Home / Inovasi / Cara Mudah Mengonsumsi Sang Raja Beras

Cara Mudah Mengonsumsi Sang Raja Beras

Wedang Beras Hitam

 

Masyarakat begitu mengagung-agungkan Beras Merah sebagai beras sehat. Itu tidak salah. Tapi, ada beras lain yang lebih ciamik ketimbang Beras Merah yaitu Beras Hitam. Di balik “sosoknya” yang buruk, Sang Raja Beras ini mengandung banyak manfaat. Dan, untuk memudahkan mengonsumsinya, Sochi menyajikannya dalam bentuk wedang atau minuman

 

e-preneur.co. Dalam dunia beras, di samping Beras Putih dan Beras Merah, juga ada Beras Ungu atau Beras Hitam. Warna beras yang berbeda-beda ini, ditentukan oleh perbedaan gen yang mengatur warna aleuron (= lapis terluar yang seringkali ikut terbuang dalam proses pemisahan kulit, red.), warna endospermia (= tempat sebagian besar pati dan protein beras berada, red.), dan komposisi pati pada endospermia.

Beras Putih, misalnya, terbentuk karena hanya memiliki sedikit aleuron dan 20% kandungan amilosa (= pati dengan struktur tidak bercabang, red.). Sementara Beras Merah, terjadi sebagai akibat aleuron-nya mengandung gen yang memproduksi antosianin (= sumber warna merah atau ungu, red.).

Sedangkan Beras Hitam yang sangat langka itu—lantaran hanya dapat dan boleh ditanam di daerah tertentu saja—disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi. Sehingga, berwarna ungu pekat, mendekati hitam.

Wedang Beras Hitam merupakan minuman dalam bentuk serbuk dan dikemas dalam sachet, agar konsumen gampang mengonsumsinya, semudah orang membuat kopi

Namun, ternyata, ada lho Beras Hitam yang dari sononya sudah hitam atau berasal dari varietas padi lokal, yang nantinya menghasilkan Beras Hitam secara alami. Jadi, bukan hasil persilangan atau persenyawaan antarvarietas padi apa pun.

Beras Hitam ini, mengandung nutrisi yang jauh lebih banyak ketimbang “saudara-saudaranya” dan bermanfaat untuk mencegah penyakit-penyakit degeneratif. Apalagi, jika ditanam dengan sistem organik.

Ironisnya, kalau boleh dibilang begitu, beras asli Indonesia ini tidak terdengar gaungnya di Tanah Airnya sendiri. Mungkin, dengan fisik yang hitam, ia tampak buruk rupa.

Atau, petani malas menanamnya? Mengingat, di pasar, ia kalah bersaing dengan “saudara-saudaranya”. Bahkan, tidak laku (dalam perkembangannya, pasar tidak meminati karena harganya jauh lebih mahal daripada Beras Putih dan Beras Merah, serta tidak luwes dalam pengolahan dan mengonsumsinya, red.).

Tapi, lebih daripada itu semua, berdasarkan adat, Beras Hitam hanya boleh dikonsumsi oleh para raja dan tetua adat. Bahkan, dalam penanamannya, cuma boleh dilakukan oleh orang-orang yang dititahkan para raja dan tetua adat tersebut.

“Suatu ketika, seorang teman yang memiliki kerabat tetua adat di Tana Toraja memperoleh segenggam Beras Hitam. Lantas, ia membawa dan menanamnya di Malang. Saya mendapatkan beras ini dari sana,” kisah Sochibudin Aulia.

Merunut ke belakang, pada mulanya, pria yang akrab disapa Sochi ini mengolah Beras Hitam yang diperolehnya dari supplier baik dari Malang maupun Yogyakarta, menjadi semacam bubur bayi. Konsumen menyukainya, karena membuat bayi yang sulit makan menjadi mau makan banyak dan sehat.

“Saya juga pernah merasakan khasiat Beras Hitam, saat di tenggorokan saya ada semacam bisul. Saya merendam dan merebusnya, lalu meminum air rebusannya (tajin, red.) untuk menyembuhkan sakit saya dan berhasil,” tutur Sochi.

Kondisi ini, dianggapnya sebagai pembuka jalan pertanian alami yang notabene level-nya lebih tinggi ketimbang konsep organik. Sebab, Beras Hitam dari Tana Toraja itu memang harus ditanam secara organik, demikian pula dengan Beras Hitam dari Keraton Yogyakarta.

“Mengingat, jika diberi pupuk, pertumbuhannya akan terlalu cepat, tapi justru tidak berbuah,” ungkap sarjana Pendidikan Islam dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muslim Asia Afrika ini.

Sekadar informasi, padi penghasil Beras Hitam baru “bunting” pada umur enam bulan (padi pada umumnya, “bunting” pada umur tiga bulan, red.). Jika ia dipaksa atau dipacu, ia akan tumbuh besar, tapi gagal “bunting”. Jadi, utamakan kualitas, bukan kuantitas.

Selain itu, padi ini mampu tumbuh setinggi 2 m. Sehingga, batangnya sangat kuat. Hal ini, membuatnya tahan terhadap hama. Jadi, ia tidak membutuhkan obat pembunuh hama.

“Sistem penanaman yang seperti itu, sangat mendukung konsep organik. Dan, inilah penekanan saya. Petani pun menyukainya hingga saya tinggal menyiapkan pasarnya. Sebab, kalau saya ikut menanamnya, hasil akhirnya akan sama dengan petani yaitu kebingungan menjualnya. Jadi, saya harus bisa menjualnya, bisa membuatnya menjadi tren, serta bisa membuat masyarakat menyukai dan mengetahui keberadaannya,” lanjut kelahiran Semarang, 1 September 1988 ini.

Selanjutnya, dari semacam bubur bayi, ia beralih dengan mengolahnya dalam bentuk sereal. Tapi, karena produknya belum familiar di masyarakat, maka penjualannya pun seret. Kemudian, ia beralih lagi ke produk yang familiar yaitu minuman atau wedang.

“Orang-orang menyebutnya Kopi Beras Hitam. Bagi saya, itu tidak masalah. Karena, warnanya memang hitam. Tapi, istilah dari masyarakat itu menimbulkan ide bahwa nantinya, saya akan membuat Kopi Beras Hitam dan Wedang Beras Hitam khusus laki-laki,” kata Sochi, yang menamai produknya Wedang Beras Hitam.

“Wedang Beras Hitam merupakan minuman dalam bentuk serbuk dan dikemas dalam sachet, agar konsumen gampang mengonsumsinya, semudah orang membuat kopi. Wedang Beras Hitam mempunyai banyak manfaat, tergantung dari masalah kesehatan apa yang sedang dihadapi. Karena, di dalam Beras Hitam terkandung healing crisis, detoksifikasi. Jadi, Wedang Beras Hitam ini bisa dianggap sebagai minuman biasa, bisa pula dianggap sebagai minuman kesehatan,” jelas Sochi, yang membangun usahanya ini dengan modal awal Rp300 ribu.

Wedang Beras Hitam dengan campuran herbal tersebut, dikemas dalam kotak di mana dalam satu kotak terdapat enam sachet (1 sachet = 23 gr, red). Dalam pemasarannya, Sochi yang membangun usahanya pada tahun 2010 itu, mengandalkan website dan distributornya yang telah tersebar di beberapa kota.

 

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …