Home / Kiat / Cara Jeli Mengajarkan Balita Mengaji

Cara Jeli Mengajarkan Balita Mengaji

Thing Flash Card Hijaiyyah

 

Mengajarkan anak balita mengaji tidak hanya dapat dilakukan melalui iqro (buku teks yang digunakan masyarakat muslim di Indonesia, untuk mempelajari Huruf Arab dan pelafalannya, red.). Juga, dapat dilakukan dengan menggunakan Flash Card versi Huruf Hijaiyyah yang dinilai lebih efektif dan menyenangkan bagi sang anak 

 

[su_pullquote]Thing, selain memiliki bentuk menarik, konsumen bisa memesan desainnya dan harganya terbilang murah[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sebuah ungkapan menyatakan: belajar sedari kecil ibarat mengukir di atas batu, belajar di kala usia senja tak ubahnya menulis di atas air. Kalimat tersebut, menggambarkan betapa pentingnya menuntut ilmu sejak usia dini. Masa-masa di mana otak anak mampu menyerap berbagai ilmu, laksana sebuah spon.

Karena itulah, banyak orang tua berupaya memanfaatkannya sebaik mungkin, dengan mengajarkan berbagai ilmu yang berguna bagi kehidupan anak-anak mereka kelak. Tapi, hal ini, tidak berarti menjejali anak-anak belia itu dengan ilmu-ilmu yang memberatkan.

Para pakar psikologi anak mengatakan bahwa usia balita (bawah lima tahun), selayaknya digunakan sepenuhnya untuk bermain. Jika ingin menyelipkan ilmu, sebaiknya dalam bobot ringan yang bisa dilakukan sembari bermain. Lantas, belajar sambil bermain seperti apa yang cocok diterapkan kepada mereka?

Banyak caranya. Misalnya, mengajak anak-anak tersebut menonton video pendidikan yang banyak beredar. Atau, membelikan mainan-mainan edukatif.

Namun, adakalanya, mereka bosan dengan metode belajar seperti itu. Apalagi, diketahui kemudian bila cara itu kurang mampu merangsang otak anak. Mengingat, mereka hanya melihat dan mendengar. Dengan kata lain, mudah dilupakan.

Sebenarnya, ada metode yang lebih membantu orang tua dalam memperkenalkan huruf dan angka, dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan. Bahkan, cara ini bisa memperkuat ikatan batin antara orang tua dengan sang anak, melalui interaksi yang begitu erat.

Flash Card. Demikian, nama metode yang sederhana ini. Sebab, hanya dengan menunjukkan tumpukan kartu-kartu yang berisi huruf atau angka satu per satu di depan anak, dengan frekuensi yang cukup cepat dan dilakukan berulang-ulang disertai jeda waktu.

Kartu-kartu itulah, yang menjadi kunci proses pembelajaran yang mudah bagi anak dan tetap mengandung unsur kesenangan. Karena, bisa dilakukan sambil bermain.

Flash Card mempunyai banyak macam, mulai dari huruf, angka, hingga gambar-gambar buah maupun binatang. Bahkan, ada yang dilengkapi dengan berbagai bahasa, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin. Flash Card semacam ini, dapat dengan mudah dijumpai di toko-toko buku atau yang menjual mainan-mainan edukasi.

Sejak beberapa waktu lalu, muncul satu lagi varian Flash Card berupa Huruf Hijaiyyah (huruf yang digunakan dalam pembentukan kata dalam Bahasa Arab, red.). Ide pembuatannya datang dari seorang Ibu Rumah Tangga bernama Inggrid Galuh.

Inggrid terinspirasi ketika akan mengajarkan anak balitanya mengaji. Dalam perkembangannya, ia membuat Flash Card yang diberi merek Thing itu secara handmade. Sekadar informasi, selama ini Flash Card diproduksi secara massal.

Inggrid juga mempersilahkan pelanggannya memesan desain Flash Card sesuai keinginan mereka. “Desainnya customized. Jadi, bisa dipesan dulu mau seperti apa. Tapi, saya menyarankan agar desain tidak terlalu mencolok, supaya si anak tetap fokus melihat Huruf Hijaiyyah-nya,” kata Inggrid.

Agar anak mudah mencerna bentuk pada setiap kartu, orang tua diharapkan membaca terlebih dulu petunjuk penggunaannya. Sebab, aturan penggunaannya tidak persis sama dengan Flash Card pada umumnya, yang mengacu pada Metode Glen Doman.

“Saya membuat aturan yang sederhana, tapi tetap efektif membuat anak mengingat setiap huruf yang dikenalkan. Namun, semuanya kembali lagi kepada orang tuanya yaitu jangan membuat si anak jenuh,” jelasnya.

Aturan yang dimaksud yakni Flash Card ditunjukkan satu per satu di depan anak, dengan tempo cukup cepat tapi stabil. Jangan terlalu lama saat menunjukkan satu kartu.

Lalu, sebut nama bentuk yang tertera pada kartu dan biarkan si anak mengikuti. Agar tidak cepat bosan, cukup lima kartu untuk satu hari. Namun, lakukan berulang-ulang dengan jeda waktu, agar anak tidak mudah lupa.

Inggrid yang mendesain Flash Card Huruf Hijaiyyah ini secara otodidak, lalu memasarkan hasil karyanya ini melalui rekan-rekan terdekatnya. Selanjutnya, berkat informasi dari mulut ke mulut, produk ini mulai dikenal luas. Bahkan, hingga ke Pulau Batam.

Dalam perjalanannya, di samping dipasarkan secara online, Inggrid melakukannya melalui reseller dan salah satu toko buku di Jakarta. Ia juga “melempar” produknya hingga ke Malaysia, melalui seorang rekannya.

“Ada rekan yang memesan untuk dijual ke sana. Jadi, mengapa tidak sekalian saja saya titipkan, meski masih terkendala pendistribusiannya,” kata Inggrid, yang mampu memproduksi Thing 10−15 set/minggu.

Thing diminati, selain bentuknya menarik, juga karena desainnya bisa dipesan dan harganya terbilang murah. Bila Flash Card cetakan massal dijual dengan harga sekitar Rp40 ribu/set versi huruf kapital, sementara Flash Card impor dihargai kurang lebih Rp1 juta/set, maka Thing dijual hanya sekitar Rp17.500,-/set.

Di samping itu, Flash Card Huruf Hijaiyyah ini terbagi menjadi dua level pembelajaran. Level pertama, untuk balita berusia 2−3 tahun. Dengan ukuran 9 cm x 9 cm, Flash Card ini hanya mencantumkan satu bentuk Huruf Hijaiyyah di tengah kartu, tanpa tanda baca dan tulisan untuk mengejanya.

“Kartu ini hanya untuk memperkenalkan bentuk-bentuk Huruf Hijaiyyah. Sama halnya, dengan mengenalkan huruf A, B, C, dan seterusnya,” paparnya.

Level kedua, untuk balita berusia di atas tiga tahun di mana Huruf-huruf Hijaiyyah-nya sudah dibubuhi tanda baca, berikut huruf kapital untuk mengejanya. Karena materinya lebih lengkap, maka ukurannya juga lebih besar yakni 9 cm x 12 cm.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …