Home / Kiat / Merajut Laba dari Toko Perlengkapan Merajut

Merajut Laba dari Toko Perlengkapan Merajut

Poyeng Knit Shop

 

Merajut merupakan hobi lama para Ibu Rumah Tangga. Tapi, tidak seorang pun menyangka bila seiring berjalannya waktu, hobi ini juga dapat digunakan untuk menambah pundi-pundi keuangan keluarga. Seperti yang ditunjukkan Ajeng, dengan Poyeng-nya

 

[su_pullquote]Bisnis rajut-merajut masih jarang dan belum banyak pesaingnya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Meski belum ada penelitian dan data resminya, merajut dinyatakan sebagai salah satu hobi yang memiliki prospek bisnis tinggi. Sebab, hobi yang memerlukan kreativitas dan ketekunan ini, setelah dibisniskan, ternyata mampu mendatangkan omset luar biasa.

Hal itu, setidaknya sudah dibuktikan oleh Ajeng Galih Sitoresmi, dengan Poyeng Knit Shop (baca: Poyeng, red.)nya. Poyeng yang berlokasi di salah satu persimpangan strategis di Yogyakarta ini adalah toko khusus, yang menyediakan peralatan merajut (knit dan crochet) dan kreasi rajutan 100% handmade, yang dibuat sesuai permintaan.

Selain itu, Poyeng juga menyediakan sebuah ruangan di mana semua orang bebas untuk datang dan duduk, serta belajar merajut. “Semua free, tanpa syarat apa pun. Bahkan, tidak harus membeli barang terlebih dulu di Poyeng,” kata Ajeng.

Di Poyeng yang juga menjadi ajang berkumpulnya perajut lover di Yogyakarta, yang sepenuhnya informal dan tanpa agenda khusus, pengunjung bisa memperoleh bahan-bahan untuk merajut dari yang harganya tergolong murah tapi berkualitas hingga yang harganya mahal. “Di sini, jika customer masih awam, maka kami akan membantu dan mendampingi. Selain itu, kami juga akan mengenalkan mereka dengan alat-alat rajut. Salah satunya, jarum rajut atau yang biasa disebut hakken,” tambah Ajeng, yang menyasar para Ibu Rumah Tangga, terutama yang selalu membutuhkan kegiatan positif untuk mengisi waktu luang mereka.

Merunut ke belakang, sebelum hadir sebagai sebuah toko, Poyeng terlebih dulu lahir di dunia online. Sebab, saat itu (tahun 2008), Ajeng masih kuliah dan baru belajar belajar merajut.

Kelahiran Sragen, Agustus 1986 ini mengusung tema knit. Lantaran, bisnis ini masih jarang dan belum banyak pesaingnya. Sementara strategi marketing yang disusun Ajeng yakni mem-booming-kan dunia rajut-merajut ke masyarakat.

“Selain online, saya juga bergerilya ke kos-kosan teman sambil membawa benang dan alat rajut, mengajari merajut di sana. Selain itu, saya sering meng upload hasil rajutan saya ke facebook, sekadar untuk dokumentasi. Ternyata, hal ini menarik minat banyak orang untuk mencoba merajut,” kisah perempuan, yang selalu merajut ke mana pun ia pergi.

Tahun 2010, Poyeng dibuka untuk umum. Saat itu, Poyeng masih ditangani sendiri oleh Ajeng dan asistennya. Dan, mereka pun mulai menghadap masalah, layaknya sebuah bisnis (baik online maupun offline). Seperti, karakter unik para pelanggannya, ketiadaan modal untuk mengembangkan usaha, hingga waktu seakan tidak pernah cukup untuk melakukan eksplorasi di semua sisi yang dimaui.

Untuk meminimalkan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, aturan sistem beli di Poyeng selalu di update dan dimodifikasi. Di samping itu, semua kru Poyeng harus ekstra sabar. Karena, usaha ini melibatkan interaksi dengan banyak orang.

Di sisi lain, sebagai salah satu pionir di bidang usaha rajut-merajut, Poyeng menghadapi risiko memiliki peniru. Hal ini, dinilai wajar oleh sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Gajah Mada ini.

Menurutnya, persaingan memang selalu ada, tapi yang penting ketika mulai membangun sebuah bisnis harus terus berpikiran positif dan kreatif. Di samping itu, harus selalu waspada dan mengikuti perkembangan yang ada.

“Setiap masalah yang muncul tidak akan menjadi akhir dari Poyeng. Usaha ini akan selalu berjalan beriringan dengan segala permasalahannya. Setidaknya, saya akan mencoba menyelesaikan satu-persatu masalah, agar kami bisa terus melangkah dan kembali bersiap menghadapi apa yang akan menjadi ganjalan di depan kami esok,” pungkas perempuan, yang berencana menerbitkan sebuah buku tentang rajut merajut, agar dunia merajut makin dikenal masyarakat.

Kiat Berbisnis ala Ajeng
  • Sejak awal, berpikirlah selama apa kamu ingin mengelola bisnis kamu.
  • Pikirkan barrier yang akan kamu hadapi sebelum dan selama bisnis berjalan, atau bahkan ketika ingin mengakhiri bisnis kamu.
  • Jangan lupa, pikirkan juga apakah kamu bisa mengatasi semua barrier
  • Pikirkan visi dan misi usaha kamu. Karena, bisnis tanpa pondasi pemikiran yang kuat tidak akan bertahan lama.
  • Pikirkan sumber modal awal yang kamu butuhkan dan cara mengembalikannya, jika modal tersebut berbentuk hutang.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …