Home / Agro Bisnis / Ikan Kecil yang Gede Nilai Jualnya

Ikan Kecil yang Gede Nilai Jualnya

Discus

 

Ikan Discus memiliki keindahan fisik dan keanggunan gaya berenang. Sehingga, dijuluki raja dan ratu ikan hias air tawar. Ikan yang rata-rata berukuran kecil ini, juga bisa dipelihara bersama-sama dengan ikan hias lain dalam akuarium. Karena itu, tidak mengherankan, bila permintaan pasarnya selalu stabil

 

[su_pullquote]Pasar Ikan Discus stabil dan eksklusif[/su_pullquote]

e-preneur.co. Berbicara tentang ikan hias berarti berbicara tentang keindahan warna, pola/corak, dan bentuk tubuh dari ikan tersebut di mana hal-hal itu nantinya berimbas pada tingginya harga jual. Seperti, yang telah diperlihatkan Ikan Discus (symphysodon discus).

Discus, begitu selanjutnya kita menyebut ikan ini, berasal dari Sungai Rio Negro (sebuah sumber lain menyebutkan berasal dari Sungai Amazon, red.). Karena itu, sesuai dengan habitatnya, ikan-ikan hias air tawar ini juga bersifat wild.

Pada mulanya, si raja dan ratu ikan hias air tawar ini hanya terdiri dari empat jenis yaitu brown base, blue base, green base, dan heckel. Tapi, dalam perjalanannya atau lebih tepatnya ketika dikembangbiakkan (dalam akuarium), terjadilah perkawinan silang antara mereka secara alamiah. Sehingga, jenis (baca: warna dan corak, red.) mereka pun berkembang hingga puluhan. Bukan cuma itu, sikap agresif mereka pun menghilang.

Namun, meski Discus cocok dikembangbiakkan di Indonesia yang notabene beriklim sama dengan habitat aslinya, ternyata tidak mudah membudidayakan ikan yang berpostur bulat pipih ini. Menurut Oky Zulfikar Rahman, pemilik Hamdan Aquatic Fish, satwa air ini gampang stres di mana stres itu ditimbulkan antara lain oleh penanganan yang kurang baik dan cuaca yang tidak mendukung.

“Ikan ini tidak cocok dengan udara dingin lantaran hujan. Dampaknya, mereka akan stres, tidak nafsu makan, stamina menurun, sakit, dan akhirnya mati. Stres juga mempengaruhi reproduksi mereka,” kata Oky.

Tapi, ia melanjutkan, hal itu bisa diatasi dengan selalu menjaga air di akuarium selalu bersih. Untuk itu, air harus diganti dua kali dalam sehari. Selain itu, suhu air juga harus dijaga agar selalu berada di 28°C−32°C. Sementara ph (tingkat keasaman) air untuk pemijahan harus 5−5,5 dan untuk pembesaran harus 6,5−7,5.

“Untuk wilayah yang tidak memiliki suhu seperti itu dapat menempatkan Discus dalam suhu ruangan atau menggunakan water heater. Dan, untuk wilayah yang tidak mempunyai ph air seperti ini, dapat menanggulanginya dengan rajin mengganti airnya,” imbuhnya.

Masalah lain yang harus dihadapi para breeder yaitu dalam mengawinkannya. Di alam liar, dalam mencari pasangan, Discus melakukannya sendiri. Demikian pula, setelah dikembangbiakkan.

Di akuarium, hal itu, terlihat dari awalnya mereka akan ke sana-sini secara bergerombol. Setelah merasa “klik”, dengan sendirinya akan ada pasangan-pasangan yang mojok.

Tapi, menunggu Discus jantan dan betina saling tertarik membutuhkan waktu yang terbilang lama. Untuk itu, para breeder mencoba mempersingkatnya dengan menjodohkan mereka di akurium tersendiri.

“Namun, masalahnya, ikan ini unik di mana untuk membedakan mana yang jantan dan mana yang betina agak sulit. Bahkan, karyawan saya yang sudah lama menanganinya, acapkali melakukan kesalahan dengan mencampur Discus betina dengan Discus betina. Imbasnya, mereka tetap bertelur, tapi telur itu hanya akan menjadi telur ikan,” ungkap Oky, yang membangun farming-nya di kawasan Depok.

Biasanya, ia menambahkan, Discus dijodohkan setelah mencapai usia dewasa (satu tahun). Bila kecocokan terjadi, maka kawinlah mereka. Lantas, sekitar 1−2 minggu kemudian, si betina akan bertelur sebanyak 100−300 butir di mana 90%-nya akan menetas. Selanjutnya, sang induk akan terus bertelur sebanyak 20 kali sepanjang masa hidupnya, yang berakhir pada tahun ketiga.

“Setelah telur-telur itu menetas, mereka akan menjadi burayak (bayi-bayi ikan) dan menempel pada induknya untuk memakan lendir di tubuh induknya. Miriplah dengan menyusu pada mamalia. Masa ‘menyusu’ ini berakhir, ketika burayak berumur 10 hari. Kemudian, mereka dipindahkan ke akuarium lain dan diberi makan artemia (artemia salina = sejenis plankton, red.). Dan, saat menapaki ukuran 1 inci (= 2,54 cm), makanan mereka diganti dengan cincangan blood worm,” ucap sarjana akuntansi dari Perbanas, Jakarta, ini.

Uniknya, Hamdan Aquatic Fish juga memberi yang diistilahkan Burger Discus kepada peliharaan mereka. Makanan ini terdiri dari Jantung Sapi, Ikan Tuna, bayam, wortel, tauge, dan berbagai vitamin yang digiling menjadi satu dan dibentuk menjadi lempengan, mirip dengan bentuk handphone atau kalkulator. Lalu Burger Discus ini diletakkan di dasar akuarium.

“Saya tidak merekomendasikan pellet. Pertama, dari segi bisnis tidak menguntungkan. Kedua, kandungan vitamin dan proteinnya kurang,” ungkapnya.

Setelah dirawat selama 3−4 bulan, ikan-ikan ini pun layak jual. Pada saat itu, besarnya kesulitan dan tingginya risiko dalam breeding ikan yang memiliki gaya berenang anggun menenangkan ini, dibayar tuntas dengan tingginya harga jual dan pasarnya yang selalu stabil. Bahkan, mampu memenuhi permintaan pasar lokal saja, sudah dianggap sangat bagus.

Meski, pada umumnya, para breeder Discus lebih menyasar pasar ekspor. Mengingat, dalam pasar lokal, terjadi persaingan harga yang berlanjut pada banting harga. Padahal, kualitas Discus yang mereka jual tidak bagus.

“Bukan maksud kami untuk lebih memilih pasar ekspor, tapi kondisi pasar lokallah yang tidak mendukung,” katanya. Sekadar informasi, pasar terbesar Discus berada di Eropa dan Timur Tengah.

Saat wawancara ini dilakukan, Discus berukuran 2 inci dihargai Rp20 ribu−Rp75 ribu per ekor, tergantung jenisnya. Harga ini bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah, ketika ikan ini memenuhi kriteria laiknya Miss Universe yaitu tubuh yang sangat panjang (8 inci), corak yang bagus dan sepenuh badan, bentuk tubuh yang bulat penuh, dan tidak cacat sama sekali. Untuk itu, ia akan diganjar dengan harga Rp30 juta!

Hamdan Aquatic Fish itu sendiri berdiri sekitar tahun 2005−2006. Pada awalnya, usaha ini “bermain” di Neon Tetra. Tapi, ketika ikan ini berubah menjadi “kacangan”, farming ini pun beralih ke Discus sekitar tahun 2008−2009 dan merasa cocok.

“Saat ini, kami memiliki sekitar 10 jenis Discus yaitu Red Melon, White Diamond, Golden, Pigeon, Blue Diamond, Neon Red Turqouis, Red White, Red Marlboro, White Butterfly, dan Albino Leopard yang masing-masing kami tampung dalam 20 akuarium berukuran 1 m,” tutur kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1987 ini.

Dalam pemasarannya, Hamdan Aquatic Fish melakukannya melalui internet baik berupa blog pribadi maupun social media, selain juga didatangi para eksportir yang nantinya akan “melempar” ikan-ikan ini ke berbagai negara di Eropa.

“Untuk pasar lokal, sekali pun semrawut tapi prospeknya juga bagus. Permintaan terus ada. Seperti halnya Hamdan Aquatic Fish, yang juga mempunyai pelanggan dari luar kota di mana secara teratur setiap bulan mereka memesan dari kami. Di sisi lain, Discus bukan ikan musiman atau berdasarkan tren. Pasar ikan ini hampir sama dengan Arwana alias stabil dan eksklusif,” pungkasnya.

 

Catatan

Untuk mereka yang ingin “bermain” di Ikan Discus, pertama, harus menyayangi ikan ini. Kedua, mencari pengetahuan tentang bagaimana caranya merawat. Ketiga, mencari bibit Ikan Discus yang bagus ke para breeder yang sudah dikenal dan untuk itu jalinlah hubungan baik dengan para breeder. Karena, tidak mudah membuat mereka mau “mengeluarkan peliharaan” mereka ini.

Selanjutnya, jika Anda memiliki lahan yang luas dan modal yang relatif besar, Anda dapat langsung menjadi breeder. Tapi, bila sebaliknya, Anda lebih baik ke bisnis pembesarannya saja. Apalagi, bergerak di pembesaran, pertama, bisa meminimalkan risiko kerugian. Kedua, Anda memiliki kesempatan untuk mempercantik Ikan-ikan Discus Anda. Sehingga, nilai jual mereka akan meningkat.

Untuk usaha pembesarannya yang memakan waktu dua bulan

  • Dapat dilakukan dalam bangunan seluas garasi.
  • Untuk itu, bisa diisi dengan 20−30 akuarium dan rak akuarium sebanyak 6−9 buah.
  • Sebenarnya juga dibutuhkan freezer untuk menyimpan pakan. Tapi freezer bisa diganti dengan kulkas.
  • Dibutuhkan juga water heater guna menaikkan suhu air jika udara terlalu dingin. Tapi pemakaiannya tidak selalu, sehingga dapat dihilangkan dari biaya produksi.
  • Biaya produksi yang lain seperti listrik dan air bisa digabungkan dengan kebutuhan rumah tangga.
  • Tidak dibutuhkan tenaga kerja.
  • Risiko kematian 10%.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …