Home / Kiat / Menggurita Karena Lokasi yang Tepat

Menggurita Karena Lokasi yang Tepat

Kafana

 

Dalam dunia bisnis ritel, selain menyediakan produk yang diminati konsumen, toko juga harus gampang dicari. Dan, itulah kiat yang dijalankan Faif melalui Kafana-nya. Imbasnya, dalam tempo enam tahun, Kafana telah memiliki 10 cabang

 

[su_pullquote]Lokasi sangat penting dalam bisnis ritel[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Begitulah, kurang lebih gambaran perjalanan bisnis yang dibangun oleh Faif Yusuf.

Dimulai dari keinginan Faif dan sang istri membangun bisnis, sekali pun ia masih berstatus karyawan pada sebuah perusahaan elektronik terkemuka. Lalu, pada tahun 2006, ia bergabung dengan sebuah komunitas bisnis.

Lantaran kebanyakan pengusaha yang bergabung di komunitas ini bergerak di bidang busana muslim, maka ia juga memutuskan membangun usaha serupa. Januari 2007, sebuah usaha rumahan pun terbentuk dengan modal awal Rp1 juta.

Tiga bulan kemudian, pasangan ini menyewa sebuah toko kecil di Ruko Taman Tridaya, Tambun, Bekasi, yang lantas dinamai Kafana. Setahun kemudian, mereka membuka Kafana lagi di Mega Mal Bekasi.

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, Kafana pun memiliki 10 toko yang tersebar di Ruko Taman Tridaya, Mega Mal Bekasi, Ruko Puri Cendana, Bekasi Square, dan Metland dengan luas toko rata-rata 30 m². “Waktu membuka Kafana untuk pertama kalinya, saya masih bekerja dengan jabatan asisten manager. Lalu, saya resign pada akhir 2009, saat Kafana sudah memiliki tiga toko,” kisah Faif.

Hal ini ia lakukan, karena ada suatu kondisi di mana ia harus memilih. “Apalagi, kala itu, saya juga sudah pada satu kondisi sulit membagi waktu. Daripada tidak optimal untuk keduanya, saya harus memilih salah satu. Di sisi lain, kalau kita fokus pada sesuatu, maka pertumbuhannya akan lebih bagus, lebih optimal,” lanjutnya.

Diakuinya, suasana lingkungan komunitas bisnis tersebut yang stay focus turut berperan pada caranya mengambil keputusan. “Pada dasarnya, dalam berbisnis, kita tidak dapat sendirian. Banyak orang yang berperan dalam kemajuan bisnis kita. Dan, komunitas itu membuat kita mempunyai banyak sahabat dan sahabat itu sangat dibutuhkan. Kondisi ini membuat kita lebih kuat,” jelasnya.

Di sisi lain, kalau pada akhirnya ia lebih memilih berbisnis, karena ia tipikal orang yang intuiting dengan salah satu cirinya yaitu relatif cepat bosan. “Ketika kita bekerja pada suatu perusahaan, maka sistemnya sudah jadi dan kita tinggal mengikutinya. Kita juga terbatasi dalam banyak hal, baik dari sisi waktu, penghasilan, dan sebagainya. Hal ini, membuat saya merasa tidak berkembang. Sedangkan bisnis, pada akhirnya menciptakan pola pikir yang lebih bebas, menjadi tidak terbatasi,” tambahnya.

Pada awal membuka toko, Faif tidak hanya menjual busana muslim, tapi juga baju batik, baju umum, dan sebagainya. Ternyata, yang “berjalan” justru busana muslimnya.

“Tapi, tidak berarti semua merek busana muslim terjual, hanya yang sudah terseleksi dari sekian merek yang pernah kami coba. Di toko kami terdapat banyak merek, karena toko ritel memang harus menyediakan varian yang banyak bagi konsumen. Misalnya, untuk sarimbit saja, kami mempunyai tiga merek. Lalu, untuk baju muslim anak juga tiga merek dengan range harga dan tingkatan konsumen yang berbeda. Semua merek itu merupakan hasil uji coba selama sekian tahun,” tutur sarjana ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini.

Seiring peningkatan kapasitas, beberapa produk branded, dalam arti, tidak dijual bebas, mempercayakan Kafana sebagai distributor mereka. Dengan menjadi distributor, maka Kafana langsung menjadi mitra produsen dan berhak untuk mengangkat agen. Dan, Kafana pun menjadi distributor atas beberapa merek yang sangat laku di pasaran dari sekitar 17 supplier di Surabaya, Bogor, Bandung, dan lain-lain, serta memiliki 300-an agen yang mayoritas tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Namun, tidak berarti tidak ada lagi hambatan. Salah satunya, sumber daya manusia (SDM) yang keluar masuk. Padahal, dalam setiap pembukaan toko selalu dibutuhkan SDM. “Alhamdulilllah, seiring berjalannya waktu, cukup stabil. Karena, sistem SDM kami sudah mulai bagus,” kata kelahiran Sragen, 20 September 1977 ini.

Hambatan berikutnya, produk yang dijual merupakan produk sejuta umat. Dalam arti, yang menjualnya sangat banyak di Bekasi, khususnya. Selain itu, dari sisi produk tidak dapat melakukan diferensiasi, demikian pula dengan harga yang sudah ditentukan oleh produsen. Sehingga, persaingan sangat ketat. Karena itu, mau tidak mau harus memilih titik-titik pemasaran dengan pesaing.

“Di Bekasi, saya mempunyai lima titik yang bagus di mana konsumen bisa dengan mudah mendapatkan aksesnya. Lokasi sangat penting dalam bisnis ritel. Produknya tidak harus unik, boleh saja pasaran, yang penting diminati. Tapi, lokasinya harus gampang dicari, mendekat pada konsumen. Jadi, dalam persaingan ini, saya memenangkan lokasi dan saya sangat menjaganya,” paparnya.

Di luar itu, ia melanjutkan, Kafana juga mempunyai produk yang menguasai Bekasi. Kafana menjadi distributor tunggal sekaligus eksklusif untuk wilayah Bekasi untuk merek Keke dan Refanes, serta menjadi salah satu dari dua “pemegang” sarimbit dengan merek Mirzani.

Prospeknya? “Secara umum, pertumbuhan bisnis busana muslim masih terjadi. Pemainnya semakin banyak. Meski terbagi-bagi, tapi kuenya juga membesar. Saya prediksi masih bertahan sampai 5–10 tahun lagi. Khusus untuk Kafana, saya optimis. Selama dikelola dengan baik, mengatur cash flow dengan baik, dan mengikuti permainan pasar, maka kami akan menjadi leader,” tegasnya.

Meski begitu, Faif tidak tertarik untuk mem-franchise-kan. “Ketika membangun usaha sendiri untuk pertama kalinya dari mempertahankan, menjadikannya outlet yang mandiri secara finansial, dan sukses itu tidak sederhana, dibutuhkan kerja keras, jiwa entrepreneurship, all out di mana hal itu tidak dapat dipaksakan kepada para franchisee. Saya lebih nyaman dengan kondisi ini. Yang penting cash flow-nya,” pungkas Faif, yang menargetkan membuka cabang di kota-kota besar di Jawa, khususnya, setelah sistemnya kuat.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …