Home / Agro Bisnis / Modalnya cuma Rp5.000,-!!!

Modalnya cuma Rp5.000,-!!!

Ikan Cupang

 

Dibandingkan ikan hias lain, cupang yang digemari orang tanpa pandang bulu ini, memang memiliki harga jual lebih mahal. Apalagi, yang sudah menang kontes. Karena, dalam bisnis ikan yang konon berasal dari Indonesia ini berlaku ada barang, ada kualitas, ada harga. Padahal, modal untuk pembibitannya cuma Rp5 ribu!

 

[su_pullquote]Sebagai sebuah produk bisnis, cupang gampang dipasarkan[/su_pullquote]

e-preneur.co. Tahukah Anda, bila Ikan Cupang (baca: cupang, red.) yang dihargai mencapai Rp600 ribu/ekor, habitat aslinya di persawahan atau anak-anak sungai yang berair dangkal dan berhumus banyak? Tahukah Anda, jika pemakan 50 jentik nyamuk/hari ini, dapat dikembangbiakkan hanya dengan modal Rp5.000,-, bahkan Rp1.000,- per pasang?

Tahukah Anda, kalau setiap bulan, Thailand mampu memasarkan setidaknya 1.500.000 ekor satwa air ini ke seluruh dunia, dengan harga mencapai AS$50 per ekor? Hmm, sepertinya ikan alam ini hebat sekali, ya?

Memang, begitulah faktanya. Dibandingkan ikan hias lain, ikan asli Indonesia (sumber lain menyebutkan: cupang juga terdapat di seantero jagat, red.) yang banyak ditemui di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi ini, memiliki bentuk yang sangat bagus. Seperti, jenis halfmoon yang bentuk tubuhnya mirip bulan sabit.

Ikan yang disebut orang bule talking gourami atau croaking gourami ini, juga mudah dipelihara. Karena, ia hanya memerlukan sedikit oksigen.

Selain itu, ikan yang bernama Latin Betta Sp ini simpel. Sebab, sebagai pemakan daging, ia cukup diberi makan lima nyamuk mati dalam sehari, jentik, kutu air, cacing, bahkan seiris kecil daging ayam goreng atau rendang yang sedang kita santap.

Cupang juga praktis. Sebab, dengan panjang badan hanya 7 cm–15 cm, ia dapat ditaruh di mana pun. Di samping itu, ia merupakan satu-satunya ikan yang memiliki situs terbanyak di internet yakni 27 situs.

Bukan cuma itu, ikan ini lebih kuat daripada ikan hias pada umumnya. Lantaran, ia mampu bertahan hidup selama dua tahun. Last but not least, sebagai sebuah produk bisnis, cupang gampang pula dipasarkan.

Doddy Ito, hobiis Ikan Cupang, menambah satu kelebihan lagi pada cupangnya yaitu dikembangbiakkan dengan menggunakan seleksi genetik. Sehingga, cupang-cupang yang dibudidayakannya, dipastikan lebih bagus.

“Dengan mengawinkan indukan cupang dengan kualifikasi tertentu, saya akan mendapatkan anak-anak cupang yang lebih bagus. Contoh, saya pernah mengawinkan sepasang cupang hitam. Hasilnya, berupa cupang merah,” jelas Doddy, yang ditemui di rumahnya di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur.

Seleksi genetik, konsultan manajemen ini melanjutkan, bukan menciptakan genetika baru. “Miriplah dengan Hukum Mendel di mana terdapat sifat menurun dalam keturunan suatu organisme,” katanya.

Melalui seleksi genetik ini, ia melanjutkan, juga dapat ditentukan bibit, bebet, dan bobot cupang yang kita inginkan. “Artinya, kalau ingin memiliki cupang bagus, kita harus ‘mencetaknya’ dari indukan cupang yang bagus pula,” ungkapnya.

Meski demikian, ia hanya “menciptakan” cupang-cupang yang benar-benar dibutuhkan pasar. Cupang yang bagus menurut pasar yaitu yang simetris atau proporsional antara kepala, buntut, dan bagian-bagian lain di tubuhnya.

“Kecuali untuk warna, saya masih dapat memainkannya,” ujarnya. Sekadar informasi, pasar cuma mau menerima tiga jenis cupang untuk kontes yaitu halfmoon, serit (sisir), dan crowntail.

Seleksi genetik, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, ini menambahkan, tidak dapat dilakukan oleh semua pebisnis cupang. Karena, pertama, memang harus bisa “bermain” di sini.

“Kedua, saya melakukannya tidak di parents stock (indukan awal), tapi mungkin di filial (keturunan) ke 1, 2, 3, dan seterusnya yang saya atur sedemikian rupa. Jadi, rencanakan dari awal, cupang seperti apa yang kita inginkan,” kata pemilik 100 ribu ekor cupang ini.

Namun, ia melanjutkan, pada umumnya, cupang betinanya tidak pernah dijual. Sebab, pertama, ia menggunakan seleksi genetik.

“Saya membutuhkan waktu enam bulan untuk setiap keturunan cupang. Sedangkan untuk mendapatkan keturunan cupang seperti yang saya inginkan, saya membutuhkan waktu 60 bulan atau pada filial ke-10. Jadi, lebih baik saya musnahkan daripada saya lepas ke pasar,” tegas Doddy, yang mulai berbisnis cupang sekitar tahun 2006.

Kedua, untuk menghindari rusaknya harga pasar. “Misalnya, cupang betina saya lepas ke pasar. Lalu, oleh pembelinya dijadikan indukan. Selanjutnya, anak-anak yang ‘dilahirkan’ bisa saja dijual dengan harga Rp1.000,-/ekor. Padahal, saya menjualnya dengan harga Rp15 ribu/ekor. Otomatis, bisnis cupang saya pun mati. Walau, memang tidak semudah dan secepat itu si pembeli dapat ‘menciptakan’ anak-anak cupang, seperti yang saya hasilkan,” ujarnya.

Ketiga, untuk menghindari persaingan. Cupang betina merupakan kunci dari bisnis ini. Sebab, bila induknya dijual akan terjadi adu keindahan dari anak-anak yang dihasilkannya, meski dimiliki oleh petani atau pedagang cupang yang berbeda. Sebaliknya, jika sang induk tetap disimpan, anak-anak cupang yang ada di pasar akan berbeda satu sama lain.

Harga cupang, ia menambahkan, ditentukan dengan ungkapan ada barang, ada kualitas, ada harga. Dibandingkan ikan hias lain, ikan yang digemari orang tanpa pandang bulu ini, memang lebih mahal. Apalagi, yang sudah menang kontes.

“Di kios-kios kecil yang menjual ikan hias, cupang dihargai minimal Rp15 ribu/ekor. Adakalanya, Rp50 ribu–Rp100 ribu per ekor. Bahkan, di kalangan-kalangan tertentu mencapai Rp600 ribu/ekor atau dalam hitungan dolar,” kata Doddy, yang menetapkan harga untuk setiap cupangnya mulai dari Rp15 ribu/ekor.

Masalah harga, ia melanjutkan, sangat menentukan dalam bisnis cupang. Karena, bila dijual dengan harga murah, Rp1.000,-, misalnya, ikan ini akan segera ludes terbeli.

“Tapi, kalau dijual dengan harga Rp15 ribu, misalnya, ikan-ikan ini akan terjual dengan lebih baik dan petani cupang masih mempunyai sisa untuk mengembangbiakkan lagi,” pungkas Doddy, yang menanamkan modal Rp1.000,-! di bisnis ini, tapi minimal meraup omset Rp500 ribu–Rp1 juta. Menarik, bukan?

 

Catatan

Bila Anda ingin membudidayakan cupang:

  • Belajarlah terlebih dulu, bagaimana caranya mengawinkan cupang hingga cupang betina bertelur. Untuk itu, sebaiknya Anda membeli sepasang cupang (sebagai indukan, ).
  • Jika “perkawinan” mereka berhasil, akan dihasilkan maksimal 800 butir telur cupang (rata-rata 100–200 butir), yang semuanya itu nanti akan menetas.
  • Cupang tidak memerlukan makanan dan tempat khusus, serta tidak memerlukan tenaga kerja.
  • Kembangkan lagi dengan cara mengawinkan anak-anak cupang tersebut. Jadi, tidak perlu lagi membeli indukan.
  • Kendala yang biasa dihadapi yaitu masalah air, makanan, media (tempat), suhu, dan penyakit. Jadi, bila gagal, jangan pernah kapok! Beli lagi! Cari tahu apa masalahnya dan perbaiki kesalahan-kesalahan tersebut!

Check Also

Dapat Dijadikan Bahan Baku Masakan, Juga Bahan Baku Obat-obatan

Leunca Selama ini, masyarakat Jawa Barat hanya menjadikan Tanaman Leunca sebagai tanaman hias. Sementara buahnya, …