Home / Agro Bisnis / Menyimpang tapi Justru Unggul

Menyimpang tapi Justru Unggul

Alpukat Mentega

 

Selama ini, kita hanya mengenal dan mengonsumsi satu jenis alpukat. Padahal, di Indonesia terdapat sekitar 20 jenis alpukat. Salah satunya, Alpukat Mentega yang ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan alpukat yang selama ini kita kenal dan pasarnya pun masih terbuka sangat lebar

 

[su_pullquote]Pertama kali dipanen, umumnya akan diperoleh 20 kg−50 kg Alpukat Mentega per pohon. Pada pemanenan kedua dan seterusnya, jumlah buah akan bertambah 50%−100% nya[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Alpukat merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah meja dengan nama yang sama. Nama alpukat dicomot dari Bahasa Aztek yaitu ahuacatl (dibaca: awakatl, red.).

Sementara, Aztek merupakan suku mayoritas yang mendiami Amerika Tengah dan Meksiko. Karena itulah, alpukat diklaim sebagai tanaman yang berasal dari kedua wilayah tersebut. Meski, sebuah sumber lain menyatakan bahwa sebenarnya alpukat berasal dari Persia. Sebab itulah, nama botaninya yaitu Persea Americana.

Lalu, sekitar awal abad ke-16, ketika pasukan Spanyol memasuki Amerika Tengah dan Meksiko, berbagai tumbuhan yang tumbuh di kedua wilayah itu, termasuk alpukat, mereka bawa dan perkenalkan kepada masyarakat Eropa. Di antaranya, orang-orang Belanda. Nah, dari negara yang pernah menjajah negara kita selama 3,5 abad itulah, kita mengenal alpukat.

Diduga (karena memang belum ada yang menelitinya secara serius, red.), di dunia ini terdapat ratusan jenis alpukat. Sementara yang terdapat di Indonesia, hanya sekitar 20 jenis. Itu pun, cuma dua jenis yang dikenal dengan baik oleh masyarakat yaitu alpukat yang selama ini kita konsumsi dan Alpukat Mentega.

Berbicara tentang Alpukat Mentega, banyak orang yang menduganya sebagai varietas baru dalam keluarga alpukat atau hasil rekayasa genetika.

“Ya. Alpukat Mentega memang varietas baru dalam tanaman alpukat, tapi sebenarnya sudah lama sekali ada. Alpukat ini bukan hasil rekayasa, melainkan penyimpangan genetika yang terjadi secara alamiah. Namun, penyimpangan tersebut justru membuatnya jauh lebih unggul ketimbang alpukat yang selama ini kita kenal,” ungkap Oktavianus Dwi Pamungkas dari Usaha Tani Mandiri, sebuah usaha pembibitan Alpukat Mentega yang berlokasi di Depok.

Keunggulan-keunggulan yang dimaksud yaitu pertama, daging buahnya lebih tebal, tidak berserat, berwarna kuning seperti mentega, serta rasanya legit dan gurih. Sehingga, saat diolah menjadi jus, misalnya, tidak perlu ditambahi gula.

Kedua, tidak disukai ulat pemakan daun dan buah. Sehingga, saat kembangnya bermunculan hingga berbuah, hama ini tidak menyerang. Ketiga, berbuah tanpa musim. Sehingga, dalam setahun bisa 2−3 kali panen.

Keempat, berbuah di usia muda (tiga tahun setelah ditanam). Kelima, dapat ditanam di halaman rumah, taman, pinggir jalan, dan pekarangan. Keenam, bersahabat dengan alam. Ketujuh, cocok ditanam di tanah yang basah sekali pun.

Di samping itu, berdasarkan pengalaman yang sudah dialami oleh Usaha Tani Mandiri, dalam pembudidayaannya termasuk gampang-gampang susah. “Dikatakan mudah, karena Alpukat Mentega juga bisa ditanam di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, dan lain-lain yang cenderung beriklim lebih panas daripada Depok. Sedangkan dikatakan sulit, sebab memang sulit dalam pembudiyaannya,” jelas pria yang akrab disapa Okta ini.

Pada dasarnya, ia melanjutkan, pembudidayaan Alpukat Mentega dimulai dari menanam bijinya. Hal ini dilakukan, untuk memperoleh akar yang kuat, guna menopang pertumbuhannya di waktu-waktu mendatang.

Selanjutnya, seiring dengan pertumbuhannya, dilakukan dua cara pembudidayaannya yaitu dengan cangkok dan dengan penyambungan pucuk/tunas (top grafting/enten). Bila dilakukan dengan pencangkokan, hasilnya tidak maksimal. Karena, kekuatan akarnya kurang dan akan mengurangi batang di pohon inti.

Sebaliknya jika dengan enten, yang biasanya dilakukan ketika tanaman telah berumur 1−2 bulan, terhitung dari pertama kalinya biji ditanam. Hasilnya, 99% sama dengan pohon induknya. Karena, batang induknya yang digunakan dan lalu disambungkan ke anakannya.

Singkat kata, dengan sistem enten, selain pertumbuhannya lebih cepat, juga gen yang ada dapat dipertahankan. Tapi, cara enten tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Dan, di situlah letak sulitnya membudidayakan alpukat ini.

“Pembudidayaan Alpukat Mentega langsung dari bijinya jarang dilakukan. Karena, kemungkinan besar hasilnya tidak bisa 100% sama dengan induknya atau akan terjadi penyimpangan genetika. Seperti, terjadi gangguan pada buah atau waktu pertumbuhannya. Di samping itu, untuk memanen dibutuhkan waktu 7−8 tahun setelah ditanam. Itu pun, belum tentu sudah berbuah,” kata Okta.

Alpukat Mentega juga tidak membutuhkan perawatan ekstra dan dapat dikerjakan sendiri. Karena, pemberian pupuk dan penyiraman secara teratur cuma dilakukan pada awal tanam. Dalam arti, pemupukan cukup dilakukan 6 bulan atau 1−2 tahun sekali.

Setelah akarnya menguat, tinggal membersihkan rumput-rumput di sekitarnya. Atau, jika buahnya terlalu rimbun, harus dibuat peyangga untuk batangnya.

Tanaman ini, seperti sudah dikatakan di atas, akan berbuah untuk pertama kalinya pada umur tiga tahun dan dia akan terus berbuah hingga berumur lebih dari 15 tahun. Bahkan, semakin bertambah umurnya, semakin banyak buah yang dihasilkan dan tidak berkurang bobotnya.

“Pertama kali dipanen, umumnya akan diperoleh 20 kg−50 kg Alpukat Mentega per pohon. Pada pemanenan kedua dan seterusnya, jumlah buah akan bertambah 50%−100% nya,” ujarnya.

Sebenarnya, ia menambahkan, hal ini bukan satu lagi keunggulan Alpukat Mentega, melainkan suatu cara untuk mendapatkan hasil pemanenan yang lebih baik. Sebab itu, biasanya pada pemanenan pertama pertumbuhan bunganya justru dibatasi untuk melihat kondisi pohonnya terlebih dulu.

Misalnya, jika batangnya terlalu kecil tapi harus menahan buah dalam jumlah banyak, pada akhirnya malah akan merusak tanaman dan berpengaruh pada kualitas buah berikutnya. Berkaitan dengan itu, buah yang dihasilkan dari pemanenan pertama lebih sedikit ketimbang pemanenan-pemanenan berikutnya.

Selanjutnya, buah-buah berbentuk hijau bulat seberat 500 gr−700 gr per buahnya ini dijual dengan harga (saat wawancara ini dilakukan) Rp15 ribu/kg (di tingkat petani) atau Rp20 ribu−30 ribu per kilogram (di toko/pasar buah). Sementara alpukat yang selama ini kita kenal, selain berbentuk lonjong dan hanya berbobot 200 gr/buah, dijual dengan harga Rp6 ribu/kg.

Namun, meski harga jual buahnya selangit, Usaha Tani Mandiri yang membudidayakan Alpukat Mentega ini sejak tahun 2009 justru menjual bibitnya. Bibit-bibit itu dijual dalam tiga tempat yaitu dalam kemasan polybag, pot sedang, dan pot besar.

“Kami menjual bibit-bibit ini pada umur minimal tiga bulan. Sebab, pada umur itu, enten sudah mengeras,” ucap putra Haji Yunus Junaedi, pemilik dan pendiri Usaha Tani Mandiri, ini.

Uniknya, dalam penjualannya, keberadaan bibit-bibit yang telah merambah Jawa, Lampung, Makassar, Batam, Padang, dan sebagainya itu terus dikontrol hingga tiba di tempat tujuan. Hal ini, berkaitan dengan garansi yang diberikan yakni pohon akan diganti jika mati dalam perjalanan ke tempat tujuan/setelah ditanam atau patah sambungannya lantaran satu dan lain hal. Garansi ini, berakhir setelah tanaman ini berbuah untuk pertama kalinya.

Dengan berbagai keunggulan, baik dari tanaman tersebut maupun strategi penjualan bibitnya, tak pelak banyak pihak berduyun-duyun memesan bibit alpukat yang oleh Usaha Tani Mandiri dinamai Alpukat Mentega Miki ini. Dikatakan memesan, sebab berapa pun bibit Alpukat Mentega ini dihasilkan, maka dengan segera akan diserap pasar. Sehingga, untuk memperolehnya harus memesan 1–3 bulan sebelumnya, untuk pesanan minimal 300 ribu bibit.

“Saat ini, kami rata-rata menerima pesanan sebanyak 500 ribu bibit/tahun. Jumlah ini, di luar yang sudah kami sediakan untuk mereka yang membeli dengan datang ke rumah atau dalam jumlah kecil/eceran yaitu sebanyak 10–20 bibit/hari,” ungkap Okta, tanpa bermaksud sombong.

Sekadar informasi, Usaha Tani Mandiri yang tahun 2009 lalu diganjar penghargaan dari Walikota Depok ini, pernah mempersiapkan 500 ribu bibit untuk permintaan dari pemerintah dan 1.000 bibit untuk pesanan dari Universitas Indonesia. Menarik, bukan?

 

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …