Home / Agro Bisnis / “Warisan” yang Tidak Akan Pernah Habis

“Warisan” yang Tidak Akan Pernah Habis

Pohon Bibit Bersertifikat

(Wijaya Tani)

 

Warisan selalu identik dengan harta benda. Padahal, tanaman keras, dalam hal ini pohon buah-buahan, juga dapat dijadikan warisan yang akan dapat diambil manfaatnya kapan pun. Dengan pemikiran seperti itu, Mubin, melalui Wijaya Tani, mengajak orang-orang untuk menanam pohon buah-buahan bersertifikat sekali pun halaman rumah sangat terbatas. Sehingga, juga tidak perlu membeli buah impor

 

[su_pullquote]Yang dimaksud dengan unggulan di sini yaitu bila ditanam, maka buah-buahan yang tumbuh dijamin bagus. Sedangkan maksud diberinya sertifikat berarti ini bibit pohon buah-buahan terpilih [/su_pullquote]

e-preneur.co. Anda tentu sudah mengetahui kalau harga buah-buahan impor itu sangat mahal. Padahal, pohonnya sudah ditanam di negeri ini selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun lalu. Selain itu, penggarapnya pun petani dalam negeri.

Jadi, sebenarnya, sudah tidak bisa lagi dibilang buah-buahan impor. Apalagi, dijual semahal buah impor yang sebenarnya. Di sisi lain, kehidupan para petaninya tidak seberuntung hasil garapannya.

Berlatar belakang inilah, Mubin Usman yang berasal dari keluarga petani dan sejak kecil hingga sekarang juga hidup dari bertani, berkebun, dan memasok buah-buahan “impor” ke beberapa pasar, berusaha menolong para teman seprofesinya dengan menjual bibit pohon buah-buahan “impor” atau lebih tepat diistilahkan unggulan, sekaligus bersertifikat, dengan harga murah. Berlabelkan Wijaya Tani, ia menggelar dagangannya di tiga tempat di kawasan Margonda, Depok.

“Yang dimaksud dengan unggulan di sini yaitu bila ditanam, maka buah-buahan yang tumbuh dijamin bagus. Sedangkan maksud diberinya sertifikat yang dikeluarkan oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yakni agar bibit pohon buah-buahan tersebut ditanam seperti seharusnya, tidak dicampuradukkan dengan bibit pohon buah yang sama tapi berbeda varietas atau asal usulnya. Selain itu, dengan adanya sertifikat berarti ini bibit pohon buah-buahan terpilih,” jelas Mubin.

Sebagai unggulan, buah-buahan seperti Durian Monthong, Jambu Biji Getas, Mangga Hawaii, dan sebagainya, tentu mudah dipasarkan, walau harganya tidak murah. Demikian pula dengan harga bibit pohonnya, meski sudah sejak lama sekali dikembangbiakkan di Indonesia. “Untuk membeli satu bibit pohon saja, seorang petani harus menjual seekor kambingnya,” ia mengibaratkan.

Berkaitan dengan itulah, suatu ketika ia membeli lima hingga enam bibit pohon buah-buahan “impor”, lalu diperbanyak dengan berbagai cara, dan akhirnya dijual ke para petani dengan harga miring. “Para petani tersebut bisa membeli bibit pohon buah-buahan seperti jambu, belimbing, dan Durian Bangkok misalnya, dengan harga murah. Contoh lain, pada awalnya harga satu bibit pohon Lengkeng Vietnam atau Lengkeng Pingpong Rp250 ribu hingga Rp4 juta. Setelah saya perbanyak, harganya paling mahal Rp40 ribu/pohon dan kualitas buahnya tidak berkurang sama sekali. Sehingga, petani pun mampu membelinya,” imbuh penjual ribuan bibit pohon buah-buahan, yang telah menerima pesanan dari petani di seluruh Indonesia ini.

Lantas, dari mana bibit pohon buah-buahan “impor” ini diperoleh? “Pada mulanya, saya sebenarnya tidak berencana menjadi pedagang bibit pohon buah-buahan ‘impor’. Sebagai pedagang buah, saya hanya ingin agar semua pohon yang ditanam di Indonesia menghasilkan buah-buahan yang bagus, enak, dan murah pula harganya. Jadi, tidak perlu mengimpor. Di samping itu, juga ingin kehidupan para petani buah membaik. Karena itu, saya membeli saja bibit pohon buah unggulan yang dimiliki tetangga saya. Atau, saat berkunjung ke Hawaii, secara iseng saya mengumpulkan biji Mangga Hawaii. Dalam perkembangannya, tahun 1979 hingga 1982, saya sempat sengaja berburu bibit pohon buah unggulan yang tumbuh dari Sabang hingga Merauke. Selain itu, saya juga membelinya melalui berbagai pameran tanaman,” katanya.

Namun, sepertinya cita-cita peraih penghargaan Satyalencana Wira Karya tahun 2004 dari (mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, tidak sepenuhnya terkabul. Mengingat, buah impor tetap merajalela di Indonesia. Di samping itu, penjualan bibit pohon buah “impor” tidak selalu berjalan lancar.

“Kalau pas laku ya sangat laku. Dalam arti, sehari bisa terjual dua hingga tiga pohon. Kalau pas sepi, satu pohon pun tak terjual dalam jangka waktu seminggu. Bahkan, di sini, ada pohon yang sudah berumur dua tahun dan belum laku juga,” ucapnya.

Tapi, sebenarnya, bukan itu titik perhatiannya, melainkan ingin setiap orang tidak enggan menanam pohon buah, sekali pun rumahnya tidak memiliki halaman. “Kan bisa menggunakan pot atau drum. Selain itu, jangan berpikir bahwa bisa jadi tidak akan sempat menikmati hasilnya, mengingat untuk berbuah dibutuhkan waktu relatif lama, tapi berpikirlah bahwa tanaman tersebut nantinya akan tetap dapat bermanfaat. Setidaknya, bagi anak cucu kita. Itung-itung sudah ninggalin warisan,” tambah peraih penghargaan Perintis Lingkungan Hidup Terbaik I Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2002 ini. Hmm sedap juga ya bila bisa makan buah “impor” yang enak dan gratis pula. Bagaimana menurut Anda?

 

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …