Home / Kiat / Meminimalkan Risiko dengan Panjar

Meminimalkan Risiko dengan Panjar

Tas Kulit ala Lidya Collection

 

Akhir-akhir ini, banyak diproduksi tas dari kulit hewan yang tidak selazimnya digunakan sebagai bahan baku tas. Banyaknya peminat, memacu munculnya para produsen tas semacam itu. Untuk memperoleh pasar dan meminimalkan kerugian, maka harus berstrategi. Seperti yang dilakukan Lidya, dengan memberlakukan sistem uang muka untuk tas buatannya

 

e-preneur.co. Sebuah penyampaian teori berbarengan dengan praktiknya, biasanya merupakan cara yang ampuh bagi pengajar saat mentransfer ilmu kepada anak didiknya. Inilah yang dilakukan Lidya Gabe, dosen mata kuliah kewirausahaan di Politeknik LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia) Medan.

Lidya membuka bisnis pembuatan tas handmade berbahan baku kulit binatang, seperti ular, Ikan Pari, buaya, biawak, dan lainnya dengan beragam corak warna yang mewah. Ia mengaku, jika bisnis ini terinspirasi oleh keinginannya menjadi role model atau contoh nyata dari seorang dosen kepada mahasiswa/mahasiswinya tentang jiwa wirausaha.

Dengan bahan baku yang tidak biasa, harga tas Lidya Collection pun tidak murah. Untuk itu, dalam pemesanan, diberlakukan sistem panjar (uang muka) dan hanya memenuhi pesanan konsumen yang benar-benar mau membeli

“Saya ingin membuka pola pikir mahasiswa saya agar jangan selamanya mengharapkan jadi pegawai. Kalau bisa, cobalah membuka usaha sendiri. Walau dalam skala kecil, tapi, setidaknya, bisa mengurangi pengangguran yang paling dekat untuk diri kita sendiri,” jelas alumnus LP3I jurusan sekretaris ini.

Lidya memulai usahanya dengan googling di internet. Dari situ, ia melihat begitu besarnya pangsa pasar produk fashion dari kulit. Selanjutnya, ditopang kenalan yang mempunyai perusahaan distribusi kulit untuk wilayah Sumatera dan Jawa, ia memberanikan diri membuka usaha dengan modal awal Rp5 juta, pada tahun 2013.

Dalam proses pembuatan awal, ia memesan kulit pada kenalannya, lalu mendesain sendiri model dan warnanya. Berikutnya, menjahitkan kepada penjahit kulit yang sudah ia percaya dengan kinerja kualitas ekspor. Hasilnya berupa sepuluh tas.

Lantas, promosi pun ia lakukan dengan cara yang sangat sederhana. Ia pakai tas tersebut ke kantor atau berbagai acara yang dihadiri teman-teman dekat dan koleganya. Imbasnya, mereka pun tertarik.

“PTPN (PT Perkebunan Nusantara) IV langsung melirik sepuluh tas tersebut. Saya juga diminta bergabung menjadi mitra mereka. Sejak itu, saya mulai percaya diri. Apalagi, pada produksi berikutnya, saya serahkan ke konsumen mau model dan warna seperti apa. Saya tinggal mendesain, mencari bahan ke mitra perusahaan kulit, dan langsung memproses jahitannya. Kemudian, semua berjalan lumayan mulus sampai sekarang,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, Lidya yang menamai usahanya Lidya Collection merambah produksi dompet, serta sandal dan sepatu wanita/pria, ikat pinggang, dan aksesori bando. Meski, tas perempuan tetap yang paling diminati. Terutama, yang berbahan baku kulit ular.

“Tas dari kulit ular paling laku. Kalau dari kulit buaya dan biawak hanya kalangan tertentu yang mau. Karena, bahan bakunya tidak begitu banyak dan modalnya juga besar,” ucap Lidya, yang membangun usahanya di Jalan Binjai Ujung, Medan Timur, ini.

Dengan bahan baku yang tidak biasa itu, harga tas yang dibanderolnya pun tidak murah. Untuk itu, dalam pemesanan, ia memberlakukan sistem panjar (uang muka).

“Saya berlakukan panjar dan memastikan konsumen yang pesan memang benar-benar mau beli, baru dibuat. Tapi, kalau orangnya sudah saya kenal, saya tidak memakai sistem panjar. Sementara untuk pameran, pembeli tinggal pilih, lalu bayar cash,” jelasnya.

Meski usahanya dikatakan berjalan mulus, tidak berarti tanpa kendala sama sekali. Terkadang, ia terkendala oleh permintaan konsumen yang terlalu detil. Sehingga, memakan waktu dalam proses pembuatannya.

Menurutnya, kalau stok bahan baku ada, maka satu produk bisa selesai dalam tiga hari. Tapi, begitu stok kosong, ditambah konsumen meminta bentuk tas dan pewarnaan yang sangat detil, maka bisa memakan waktu satu bulan.

“Karena, proses penyamakan kulit membutuhkan waktu dua minggu, perendaman bisa tiga hari, pewarnaan tiga hari, dan finishing tiga hari. Tapi, biasanya konsumen sudah diberi tahu tingkat kesulitannya dan mau menunggu proses siapnya,” katanya.

Di luar itu, selain mengakomodasi kalangan menengah ke atas yang merupakan target marketnya, Lidya juga membuat produk yang harganya lebih terjangkau, untuk anak kuliahan sekali pun. “Saya juga membuat tas berbahan baku kulit campuran. Misalnya, dari kulit domba atau kambing, tapi di bagian pinggir tas dihiasi kulit ular. Atau, berbahan utama goni, lalu di bagian pinggir tas menggunakan kulit. Jadi, harganya lebih murah dan tetap fashionable,” bebernya.

Kini, Lidya sudah “melempar” produknya ke Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa. “Dalam sebulan, 20–30 tas laku,” pungkas perempuan, yang mengundurkan diri dari pekerjaannya pada tahun 2016 ini.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …