Home / Agro Bisnis / Prospek Cerah yang Masih Terpendam

Prospek Cerah yang Masih Terpendam

Ikan Gabus

 

Ibarat harta karun yang masih terpendam, begitulah prospek bisnis budidaya Ikan Gabus. Sebab, meski menghasilkan omset besar dan mempunyai masa depan yang menjanjikan, tapi belum banyak yang mengembangbiakkannya hanya karena masa panennya yang relatif lebih lama ketimbang ikan air tawar lain

 

e-preneur.co. Gabus merupakan ikan air tawar dari Keluarga Channidae. Lantaran memiliki bentuk kepala besar agak gepeng mirip ular, maka orang-orang bule menyebutnya snakehead.

Di Indonesia, gabus terdiri dari tiga spesies yakni Great Snakehead yang panjangnya bisa mencapai lebih dari 1 meter, Forest Snakehead yang bisa mencapai 40 cm, serta Dwarf Snakehead yang merupakan spesies gabus terkecil. Jenis ini, dapat dijumpai di Perairan Jawa dan dibudidayakan oleh masyarakat setempat.

Jika dibandingkan ikan air tawar lain, budidaya gabus masih kalah populer. Padahal, jika kita mengetahui potensi yang terkandung di dalamnya, satwa air ini bisa menjadi salah satu bidikan usaha di bidang agro yang menghasilkan omset luar biasa.

Sebab, gabus tidak hanya enak dimakan, tapi juga memiliki banyak sekali kebaikan. Salah satunya, berkhasiat untuk obat.

“Gabus atau biasa disebut kutuk oleh masyarakat Jawa Timur, memiliki kandungan asam amino yang sangat lengkap baik yang esensial maupun non esensial. Dengan mengonsumsi gabus secara rutin, akan sembuh dari hepatitis, infeksi paru, stroke, atau luka bakar. Selain itu, ikan ini juga mampu memperbaiki gizi buruk pada bayi, anak-anak, dan Ibu hamil,” ungkap Alfiant, salah seorang pembudidaya gabus dari Dungus, Madiun, Jawa Timur.

Karena itu, Alfiant melanjutkan, prospek gabus masih terbuka lebar. Bahkan, dari tahun ke tahun, permintaannya terus meningkat disertai harga yang juga cenderung naik.

[su_pullquote]Dari tahun ke tahun, permintaan gabus terus meningkat disertai harga yang juga cenderung naik[/su_pullquote]

Gabus tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tapi juga bisa dimanfaatkan oleh pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah) sebagai bahan baku pempek, kerupuk, ikan asin, abon, hingga diekstrak untuk kepentingan farmasi. “Benihnya pun biasanya dipakai sebagai pakan ikan hias, seperti arwana,” beber sarjana pertanian dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, ini.

Jadi, banyak keuntungan jika kita membudidayakan gabus. Apalagi, proses pembudidayaannya cenderung mudah. Meski, waktu panennya cenderung lama yaitu 6–7 bulan dan hal ini menjadi salah satu kendala dalam membudidayakannya.

Penyebabnya, ikan yang di Banjar dan Melayu disebut haruan dan di Betawi disebut kocolan ini merupakan ikan predator. Hewan ini sering memangsa sesamanya yang masih kecil. Karena itu, menurut Alfiant, dalam proses pembesarannya sebaiknya ikan-ikan yang berukuran kecil tidak dicampur dengan yang besar.

Selain itu, pada gabus tidak bisa dilakukan pemijahan buatan. Pemijahan hanya bisa dilakukan secara alamiah dan itu pun tidak gampang. “Kami harus membuat kolam beton berukuran 3 meter x 5 meter, dengan suhu air yang disesuaikan dengan kondisi habitat aslinya,” jelasnya.

Mengingat, di alam aslinya, gabus hidup di perairan dengan lubuk-lubuk yang dalam dan gelap, maka buatlah lubang-lubang buatan di kolam tersebut atau masukkan gentong-gentong yang dimiringkan ke dalam kolam. Taruh pula eceng gondok di kolam, yang fungsinya sebagai perangsang pemijahan.

Selanjutnya, masukkan sekitar 30 pasang indukan. Kemudian, biarkan mereka memijah sendiri.

“Gabus betina ditandai dengan bentuk kepala yang membulat, perutnya lembek dan membesar, warna tubuh cenderung terang, serta jika diurut perutnya akan keluar telur. Sedangkan pejantannya, ditandai dengan bentuk kepala yang cenderung lonjong, warna tubuh gelap, lubang pada kelaminnya memerah, dan ketika diurut perutnya akan mengeluarkan cairan putih yang agak bening,” jelas pria, yang juga membudidayakan gurame dan lele konsumsi ini.

Setelah masa pemijahan, telur gabus diambil dengan sekupnet halus. Kemudian, ditaruh di dalam akuarium untuk ditetaskan. Untuk akuariumnya, berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm.

Dalam proses penetasan, aerasi harus selalu dalam kondisi hidup dan air dalam akuarium bersuhu 28°C. Selanjutnya, telur akan menetas dalam waktu 24 jam.

Larva yang baru menetas, masih memiliki cadangan makanan. Karena itu, selama dua hari, jangan diberi makan. Setelah itu, baru beri pakan berupa nauplii artemia tiga kali sehari.

Jika larva sudah berumur 3–15 hari, segera pisahkan. Menurut Alfiant, dalam 1 lt air, idealnya hanya dihuni 5–7 larva. Jika sudah siap, langkah berikutnya yaitu menyiapkan kolam untuk proses pembesaran.

Kolam yang paling bagus untuk pembesaran yakni kolam tanah dengan ukuran 200 m². Meski begitu, kolam dari terpal juga bisa digunakan, jika lahan yang ada minimalis. Sementara kepadatan benihnya, idealnya 50–100 larva per meter persegi. Sedangkan kedalaman air, idealnya 80 cm–100 cm.

“Untuk membuat kolam yang menyerupai habitat aslinya, bisa dengan menambahkan 5–7 karung kotoran puyuh, ayam, atau sapi yang sudah kering ke dalam kolam. Kemudian, beri kolam dengan air setinggi 40 cm dan biarkan air tercampur dengan kotoran selama lima hari,” katanya.

Pembesaran atau fattening ini, dilakukan untuk menghasilkan gabus ukuran konsumsi atau pasar. Untuk itu, larva yang dijadikan benih harus sehat dan sudah disortir ukurannya terlebih dulu.

Selama pembesaran, pemberian pakan selain pellet, juga bisa pakan buatan atau hewan-hewan kecil. Akan lebih bagus lagi, jika pakannya mengandung protein minimal 30%. Sementara pakan tambahannya, di antaranya ikan rucah, cacing, dan daging bekicot. Lebih daripada itu semua, mengingat gabus merupakan ikan yang rakus dan predator, berikan makan tepat waktu.

Untuk pemasaran, menurut Alfiant, hingga saat ini tidak ada kendala yang berarti. Bahkan, ia kerap kewalahan memasoknya ke pasar-pasar lokal atau konsumen langsung. “Harga gabus, jika dibandingkan dengan ikan air tawar untuk konsumsi lainnya, lebih bagus,” tutupnya.

Jika melihat pasar gabus yang begitu besar serapannya dan harganya yang selalu bagus, maka pembudidayaan gabus bisa dijadikan inspirasi bagi siapa pun. Jadi, jangan sampai melewatkan agrobisnis yang prospeknya menggiurkan ini!

 

Catatan
  • Selain dijual sebagai ikan konsumsi, benih gabus siap tebar di kolam pembesaran juga bisa dijual ke peternak gabus.
  • Gabus juga bisa dijual dalam bentuk lain dengan harga yang sangat tinggi. Produk olahannya yang dapat ditemui di pasar yakni daging gabus giling dan gabus yang sudah diasinkan.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …