Home / Senggang / Jalan-Jalan / Menemui Ikan Santo Petrus

Menemui Ikan Santo Petrus

Danau Galilea

 

Danau Galilea yang saking luasnya sering disebut juga Laut Galilea memiliki arti yang sangat penting bagi umat Nasrani, khususnya. Karena, di sini, Yesus menunjukkan mukjizat-mukjizatnya. Sementara bagi para turis masa kini, menjadi tempat untuk menyantap Ikan Santo Petrus (bakar) yang legendaris itu atau berperahu untuk merasakan angin topan, yang konon pernah membalikkan perahu yang ditumpangi Yesus dan para muridnya

 

[su_pullquote]Ikan Santo Petrus yang paling dikenal dan dominan dari 27 species ikan di Danau Galilea itu, ternyata masih satu keluarga dengan Ikan Mujair [/su_pullquote]

e-preneur.co. Rusdian Lubis, kontributor eksklusif e-preneur.co, melakukan perjalanan selama 12 hari (14−26 April 2018) ke tanah para nabi yakni ke Mesir (Nabi Musa as, Nabi Harun as, dan Nabi Syuaib as), Israel (Nabi Isa Al-Masih), dan Yordania (Nabi Soleh as). Menjelang dan selama bulan puasa, e-preneur.co akan memuat beberapa kisah perjalanannya. Kali ini, tentang kunjungannya ke Danau Galilea.

Danau Galilea, yang terletak tidak jauh dari Kota Tiberias, Israel, disebut juga Danau Kinneret atau Danau Gennesaret. Seperti “saudara-saudaranya” yaitu Danau Titicaca di Amerika Selatan, Danau Issyk-Kul di Kyrgyztan, dan Danau Toba di Indonesia, Danau Galilea adalah danau tektonik berair tawar. Dan, saking luasnya (memiliki lebar 12 km, panjang 22 km, tinggi 210 meter dpl, dan kedalaman rata-rata 43 meter), danau ini juga disebut Laut Galilea.

“Saya mengunjungi danau itu pada tanggal 19 April, bertepatan dengan uang tahun Negara Israel. Saat itu, penuh sesak dengan turis lokal. Lalu, mengapa saya ke Tiberias, yang jaraknya 3−4 jam dari Jerusalem? Selain menyimpan kisah-kisah penting bagi umat Nasrani, sebagai praktisi lingkungan dan pengamat ikan air tawar, saya tertarik untuk melihat Ikan Santo Petrus,” kata PhD Agricultural and Resources Economics dari Oregon State University, Amerika Serikat, ini.

Kedua hal tersebut berkaitan, ia melanjutkan, sebab di Danau Galilea, Yesus menunjukkan mukjizatnya dengan berjalan di atas air untuk menolong para muridnya. Terutama, Petrus, nelayan Danau Galilea. Dalam kisah lain, Yesus juga memerintahkan angin topan untuk “diam dan tenanglah”, ketika perahu yang ditumpangi Yesus dan murid-muridnya dilanda topan.

“Saat saya sampai di sana, Danau Galilea telah menjadi resor atau taman rekreasi dan restoran ikan bakar, berikut perahu-perahu yang membawa para turis berkeliling, mandi di pinggir danau, dan sebagainya,” ucap Yan, sapaan akrabnya.

Resto ikan bakarnya, Yan menambahkan, no nonsense alias mirip layanan resto Ikan Bandeng bakar di pinggir Jalan Maros, Sulawesi Selatan, tempo dulu. Pengunjung datang, lalu duduk. Pelayan membakar satu jenis ikan, menyajikannya dengan nasi dan sayur. “Only two choices of menu: like it or leave it!” ujarnya.

Pelayan Yahudi bertubuh besar dan kasar meletakkan ikan bakar Danau Galilea yang legendaris itu di meja. “Saya yakin itu Ikan Santo Petrus, bukan Ikan Bandeng atau Ikan Baronang,” katanya.

Ada 27 species ikan di Danau Galilea. Yang paling dikenal dan dominan yakni Ikan Santo Petrus (Sarotherodon galilaeus galilaeus), dari genus tilapia atau satu keluarga dengan Ikan Mujair. Dalam Bahasa Arab disebut Ikan Musht (sisir), lantaran ekornya menyerupai sisir.

“Ikan bakar yang saya makan rasanya hambar. Karena, tidak memakai bumbu. Beruntung seorang teman seperjalanan selalu membawa sambal terasi sachet-an,” ucapnya.

Selanjutnya, Yan naik kapal berukuran cukup besar menuju ke tengah danau, diiringi angin kencang dan air berombak. Danau Galilea memang terkenal dengan squall atau angin topan lokal mendadak, yang bisa membalikkan kapal. Angin itu, mungkin yang menerpa kapal para murid Yesus.

“Sebenarnya, saya ingin kapal ini melewati Tabgha, sebuah teluk berbentuk setengah lingkaran yang kabarnya mempunyai akustik yang amat bagus. Seperti, amphitheater. Di sana, di atas perahu yang bersandar, Yesus berkhutbah tentang Perumpamaan Sang Penabur yang amat indah,” jelasnya.

Tidak jauh dari Danau Galilea, tepatnya di Betsaida, Yesus juga melakukan mukjizat dengan memberi makan 5.000 orang dengan lima ketul roti dan 2 ekor ikan menjadi berlipat ganda. Bahkan, masih bersisa banyak setelah diberkati olehnya.

Yesus juga menyuruh mengumpulkan sisa roti dan ikan yang masih utuh. Suatu tamsil agar umat tidak hidup boros dan membuang-buang makanan.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …