Home / Senggang / Jalan-Jalan / Tempat Nabi Muhammad SAW Berteduh

Tempat Nabi Muhammad SAW Berteduh

Pohon Sahabi

 

Segumpal awan  berhenti dan menggantung di atas sebuah pohon. Sementara dahan dan daun-daun di pohon itu merunduk, memayungi seorang anak. Dan, lantaran segumpal awan itulah, beberapa penulis memberi nama pohon itu Sahabi yang berarti awan

 

[su_pullquote]Dahan dan daun-daun di pohon itu merunduk, memayungi anak tersebut yang kelak menjadi Nabi Muhammad SAW[/su_pullquote]

e-preneur.co. Rusdian Lubis, kontributor eksklusif e-preneur.co, melakukan perjalanan selama 12 hari (14−26 April 2018) ke tanah para nabi yakni ke Mesir (Nabi Musa as, Nabi Harun as, dan Nabi Syuaib as), Israel (Nabi Isa Al−Masih), dan Yordania (Nabi Soleh as). Menjelang dan selama bulan puasa, e-preneur.co akan memuat beberapa kisah perjalanannya, yang e-preneur.co mulai dengan Pohon Sahabi.

Pohon Sahabi tumbuh di tengah Gurun Yordania selama 1.400 tahun. Tidak ada pohon lain yang hidup menemaninya. Ia pohon tunggal.

Pohon Sahabi diyakini sebagai saksi pertemuan antara Bahira (Buhaira), seorang Biarawan Kristen, dengan Muhammad yang diperkirakan baru berumur 9 atau 12 tahun. Bahira mengenali tanda-tanda kenabian beliau.

“Dari Ibukota Yordania, Amman, sekitar 1,5 jam, saya menuju ke Kota As Zarqa dan Kota Mafraq di utara. Kemudian, berbelok ke arah kota kecil As Safawi di sebelah timur laut. Kota di tengah gurun itu, diapit Saudi Arabia dan Suriah,” Rusdian mengisahkan.

Dulu, ia melanjutkan, di kawasan ini banyak caravanserai atau rest area bagi kafilah yang lalu-lalang antara Mekkah dan Syam (Suriah). Termasuk, kafilah yang diikuti Muhammad muda, 1.400 tahun lalu.

“Sekitar 30 menit, mobil yang kami tumpangi terlonjak-lonjak melewati daerah yang ‘bebatuannya bertanah-tanah’. Lantaran, lebih banyak batu daripada tanahnya,” ujar Yan, sapaan akrabnya.

Di gurun itu, sejauh mata memandang yang tampak hanya Batu-batu Basalt tajam hitam dan pasir kekuningan. Sesekali, ditemui kawanan domba merumput dan makan semak-semak liar. “Guide kami mengatakan jika rumput dan semak-semak liar itu, memberi aroma yang khas pada daging domba gurung As Safawi, dari otak, jeroan, hingga ujung kaki,” tambahnya.

Di antara hamparan Batu Basalt kehitaman, sekitar 400 meter dari jalan, terdapat gundukan hijau kehitaman seperti kura-kura tua. Ternyata, itulah…Pohon Sahabi atau Shahabi.

“Saya dekati pohon tunggal, yang diperkirakan berumur 1.400 tahun dan mengucapkan salam dalam hati. Pohon ini dinisbatkan sebagai Pohon Sahabi (awan) atau Pohon Shahabi (sahabat),” ujarnya.

Sementara, ia melanjutkan, nama ilmiah pohon ini yakni Pistacia Atlantica atau sejenis tumbuhan pistachio liar, yang banyak tumbuh di Jazirah Arab (Butum), Turki (Melengic), sampai dengan Iran (Baneh). Pohon Pistacia Atlantica bisa tumbuh hingga ketinggian 7−10 meter, dengan cabang menyebar tegak membentuk tajuk berdaun lebat. Diameter batang bisa mencapai lebih dari 2 meter, tapi perlu waktu 200 tahun untuk bisa mencapai ukuran 1 meter saja.

“Semua deskripsi itu, cocok dengan pohon yang saya kunjungi di As Safawi tersebut. Di Yordania, sebenarnya, ada ribuan pohon sejenis tapi tidak seukuran itu. Dan, bagi umat Islam, pohon di As Safawi itu mempunyai arti khusus—karena dipercaya melindungi Muhammad muda dalam perjalanan dagang ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib—meski tidak dikeramatkan,” katanya.

Seperti disebutkan dalam Surah Al-Quraisy, kebiasaan Bani Quraisy yaitu melakukan perjalanan pada musim dingin ke Yaman dan pada musim panas ke Syam untuk membeli gandum. Ketika sampai di As Safawi, rombongan Abu Thalib berkunjung ke biara Bahira. Sang pendeta memang telah lama berkenalan dengan para pedagang Bani Quraisy.

Bahira heran. Karena, kali ini ia melihat segumpal awan yang menggantung, seperti payung yang meneduhi Kafilah Quraisy dan ikut bergerak ketika kafilah berjalan. Ia mempersilahkan Abu Thalib dan rombongannya masuk dan menyuguhi mereka hidangan.

Namun, ia kembali heran. Karena, segumpal awan tadi berhenti dan menggantung di atas sebuah pohon. Lantaran segumpal awan inilah, beberapa penulis memberi nama pohon itu Sahabi yang berarti awan.

Bahira pun bertanya apakah semua anggota kabilah telah masuk ke biaranya. Abu thalib menjawab bahwa ada keponakannya yang masih di luar, menjaga unta di bawah pohon. Bahira keluar untuk menemuinya dan terkejut melihat dahan dan daun-daun di pohon itu merunduk, memayungi anak tersebut.

“Hari itu, saya menyusup ke bawah dahan dan daun-daun pohon itu. Tentu saja, mereka tidak merunduk. Tapi, saya merasa ada angin lembut berbau harum semilir dari arah batang pohon. Ternyata, beberapa orang yang lain juga merasakan hal yang sama,” ungkapnya.

Bahira meminta anak tersebut, yang bernama Muhammad, untuk masuk, lalu menjamunya. Ia meminta izin Abu Thalib untuk memeriksa tanda kenabian pada Muhammad. Sebuah riwayat mengatakan tanda itu berupa toh (birthmark) hitam kebiruan di antara kedua tulang belikat Muhammad.

Bahira yakin bahwa anak kecil inilah calon Rasulullah, yang dijelaskan dalam nubuat. Sekadar informasi, Bahira dan banyak rahib, baik dari kalangan Nasrani maupun Yahudi, di Suriah percaya akan nubuat atau ramalan dalam kitab suci mereka tentang akan datangnya nabi terakhir.

Selanjutnya, ia menyuruh Abu Thalib agar segera membawa pulang Muhammad ke Mekkah. Ia kuatir, Kaum Yahudi atau Romawi di Suriah akan membunuh Muhammad. Riwayat ini tercatat dalam tulisan sejarawan muslim, Ibn Hisham, Ibn Sa’d al-Baghdadi, dan Muhammad ibn Jarir al-Tabari.

Riwayat pohon di As Safawi ditemukan lagi oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan Kerajaan Yordania, ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives. Kemudian, Syeikh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Syria, menetapkan bahwa pohon itulah yang melindungi Muhhammad kecil.

Bagi para ilmuwan, kelestarian pohon tersebut mencengangkan. Sebab, bagaimana mungkin pohon itu masih hidup, tetap bertahan, dan tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania Utara. Anehnya lagi, pohon itu tidak berbuah, layaknya Pistacia Atlantica di tempat lain. Juru kunci atau penjaga pohon—juga bernama Muhammad—mengatakan bahwa kadang-kadang ada hujan di sana. Sementara kedalaman air tanah sekitar 100−200 meter.

Pohon tersebut dijaga oleh Pemerintah Yordania dan kemudian menjadi obyek wisata. Tapi, bangunan di kompleks pohon itu sekadarnya, dibuat dari pagar kawat ayam

Lalu, mengapa pohon itu juga disebut Pohon Shahabi (sahabat)? Banyak yang berargumen bahwa pohon ini satu-satunya sahabat Nabi Muhammad SAW, yang masih hidup. Tapi, tidak ada catatan, Nabi pernah kembali ke sana untuk menemui sahabatnya ini.

“Saya teringat ketika berada di Kota Kano, Nigeria Utara. Saya pernah melewatkan satu malam di Tepi Gurun Sahara. Langit gurun yang berwarna biru tua, dihiasi bulat sabit dan bintang-bintang yang tidak terhitung banyaknya. Saya membayangkan pohon tunggal di As Safawi itu sebenarnya juga tidak sendirian di tengah Gurun Yordania,” pungkasnya.

 

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …