Home / Agro Bisnis / Untungnya di Atas 100%

Untungnya di Atas 100%

Beef Tomato

 

Yang besar tidak selalu laku di pasaran. Yang kecil tidak berarti tidak diinginkan. Itulah Beef Tomato, varietas tomat berukuran paling besar dan paling berat. Kendati kapasitas kebutuhan pasarnya masih sangat terbatas, tapi selalu ada yang membutuhkannya

 

[su_pullquote]Dari satu pohon bisa dihasilkan 3,5 kg−4 kg Beef Tomato[/su_pullquote]

e-preneur.co. Konon, tomat merupakan tanaman yang paling populer di dunia. Sebuah sumber menyatakan bahwa kurang lebih 60 juta ton tanaman bernama Latin solanum lycopersicum ini, diproduksi per tahun untuk digunakan sebagai salah satu bahan masakan atau langsung dikonsumsi laiknya buah-buahan.

Berkaitan dengan itu, masyarakat cenderung mengkategorikan tomat berdasarkan fungsinya menjadi tomat sayur dan tomat buah. Walau, sebenarnya, secara struktur, tomat lebih tepat dikategorikan sebagai buah-buahan.

Dalam keluarga tomat buah, dikenal Beef Tomato di mana tomat ini mempunyai daging buah yang tebal seperti tebalnya daging sapi. Selain itu, Beef Tomato juga berukuran jauh lebih besar ketimbang tomat-tomat yang lain, terutama tomat sayur (dikenal dengan istilah Tomat Tewe, red.). Sebagai perbandingan, jika Beef Tomato berbobot 200 gr−250 gr, maka Tomat Tewe cuma 80 gr−120 gr.

Uniknya, meski Beef Tomato bisa mencapai bobot 300 gr−400 gr, tapi justru ditolak oleh pasar. Maklum, sebagai pelengkap sandwich dan burger (serta salad), tentulah tidak cantik penampilannya jika irisannya lebih besar dari rotinya. “Yang diminta pasar itu yang berbobot 200 gr dengan diameter 6 cm,” ungkap Muhammad Wasil, Kepala Bagian Produksi dan Kemitraan PT Saung Mirwan.

Beef Tomato yang kadangkala juga disebut Tomat Apel lantaran bentuknya yang bulat mirip apel ini, mempunyai keunggulan lain yakni lebih enak ketimbang Tomat Tewe dan bisa dimakan dalam kondisi fresh. Dalam arti, tidak perlu dimasak terlebih dulu. “Beef Tomato memiliki kadar gula yang lebih tinggi daripada Tomat Tewe. Karena itu, rasanya lebih manis,” kata Wasil, begitu ia akrab disapa.

Namun, dalam pembudidayaannya, Beef Tomato cuma dapat dilakukan dalam Green House (rumah kaca). Lantaran, berdasarkan pengalaman PT Saung Mirwan ketika membudidayakannya dengan sistem penanaman tomat pada umumnya yang dilakukan di Garut, ternyata tidak pernah berhasil. Kemungkinan, hal itu disebabkan benih tomat yang berwarna sangat merah ini hanya diproduksi oleh negara-negara Barat.

Di samping itu, jumlah pohon Beef Tomato yang ditanam di Indonesia masih sangat sedikit. Sehingga, petani merasa rugi jika harus memproduksi sendiri benih (yang waktu itu) cuma seharga Rp1.300,-/biji (harga benih Tomat Tewe kurang dari Rp100,-/biji, red.).

“Mahal? Gak lah. Sebab, dari biji seharga Rp1.300,- itu bisa dihasilkan Beef Tomato sebanyak 3,5 kg/pohon, yang bila dikalikan production cost sebesar Rp8.000,- akan dihasilkan pemasukan sebesar Rp28.000,-,” kata T. Hadinata, pemilik PT Saung Mirwan. Sekadar informasi, untuk menghasilkan satu pohon Beef Tomato hanya dibutuhkan satu biji Beef Tomato.

Kemanjaan Beef Tomato lantaran hanya dapat ditanam dalam Green House, ternyata juga menjadi keunggulannya yang lain. Sebab, dengan itu, Beef Tomato tidak membutuhkan lahan yang luas. Bahkan, bisa pula di dalam pot (tabulampot = tanaman buah dalam pot, red.). Di samping itu, minim serangan hama dan hasil tanamnya lebih banyak.

“Dengan sistem tanam dalam Green House, jumlah buah yang dihasilkan tentu saja lebih banyak. Apalagi, jika menggunakan lahan luar dengan sistem tanam hidroponik,” jelasnya.

Sedangkan masa tanam dan masa panennya sama saja dengan tomat sayur, dalam arti, terjadi dua kali dalam setahun. “PT Saung Mirwan menggunakan metode 5,5 bulan mulai dari benih ditanam sampai buah dipanen. Sedangkan sebuah perkebunan di Lembang, menggunakan metode delapan bulan. Bahkan di Belanda, menggunakan metode 10 bulan. Semuanya ini, sekadar teknik penanaman dengan selera dan alasan masing-masing,” ujarnya.

PT Saung Mirwan, ia melanjutkan, menggunakan metode 5,5 bulan sebab merasa saat itu pohon sudah mulai tua dan serangan hama mulai banyak. Jadi, alangkah baiknya jika segera dipanen. Lalu, melakukan penanaman baru dengan mengganti pohon yang lama dengan pohon yang baru.

Sedangkan sebuah perkebunan di Lembang, menggunakan metode delapan bulan karena melihat keuntungan yang diperoleh akan lebih banyak (pohon Beef Tomato masih akan menghasilkan buah lebih banyak lagi, red.). Tapi, risikonya yaitu biaya produksi lebih besar dan tanaman rentan terhadap serangan hama.

Dalam satu kali musim tanam, dapat dipanen 3,5 kg−4 kg per pohon. PT Saung Mirwan menjualnya dengan harga (saat itu) Rp15 ribu−Rp16 ribu per kilogram di mana setiap kilogramnya berisi 4−5 buah. Sedangkan di supermarket yang tentunya kelas menengah atas, Beef Tomato dibanderol dengan harga Rp20 ribu−Rp24 ribu untuk setiap kilogramnya. Sekadar informasi, harga tomat sayur hanya berkisar Rp2 ribu−Rp5 ribu per kilogram.

“Kami memasok Beef Tomato ini ke berbagai supermarket kelas menengah atas dan hotel berbintang lima, dengan kapasitas 1 ton−1,5 ton per minggu dan 200 kg/minggu untuk pasokan ke beberapa resto berbasis makanan Barat. Semuanya masih berlokasi di Jakarta,” ucapnya.

Dibandingkan dengan “pasar” Tomat Tewe, ia menambahkan, “pasar” Beef Tomato masih kecil dan terbatas. Mengingat, pemakaiannya hanya sebatas untuk keperluan masakan Barat. Sehingga, kapasitas pembeliannya pun terbilang sedikit. Tapi, pasar yang dimaksud merupakan pasar kelas atas.

“Samalah dengan dengan produk-produk PT Saung Mirwan lainnya. Kami menyebutnya niche market, dalam arti, meski kecil tapi eksklusif, kecil-kecil tapi menguntungkan, atau biar kecil tetap ada terus yang membutuhkan,” katanya.

Bagi mereka yang ingin bertanam Beef Tomato, tapi tidak mengetahui bagaimana menanamnya atau tidak memiliki cukup waktu untuk menanamnya, PT Saung Mirwan menawarkan kemitraan. Dalam kemitraan ini, mitra hanya tinggal menyediakan Green House lengkap dengan segala peralatannya, tenaga kerja, dan biaya untuk pembelian benih. Selanjutnya, perusahaan agrobisnis yang berlokasi di kawasan Megamendung, Bogor, ini akan membantu dalam penyediaan teknologi penanaman, pengembangan Green House, dan pencarian pasar secara gratis.

“Dalam sejarah PT Saung Mirwan, kemitraan tidak berlangsung lama. Ketika mitra sudah mengetahui caranya, dengan sendirinya mereka akan melepaskan diri untuk mandiri. Tapi, adakalanya mereka melepaskan diri karena sudah bisa mencari pasar sendiri atau justru merasa jenuh/patah arang. Sementara untung tidaknya mitra dalam bisnis Beef Tomato, sangat tergantung pada bagus tidaknya mereka dalam mengerjakan pekerjaan ini,” tegasnya.

PT Saung Mirwan yang mulai menanam Beef Tomato pada tahun 2004, telah memiliki mitra yang tersebar di Bogor, Lembang, dan Universitas Padjadjaran dengan lahan masing-masing mitra seluas 1 ha−2 ha. “Kalau bicara prospeknya, selalu ada pasarnya. Sebab, kendati pemakainya sedikit, tapi kalau produknya tidak ada, mereka tidak bisa memasak. Lebih dari itu, Beef Tomato adalah produk niche market di mana semua produk niche market bisa membawa keuntungan di atas 100%,” pungkasnya. Menggiurkan, bukan?

 

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …