Home / Inovasi / Sosis Untuk yang Peduli Kesehatan

Sosis Untuk yang Peduli Kesehatan

Bulaf Sosis

 

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat, berdampak pada meningkatnya permintaan akan produk-produk sehat seperti beras organik, sayuran organik, dan lain-lain. Tidak mengherankan, jika kehadiran Bulaf Sosis yang merupakan sosis sehat juga memperoleh tanggapan sangat positif dari masyarakat

 

[su_pullquote]Bulaf menyasar segmen masyarakat yang mengutamakan pangan sehat bagi keluarga mereka, bukan yang sensitif dengan harga[/su_pullquote]

e-preneur.co. Hampir setiap Ibu Rumah Tangga, selalu mempunyai masalah yang sama dalam menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka. Mereka harus menyajikan makanan yang bukan hanya praktis, melainkan juga sehat. Padahal, waktu yang tersedia minim.

“Makanan yang praktis itu, banyak macamnya dan dapat dijumpai di mana-mana. Namun, pada umumnya, tidak sehat. Dalam arti, biasanya menggunakan tambahan bahan pengawet, bahan pewarna, dan sebagainya. Di sisi lain, menyajikan makanan yang sehat, sebenarnya, juga gampang. Tapi, memerlukan waktu yang lebih lama. Karena, harus belanja bahan bakunya dulu, kemudian mengolahnya,” kata Amalia Nafitri.

Masalah yang juga dihadapi oleh Ibu empat anak ini, memunculkan ide dalam benaknya untuk membuat sosis, yang lalu berkembang menjadi sebuah usaha pada tahun 2009. “Sosis itu sangat mudah dan praktis untuk diolah dan disajikan dalam berbagai varian menu makanan. Untuk itu pula, kami meluncurkan video yang mengajarkan para Ibu Rumah Tangga bagaimana mengolah sosis menjadi aneka masakan,” ujar perempuan, yang menamai produknya Bulaf Sosis (baca: Bulaf, red.) ini.

Namun Bulaf bukan sekadar sosis, melainkan produk olahan daging kelas premium yang sehat. Bulaf yang produk unggulannya berupa sosis dengan berbagai varian dan produk tambahannya yang berupa bakso, nugget, burger, dan meatloaf ini, diolah dari bahan baku high quality baik impor maupun lokal, serta sudah Standar Nasional Indonesia.

“Ini berarti, bahan baku yang kami gunakan berstandar tinggi. Misalnya, kami menggunakan daging sapi impor dari Australia dengan kualitas paling tinggi. Selain itu, kami menggunakan sayuran segar, bukan yang sudah dibekukan atau sekadar esens,” jelas Lia, begitu ia akrab disapa.

Sementara yang dimaksud dengan sosis dengan berbagai varian, mencakup rasa dan bentuk seperti sosis isi keju, cabe, blackpepper, dan sayuran (wotel, jagung, dan brokoli), serta berbentuk spiral dan bulat seperti bakso. Secara total, Bulaf mempunyai puluhan produk di mana sebagian besar berupa sosis, baik daging sapi, ayam, maupun kambing.

“Pada dasarnya, keunggulan kami ada pada rasanya yang enak dan masuk ke segmen segala usia (anak-anak hingga manula). Karena, kami membuatnya dengan berbagai varian. Selain itu, teksturnya yang paling kenyal. Sebab, tidak menggunakan bahan tambahan tepung untuk campurannya, murni daging,” ungkap Owner dan Direktur Utama PT Sumber Pangan Jaya, perusahaan yang menaungi Bulaf Sosis.

Keunggulan lainnya, dalam proses produksi, Bulaf menggunakan mesin berteknologi tinggi buatan Eropa. “Sebenarnya, penggunaan mesin-mesin ini lebih cenderung untuk efisiensi. Dalam arti, dengan penggunaan jam kerja yang lebih pendek dan penggunaan listrik yang lebih sedikit, tapi bisa dihasilkan produk yang lebih banyak,” ungkap Lia, yang menanamkan modal Rp1 milyar untuk usaha yang berkantor pusat di kawasan Cilandak Tengah, Jakarta Selatan, ini.

Namun, dengan bahan baku yang serba premium dan mengusung tagline “sosis sehat” di mana hal ini diartikan bahwa di dalam Bulaf tidak ditambahkan bahan pengawet, bahan pewarna, dan MSG, tidak berarti pula Bulaf dipatok dengan harga premium. Untuk itu, Bulaf menyasar segmen masyarakat yang mengutamakan pangan sehat bagi keluarga mereka, bukan yang sensitif dengan harga.

Dengan segmen pasar yang eksklusif, Bulaf tidak dijual di semua tempat. Imbasnya, Bulaf tidak mudah dijumpai. Kondisi ini, membuat pemasarannya, boleh dibilang, tersalip oleh produk sosis lain yang lebih mudah dijumpai dan harganya lebih terjangkau.

Tapi, PT Sumber Pangan Jaya tidak kekurangan akal. Untuk meraih pasar yang lebih besar yaitu masyarakat menengah, perusahaan ini meluncurkan Gut. “Gut tetaplah sosis sehat. Cuma, ia menggunakan daging sapi yang kualitasnya tidak setinggi Bulaf,” ungkap kelahiran Balikpapan, 14 November ini.

Kini, Bulaf telah memiliki lebih dari 70 karyawan dan lebih dari 600 agen yang tersebar di berbagai kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Sementara dari pabriknya yang berlokasi di Cikarang, setiap bulannya dihasilkan lebih dari 30 ton yang 100% diserap pasar.

Tapi, tidak berarti sama sekali tidak ada masalah dalam perjalanannya. Tahun 2009, dikatakan Lia sebagai masa yang paling susah. “Saat itu, kami mulai membangun pasar dan image,” kisahnya.

Pada mulanya, Bulaf dipasarkan melalui berbagai bazar yang diselenggarakan oleh berbagai sekolah internasional, instansi, dan perkumpulan pengajian/arisan. “Kami membangun image dengan mengedukasi Ibu-ibu betapa pentingnya makanan sehat bagi keluarga dan mengajak mereka menyajikannya,” imbuhnya.

Image pun terbentuk yaitu sosis sehat hanyalah Bulaf. Seiring dengan itu, pasar pun terbuka dan Bulaf pun mulai banyak dicari konsumen (awalnya, Bulaf hanya dijual melalui agen, red.).

Berbarengan dengan itu, timbul masalah baru yaitu mesin yang masih manual, tidak mampu memenuhi kapasitas produksi dan pesanan dari para agen. Tapi, memasuki tahun 2010, muncullah titik cerah. Salah satunya, digantinya mesin-mesin manual dengan mesin-mesin berteknologi tinggi buatan Eropa.

Prospek Bulaf? “Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, Bulaf akan semakin masuk ke pasar. Jadi, prospeknya sangat bagus!” tegasnya, optimis.

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …