Home / Inovasi / Suplemen dari Kebun Berstandar Organik

Suplemen dari Kebun Berstandar Organik

Solanoni

 

Mengkudu, selama ini hanya dikenal sebagai buah yang berbau busuk. Padahal, mengkudu memiliki potensi bisnis yang menggiurkan. Dan, orang-orang mancanegara mengetahui hal itu, selain CV Gema Harapan yang kemudian mengolahnya menjadi Solanoni melalui kebun khususnya

 

[su_pullquote]Solanoni dihasilkan dari buah mengkudu yang berasal dari pohon yang ditanam secara khusus dan dengan perlakuan khusus atau mengikuti standar organik[/su_pullquote]

e-preneur.co. Adakalanya, pengobatan moderen atas suatu penyakit justru memperburuk kondisi pasien. Setidaknya, itulah yang terjadi pada kakak ipar Yunlung, yang menderita stroke selama bertahun-tahun hingga pernah koma. Untuk itu, sang kakak ipar harus menginap di rumah sakit.

Sampai, kemudian, Yunlung yang beken disapa Ajun ini, memperoleh produk olahan buah noni atau mengkudu dari salah seorang temannya. Ketika sang kakak ipar mengonsumsinya, kondisinya membaik. Bukan cuma itu, biaya pembelian produk olahan buah noni itu jauh lebih sedikit ketimbang biaya perawatan rumah sakit.

Hal inilah, yang menjadi salah satu alasan mengapa Ajun menerjuni bisnis produk olahan buah mengkudu dan mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Tahun 2008, ia membuka kebun mengkudu di Cijeruk, Gunung Salak, Bogor. Lantas, melakukan riset langsung ke para pasien. Dua tahun kemudian, ia mulai mengolah buah mengkudu dari kebunnya menjadi sari buah dengan merek Solanoni. Tahun 2012, ia memasarkan produk tersebut.

“Solanoni merupakan jus atau sari buah mengkudu yang kami anggap suplemen. Definisi suplemen yang sebenarnya yaitu kalau kita sehat, minum secukupnya. Sehingga, bisa meningkatkan kesehatan. Tapi, kalau kita sakit, harus minum sesuai dosis agar sembuh,” jelas Ajun. Solanoni mempunyai manfaat untuk mengobati diabetes, kanker, darah tinggi, asam urat, alergi, dan lain-lain, di samping untuk meningkatkan stamina.

Solanoni memang bukan satu-satunya hasil olahan buah mengkudu yang beredar di Indonesia, ia melanjutkan, tapi Solanoni merupakan produk olahan buah mengkudu yang dihasilkan dari kebun sendiri. “Biasanya, industri-industri pengolah buah mengkudu mengambil buah ini dari berbagai tempat. Dan, selama itu berbentuk selayaknya buah mengkudu ya mereka terima. Padahal, berdasarkan hasil riset, mengkudu merupakan tanaman penyerap polutan. Sehingga, harus sangat hati-hati dalam memilihnya,” ungkap pria, yang mengaku cuma tamatan Sekolah Menengah Ekonomi Atas ini.

Berbeda dengan buah mengkudu yang digunakan sebagai bahan baku utama Solanoni, ia menambahkan, yang berasal dari kebun khusus. Maksudnya. ditanam secara khusus dan dengan perlakuan khusus atau mengikuti standar organik. “Dilihat dari lokasi kebun, jauh dari jalan utama. Jadi, bebas polusi. Lokasinya, juga dekat dengan gunung. Sehingga, airnya masih bersih. Kandungan mineral dalam air juga bagus. Dan, lahan yang kami gunakan lahan baru, dalam arti, belum pernah sekali pun digunakan untuk bertanam,” jelasnya.

Buah mengkudu yang digunakan, juga mempunyai kriteria tertentu yaitu 1 kg terdiri 3–5 buah dan mengkal (tidak matang, tidak mentah, red.). “Tapi, kriteria ini bisa berubah karena musim. Misalnya, pada musim kemarau, buahnya kecil-kecil dan kandungan airnya sedikit. Sedangkan pada musim penghujan, buahnya besar-besar, tapi kandungan airnya banyak,” ujar kelahiran Jakarta, 20 September 1997 ini.

Banyak sedikitnya buah mengkudu yang dihasilkan, berpengaruh terhadap banyak sedikitnya produksi. Di sisi lain, juga karena berbuahnya memang bertahap dan ia tidak mau memaksakan pertumbuhannya, serta tidak mau membeli buah mengkudu dari luar.

“Itu bedanya kami dengan industri yang untuk memperbanyak produksi, yang biasanya akan mengambil bahan bakunya dari berbagai tempat. Sedangkan kami eksklusif, hanya mengambil dari kebun khusus. Jadi, berapa pun yang tersedia di kebun ya itu yang kami olah,” ucapnya.

Solanoni, yang diproduksi oleh CV Gema Harapan, tersedia dalam dua ukuran yaitu 1.200 ml dan 600 ml dan terbagi menjadi tiga varian rasa yakni rasa asli (original), rasa stroberi, dan rasa Jahe Merah. Pemberian rasa yang tanpa bahan perasa, ia menambahkan, juga menjadi pembeda antara Solanoni dengan merek-merek lain. Contoh, untuk Solanoni Jahe Merah dihasilkan dari ekstrak Jahe Merah. Demikian pula, dengan Solanoni stroberi. Sehingga, ketika meminumnya akan menemui serpihan-serpihan daging buah dan bijinya. Sementara untuk yang rasa asli, tidak ditambahi air.

Di samping itu, pemberian rasa juga berkaitan dengan segmentasi konsumen yaitu anak-anak, dewasa, dan orang tua. “Anak-anak dan orang dewasa biasanya menyukai yang ada rasanya. Karena itu, kami sediakan yang rasa stroberi. Apalagi, stroberi baik bagi kesehatan kulit, gigi dan lain-lain. Sehingga, baik bagi wanita. Sementara bagi anak-anak, stroberi mengandung zat anti alergi dan bagus bagi perkembangan otak mereka. Sedangkan Jahe Merah, cenderung diperuntukkan bagi orang dewasa yang banyak beraktivitas. Selain itu, juga bagi manula (manusia usia lanjut), karena bermanfaat untuk memperbaiki syaraf,” kata Operational Director CV Gema Harapan ini.

Produk yang mempunyai masa kadaluarsa satu tahun ini, dipasarkan CV Gema Harapan melalui komunitas dan distributor. Dengan sistem pemasaran seperti ini, perusahaan ini tidak menguatirkan persaingan. “Kami mempunyai diferensiasi. Kalau pesaing kami mempunyai diferensiasi yang sama, kami kembalikan ke komunitas. Karena, kebanyakan pesaing kami berasal dari luar negeri, sedangkan yang dari Indonesia fokus ke luar negeri,” imbuhnya.

Jadi, bagaimana prospeknya? “Mengkudu itu sendiri sebagai bahan baku sangat menggiurkan. Sayang, pola pekebun Indonesia itu ikut-ikutan, mengikuti demand. Karena itu, masalah yang dihadapi beberapa pabrik besar pembuat jus mengkudu bukan di penjualan, melainkan pengadaan bahan baku,” katanya.

Berkaitan dengan itu, CV Gema Harapan pun memperluas lahan. Sehingga, jumlah buah semakin banyak, yang berarti pula jumlah produksi bertambah. “Kami membangun Noni for Farmers. Untuk itu, kami memberi pohon bibit mengkudu kepada penduduk di sekitar kebun. Dengan adanya pohon-pohon tersebut, maka oksigen akan lebih bagus dan mereka mendapat tambahan penghasilan,” pungkasnya.

 

Check Also

Ketika Helm Sudah Menjadi Bagian dari Lifestyle

Tas Helm Helm-helm masa kini tidak sekadar melindungi kepala, tapi juga sudah meningkat perannya sebagai …