setelah berkembang, barulah dibutuhkan kendaraan, komputer, tempat kerja, dan lain-lain. Lantas, omset pun saya putar untuk membeli kendaraan, kantor, dan aset-aset lain,” lanjutnya.

Dengan tanpa modal dalam bentuk rupiah serta hanya berdasarkan pengalaman pernah membantu pernikahan temannya, misalnya, dan ternyata sukses, memicu munculnya orang-orang untuk membangun usaha sejenis hingga muncullah persaingan ketat dalam bisnis WO. Perlu diketahui bahwa dalam setahun, bisa lahir 50 WO baru. Di tahun kedua, 50 WO baru itu tinggal lima.

“Mereka bisa dengan mudah tumbuh. Karena, hanya bermodalkan pengalaman instan. Sementara WO, sama dengan bisnis-bisnis lain, harus dirintis dengan serius. Bagi yang bertahan, Pranatacara, misalnya, disebabkan sudah di-create menjadi layaknya sebuah perusahaan. Kedua, selalu menjaga kualitas. Ketiga, memperluas pengetahuan atau terus-menerus belajar,” ungkap sarjana komputer dari Universitas Gunadarma ini.

Gandy mencontohkan, meski sudah menangani lebih dari 100 acara pernikahan, masih ada saja yang harus ia pelajari lagi. “Pada awal berdiri, saya menangani acara kawinan di gang-gang. Lantas, naik pangkat dengan acara kawinan di masjid. Nah, dari situ saya mulai belajar: kendati acaranya kecil dan klien tidak berharap terlalu detil, tapi tetap harus dikerjakan semaksimal mungkin. Kini, meski sudah di gedung-gedung besar, saya masih belajar lagi,” ujar Gandy, yang pernah menangani 3.000 tamu di Balai Kartini. Sementara untuk acaranya, saking panjangnya, sampai dibukukan.

Pranatacara sendiri, menurut para kliennya, memiliki keunggulan berupa lebih detil dalam melayani. “Selain itu, Pranatacara juga mementingkan si pengantin, serta membuat nyaman dan happy para vendor. Untuk para vendor, caranya yaitu merangkul mereka, terutama kalau ada masalah. Dengan merangkul mereka, maka kami bersama-sama mencari jalan keluarnya,” ungkapnya.

Imbasnya, sebulan, Pranatacara yang berkantor di Bintaro Trade Center, Sektor 7 Bintaro Jaya, ini rata-rata menerima tiga pengantin atau 30 pengantin dalam setahun (tanpa mengikutsertakan bulan puasa dan bulan suro, red.). Dan, dengan menyasar kalangan menengah ke atas, Pranatacara pun memasang tarif jasa 10% dari biaya pesta perkawinan. Contoh, jika biaya pesta perkawinan Rp500 juta, maka tarif jasa Pranatacara Rp50 juta.

“Pasar saya di Jakarta. Tapi, tidak menampik orang Jakarta yang ingin menyelenggarakan pesta di luar Jakarta,” kata kelahiran Jakarta, 1 Februari 1978 ini.

Rencana ke depan? “Saya ingin memberi informasi kepada masyarakat tentang WO yang profesional, yang bukan sekadar ajang kumpul-kumpul dengan teman-teman. Karena, yang seperti itu membuat kami susah berjualan, hanya merusak reputasi kami saja. Apalagi, jumlah mereka lebih banyak ketimbang yang serius. Di samping itu, saya juga ingin membuat seminar untuk menunjukkan bagaimana memilih WO yang tepat. Sebab, selama beberapa tahun terakhir ini, kehadiran WO sudah mutlak harus ada. WO merupakan kebutuhan mutlak untuk sebuah pesta besar. Jadi, jangan gambling! Pastikan dengan WO yang profesional. Sehingga, uang Anda tidak terbuang sia-sia!” tegasnya.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …