Home / Celah / Celah Bisnisnya Semakin Bagus

Celah Bisnisnya Semakin Bagus

Waste Water Treatment

 

Salah satu bisnis yang tidak ada matinya yaitu yang berkaitan dengan air, baik air bersih maupun air limbah. Hal itu, didukung pula oleh awareness masyarakat yang semakin grow. Imbasnya, celah dalam bisnis ini semakin bagus

 

[su_pullquote]Secara bisnis, waste water treatment ini prospektif. Karena, selalu dibutuhkan konsultan, trainer, dan engineering di bidang ini[/su_pullquote]

e-preneur.co. Kawan sekaligus lawan. Itulah air.

Seperti diketahui, pada kondisi-kondisi tertentu, kita membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Tapi, pada kondisi-kondisi yang lain, keberadaan air mendatangkan masalah tersendiri bagi kita.

Namun, yang sekarang kita bicarakan bukanlah air hujan yang deras diturunkan dari langit hingga mendatangkan banjir di mana-mana, melainkan air imbah pada industri-industri yang pada akhirnya dijadikan biang kerok pencemaran lingkungan.

Pada satu sisi, pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup, bertugas mengawasi berbagai industri agar tidak terjadi pencemaran. Pada satu sisi yang lain, industri tidak se-simple itu.

Apalagi, industri cenderung berkembang. Mereka akan melakukan ekspansi di mana kalau ada masalah membutuhkan konsultan, kalau mau mendidik karyawan membutuhkan trainer, dan sebagainya.

Bagi Dwi Handaya, hal itu merupakan celah usaha yang tidak disengaja. Sebab, sebagai praktisi dalam industri sejak tahun 1992, lalu belajar tentang waste water treatment (WWT) yaitu ilmu tentang pegolahan limbah industri pada tahun 1996, baru 11 tahun kemudian ia akhirnya menemukan teknologi yang perfect.

“Pada tahun 2007, saya pindah kerja dari Cilegon ke Jakarta. Pada tahun itu dan di kota ini pula, saya membuat forum (wwt_ipal@yahoogroups.com) yang imbasnya saya mulai dikenal publik dan komunitas atau industri pengguna WWT hingga ke seluruh Indonesia. Bahkan, berbagai EO (event organizer) pun mengenal saya. Para EO itu menawari saya untuk mengisi training, konsultasi, dan sebagainya. Imbas lebih lanjut, tahun 2010, saya resign dari tempat kerja saya,” kisah Dwi, yang menjalin kerja sama dengan sekitar 10 EO dengan sistem bagi hasil.

Forum tersebut, tanpa disengaja lagi, menjadi marketing tool bagi Dwi. Karena, awalnya, ia hanya ingin membantu orang-orang―ternyata banyak industri di Cilegon yang bermasalah dan kadang-kadang hal itu membuat mereka bingung, sebab tidak memiliki tempat untuk curhat. Dan, lantaran berpikir bahwa forum itu semacam social responsibility-nya, maka untuk konsultasi tidak dipungut biaya sepeser pun.

Namun, ketika harus terjun langsung untuk menangani masalah mereka, tentu saja ada sejumlah uang yang harus mereka keluarkan per hari. Meski, bersifat relatif. Dalam arti, tergantung kasusnya dan siapa yang mengundang.

“Mengingat industri itu macam-macam, maka rate-nya bisa berbeda-beda. Bila itu knowledge, maka saya bersikap fleksibel. Sementara untuk industri oil and gas, saya memasang tarif,” jelas Dwi, yang adakalanya dibayar dengan dolar.

Untuk itu, dalam perjalanannya, ia membuat profil bisnis dengan membentuk empat divisi usaha yaitu training, consulting, engineering, dan chemical. Walau terbagi-bagi, tapi everything is about waste water treatment.

Training menyasar pada orang-orang yang ingin mengikuti public training atau inhouse training. Sementara consulting, biasanya terjadi ketika ada industri yang mengalami masalah dan mengharuskan Dwi datang untuk menanganinya. Proses penangannannya bisa sampai berhari-hari.

Engineering, biasanya muncul ketika suatu perusahaan akan ekspansi. Dalam engineering, dibutuhkan modal gede dan tim yang banyak.

Untuk itu, Dwi menjalin kontrak bersama dengan pihak-pihak lain dengan sistem bagi hasil. Masing-masing kontrak berbeda-beda, ada yang sistemnya bagi hasil bersih 30:70 atau dari kontrak PO ia mendapat 5%.

“Sedangkan chemical, berhubungan dengan riwayat resign saya pada tahun 2010. Setahun sebelumnya, saya membuat perusahaan dengan teman di mana kami membuat chemical tertentu. Tapi, pada tahun 2012, terjadi pecah kongsi dan saya menutup usaha itu. Tahun 2013, project engineering sedang booming. Berkaitan dengan itu, saya mulai membuka usaha itu lagi,” kata sarjana kimia dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, ini.

Chemical tertentu yang ia maksud dibuat untuk di-supply ke berbagai industri untuk WWT. Menurut pria yang juga menyandang gelar master di bidang keselamatan dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Jakarta, ini, chemical itu menarik. Karena, bisa menghasilkan omset milyaran rupiah per tahun.

Namun, diakuinya, banyak teman yangmeragukan market bisnis ini. Padahal, sampai hari ini, ia tidak mempunyai masalah. Sebab, ada forum, ada teman-teman yang membantu memasarkan, dan lain-lain.

“Masalah saya justru ada di sumber daya manusia. Mengingat, memang tidak mudah berada di bidang ini,” ujar kelahiran Yogyakarta, 11 Juli 1974 ini.

Bahkan, ia melanjutkan, secara bisnis, WWT ini prospektif. Karena, selalu dibutuhkan konsultan, trainer, dan engineering di bidang ini.

Di luar itu, pada satu sisi, masyarakat semakin pintar, dalam arti, aware terhadap lingkungan. Di satu sisi yang lain, pemerintah semakin ketat dalam menetapkan standar kelayakan lingkungan. Dari situ, mau tidak mau, industri, terutama industri yang sudah mengikuti program penilaian kinerja lingkungan, harus berbenah diri.

“Nah, saat industri berbenah diri itulah, saya mengikuti mentoring TDA (Tangan Di Atas) sejak tahun 2011,” ujar Dwi, yang merupakan member KMB (Kelompok Mentoring Bisnis) TDA Tangerang sejak tahun 2011.

Menurut pria yang bergabung di TDA Mojokerto dan Tangerang pada tahun 2010 ini, peran TDA bagi bisnis ini banyak sekali. Memang, ia tidak mendapat market langsung dari TDA, karena konsumennya bukan UKM (Usaha Kecil Menengah).

Tapi, di TDA, ia mendapat mindset. Mengingat pada 1–2 tahun pertama memulai usaha, pelaku usaha akan mendapat tantangan berupa keinginan untuk kembali bekerja kantoran.

“Lantas, siapa yang me-maintain mindset itu? Tentu saja, forum komunitas. Di sisi lain, saya bergabung ke TDA, sebab merasa tidak mungkin ibarat orang berjalan di gurun pasir sendirian. Kalau itu dilakukan, maka orang itu akan dimakan serigala. Karena itu, agar aman, berjalanlah secara berkelompok,” pungkas Dwi, yang pada tahun 2012 memangku jabatan Ketua TDA Tangerang.

 

Check Also

Permintaan Terus Ada

Genteng Tanah Liat Meski konvensional, genteng dari tanah liat relatif lebih aman, sehat, dan awet, …