Home / Celah / Ada Peluang Berkilau Dalam Usaha Rumahan Tas Kristal

Ada Peluang Berkilau Dalam Usaha Rumahan Tas Kristal

Eka Riviera Crystal Bag Collection

 

Perempuan tidak dapat dilepaskan dari berbagai produk fesyen. Salah satunya, tas. Celah inilah, yang ditangkap Eka dengan menghadirkan tas kristal yang bukan hanya cantik, melainkan juga dapat disesuaikan dengan busana yang dipakai. Imbasnya, sekali pun masih sebatas produk rumahan, tapi prospeknya sangat menjanjikan

 

[su_pullquote]Eka Riviera Crystal Bag Collection mampu membuat 300 jenis tas kristal dengan beragam warna, yang dipastikan pembelinya tidak akan memakai produk massal[/su_pullquote]

e-preneur.co. Memulai usaha dari rumah dan memasarkannya dengan orang-orang terdekat, menjadi kunci langgengnya Eka Riviera Crystal Bag Collection.

Adalah Kuswardani, sang pemilik usaha, yang mengembangkan usaha produk-produk cantik nan elegan berbahan kristal dan akrilik (bahan plastik). Produk fesyen ini, mampu memenuhi keinginan konsumen yang ingin tampil beda.

Kemampuannya membuat kerajinan ini berasal dari Ibunda tercinta, Warsutji. Sang Ibu yang tinggal di Jombang, Jawa Timur, sudah menekuni banyak keterampilan dan kemudian menurunkan bakat tersebut ke putrinya.

“Ibu saya, dengan perkumpulan Dharma Wanita-nya, suka merangkai bunga, membuat gelang, dan kerajinan lainnya. Tapi, kala itu, bakat Ibu hanya digunakan untuk acara lomba dan kerajinan di rumah. Tidak untuk bisnis,” kenang Eka, begitu ia akrab disapa.

Pemikiran untuk menjadikan kerajinan kristal menjadi bisnis muncul pada tahun 2005. Tepatnya, saat Eka pindah ke Dumai, Riau. Awalnya, kelahiran, Jombang, 20 Juni 1973 ini, sering mengenakan hasil karyanya untuk pergi arisan.

Eh, ternyata teman-teman arisan banyak yang bertanya dan pesan. Akhirnya, saya bersama Ibu membuatkan pesanan tersebut. Intinya, masih sekadar menyenangkan teman-teman. Perlahan, pesanan terus ada. Lalu, saya berpikir mengapa tidak membuat banyak saja, terserah mau laku atau tidak. Ternyata, laku,” kisahnya.

Dalam perkembangannya, tahun 2008, Eka pindah ke Medan, Sumatra Utara. Masa itu, ia masih sibuk mengajar dan menjadi Ketua Jurusan di Politeknik Unggul LP3M, Medan, sambil menjalankan bisnisnya.

Namun, ketika pesanan semakin banyak, ia memilih resign sebagai ketua jurusan dan fokus menjadi dosen. Ini dilakukannya, agar memiliki banyak waktu untuk mengurusi bisnisnya.

Tahun 2012, ia melebarkan usaha ke bidang pembuatan tas dan aksesori dari kristal. Meski, masih berdasarkan pesanan. “Tapi, ketika peminatnya lumayan. Saya memproduksinya dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Dalam memasarkan produknya, selain melalui teman-teman terdekat, Eka juga memanfaatkan media online seperti facebook. Selain itu, ia juga membuka counter di Plaza Medan Fair.

“Awalnya, facebook hanya saya gunakan sebagai tempat berbagi info pribadi. Belakangan, suami complain. Ia mengatakan bahwa seharusnya facebook menjadi media promo produk, bukan untuk memajang foto-foto pribadi. Akhirnya, album facebook saya isi dengan produk saya. Dan, Alhamdulillah sangat membantu pemasaran,” beber perempuan, yang melalui media online tersebut, tas buatannya merambah Bali, Kalimantan, dan Belanda.

Di tengah persaingan produk fesyen sejenis, Eka yakin karyanya bisa bertahan. “Kalau tas branded itu sudah umum. Beda dengan tas kristal. Kami bisa membuat 300 jenis dengan beragam warna, yang dipastikan pembelinya tidak memakai produk massal. Dengan bentuk dan harga yang pantas, tas kristal ini terkesan lebih bagus daripada membeli tas KW (palsu) dari barang branded yang belum tentu sesuai busana,” ujarnya.

Eka yang berproduksi di kediamannya yang terletak di Komplek Taman Riviera, Tanjung Morawa, Medan, ini masih dibantu sang Ibu yang tetap menetap di Jombang. Sebab, belum semua detil pembuatan dikuasainya.

Dalam sehari, Eka yang membangun usahanya dengan modal awal Rp500 ribu ini bisa membuat dua buah tas atau lebih, tergantung tingkat kesulitannya. Dan, setiap tiga bulan sekali pasti ada model baru.

Dalam sebulan, 10 tas atau lebih laku terjual. Untuk itu, perempuan yang mendapat dukungan penuh dari sang suami ini sudah balik modal, meski belum mendapatkan untung besar.

“Istilahnya, masih by order, belum by volume. Tapi peluang pasarnya besar. Di Medan, kabarnya belum ada. Jadi, saya optimis untuk tetap melakoni bisnis ini,” jelas Eka, yang bersama sang Ibu juga memberi pelatihan gratis untuk siapa pun.

Untuk hargaya, Eka mematok harga beragam mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dalam merangkai dan bahan yang dipakai. “Jika semua bahannya kristal, tentu mahal. Tapi kalau akrilik, bisa lebih murah,” lanjutnya.

Untuk itu, pelanggannya yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas pernah complain dengan mengatakan jika harga produknya terbilang mahal. Namun, setelah ia menjelaskan tingkat kesulitan dalam pembuatannya, akhirnya mereka bisa memaklumi.

 

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …