Home / Celah / Celah Bisnis Menganga pada Minimarket Islami

Celah Bisnis Menganga pada Minimarket Islami

Ahad Mart

 

Meningkatnya keislaman masyarakat, memunculkan keinginan untuk mendirikan salah satunya minimarket, seperti minimarket-minimarket yang selama ini telah menguasai pasar. Dan, Ahad Mart telah memulainya dari tahun 2002 hingga sekarang telah memiliki beberapa cabang dan sedang menawarkan waralaba. Mengingat, pasarnya masih terbuka amat lebar

 

e-preneur.co. Akhir-akhir ini, kesadaran umat Islam terlihat lebih meningkatkan dibandingkan sebelum tahun 1990-an. Fenomena baru ini, ditangkap oleh sebagian pebinis sebagai celah bisnis baru.

Ambil contoh, Keluarga Rukun yang “memanfaatkan” peluang ini dengan mendirikan minimarket bernuansa Islam, sejak tahun 2002. Ahad Mart, demikian nama minimarket yang kini tersebar di Ceger, Gandul (Cinere), Pondok Kacang (Ciledug), UIN (Ciputat), dan Legoso (Ciputat).

Ini juga bagian dari dakwah

“Mulanya, kami menjalankan minimarket biasa. Namun, kami tidak menjual barang-barang yang kurang baik menurut Islam, seperti yang mengandung alkohol (minuman keras, obat batuk, dan obat kumur), rokok, majalah, serta minuman ringan yang meski kadar alkoholnya sudah 0% tapi imagenya masih meragukan,” kisah Hamdani Harman Rukun, pemilik Ahad Mart cabang Cinere.

Akibatnya, omset menurun sekitar 15%–20%. “Untuk standar minimarket, penurunan tersebut sangat besar. Sebab profit margin minimarket hanya sekitar 10%–15%. Apa lagi, hal ini berlangsung selama 1,5 tahun,” lanjut Dani, begitu dia disapa.

Selain itu, dibandingkan dengan Indomaret dan Alfamart, Ahad Mart juga kalah dalam volume dan promosi. “Bahkan, di tengah-tengah persaingan bisnis minimarket yang sangat ketat, kadangkala kedua minimarket itu menjual barang di bawah harga modal kami. Sehingga, kami terpaksa belanja barang ke mereka,” tutur kelahiran Jakarta, 38 tahun lalu ini.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut tanpa meninggalkan syariat Islam, Ahad Mart yang mengedepankan pelayanan dan kejujuran ini pun mengatur strategi. Minimarket ini tidak lagi membatasi konsumen, tidak lagi membatasi kelengkapan barang sepanjang barang-barang tersebut berlabel halal, memberi harga bersaing, tidak mengurangi bobot timbangan, tidak menjual barang cacat yang dikatakan bagus, serta konsumen diperbolehkan mengembalikan barang yang dibeli sepanjang masih layak jual.

“Bahkan, saat Ahad Mart cabang Cipondoh masih ada, kami menyediakan layanan antar untuk pembelian barang minimal Rp10 ribu. Sedangkan pesaing kami, mensyaratkan pembelian minimal Rp25 ribu,” tambah lulusan University of Central England, Inggris, ini.

Kini, Ahad Mart juga menjual perlengkapan sholat, Al-Qur’an, dan buku-buku tentang ajaran Islam. Di samping itu, para karyawatinya harus berjilbab, selama sholat Jumat toko ditutup, dan larangan merokok bagi semua karyawan. “Kami akan memecat mereka, bila kepergok sedang merokok, meski sedang di luar tugas,” tegasnya.

Imbasnya, minimarket yang dibangun dengan modal sekitar Rp300 juta–Rp400 juta ini, kala itu setiap bulan mampu meraup omset sekitar Rp120 juta–Rp150 juta (cabang Cipondoh), lebih dari Rp200 juta (cabang Ceger), dan Rp120 juta (cabang Cinere). “Dari sini, kami pun menargetkan pasar dan positioning kami,” ujarnya.

Namun, Dani tidak menampik kemungkinan dengan berubahnya tren, berubah pula konsep bisnisnya. “Ada kemungkinan nantinya kami akan berubah. Tapi, kami mencoba sebisa mungkin tetap mempertahankan keislamanannya. Karena, bagi kami, ini juga perjuangan dan bagian dari dakwah,” pungkasnya.

 

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …