Home / Kiat / Menambah Pemasukan dengan Menerima Pesanan

Menambah Pemasukan dengan Menerima Pesanan

Jenang Ketan “Pak Ngasik”

 

Acapkali, pelaku usaha meremehkan kiat menerima pesanan, ketika penjualan rutin sedang sepi. Faktanya, kiat ini mampu menutup pemasukan, bahkan malah mendongkrak pemasukan. Setidaknya, itulah yang dialami Sukiyah dengan Jenang Ketan “Pak Ngasik”nya

 

[su_pullquote]Untuk penjualan rutin, sekali masak dihasilkan 45 kg jenang. Sementara saat sedang ada pesanan, jumlahnya bisa sampai dua kali lipatnya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Jenang, begitu orang Jawa menyebutnya, adalah makanan tradisional yang terbuat dari santan kelapa, tepung ketan, gula merah, gula pasir, dan garam. Pada mulanya, jenang hanya hadir dalam berbagai ritual selamatan. Dalam perkembangannya, jenang menjadi makanan ringan yang dapat ditemui kapan dan di mana saja.

Seperti, Jenang Ketan “Pak Ngasik” buatan Sukiyah. “Pada sekitar tahun 1984 atau 1985, saya hanya menjualkan jenang buatan Bulik saya. Saya menjualnya di tempat wisata, tepatnya di Goa Jatijajar, Kebumen, Jawa, Tengah, dan laris manis. Hingga, rumah saya yang semula cuma bilik, sekarang menjadi sebesar ini,” kisah Sukiyah, saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya yang berlokasi tak jauh dari Balai Desa Jatijajar.

Lalu, sang Bulik diangkat menjadi kepala desa dan meminta Sukiyah untuk membangun dan menjalankan sendiri usaha jenang tersebut. Untuk itu, Buliknya mengajarinya cara membuat jenang, serta memberi karyawan dan berbagai peralatan untuk membuat jenang. Selanjutnya, mulai sekitar tahun 1988 atau 1989 dan dengan modal awal sekitar Rp2 juta−Rp3 juta yang dipinjam dari bank, Sukiyah pun menjalankan usaha jenang ketan yang dinamainya “Pak Ngasik”.

Sayang, pada sekitar tahun 1990 hingga 2010, usahanya menurun. Ternyata, penyebabnya yakni banyak orang di sekitarnya yang meniru usahanya, lantas menjual produk mereka dengan harga semurah-murahnya. Kendati, pada akhirnya, apa yang dilakukan para peniru tersebut tidak bertahan lama. Karena, konsumen tidak puas dengan produk mereka.

“Mungkin ada yang salah atau berbeda dalam proses produksi, sehingga jenang mereka hanya bertahan 2−4 hari, sedangkan jenang saya bisa bertahan 6−7 hari. Selain itu, kalau sudah kadaluarsa, jenang saya akan mengeras, sementara jenang mereka justru semakin empuk dan kalau dipegang akan gembos,” ungkap Sukiyah, yang menjamin jenangnya tanpa pengawet atau pun bahan tambahan apa pun.

Masalah berikutnya, yang harus dihadapi Sukiyah yaitu mahalnya harga bahan baku. Imbasnya, ia harus menaikkan harga jual yang semula Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram. Hal ini, membuat sebagian konsumen “kabur”. “Saya hadapi saja kondisi ini. Bulik saya meminta agar saya tetap bertahan di usaha ini, siapa tahu ini sudah rezeki saya,” katanya.

Tapi, tidak berarti Sukiyah berpangku tangan, menunggu nasib baik menghampiri. Ia menerima pesanan untuk hajatan. Dan, ternyata, pemasukan dari pesanan hajatan ini justru lebih banyak ketimbang penjualan rutin. Apalagi, jika sedang “musim” hajatan, pesanan dipastikan selalu ada.

Untuk itu, jika biasanya untuk penjualan rutin ia hanya masak sekali setidaknya dua kali seminggu, maka jika sedang ada pesanan ia akan masak dua kali. Bukan cuma itu, jika sekali masak biasanya ia menghasilkan 45 kg jenang, maka saat sedang ada pesanan jumlahnya bisa sampai dua kali lipatnya.

Ya, sekali pun pesanan hajatan bisa menambah pemasukannya, tapi Sukiyah tidak pernah membiarkan penjualan rutin—baik di pasar yang dijalankan salah seorang anaknya, di warung yang tak jauh dari rumahnya, maupun di tempat wisata—kosong. Karena, selalu ada pembeli atau pengecer (reseller) yang datang membeli.

Di samping jenang yang original, Sukiyah juga membuat krasikan dan jenang dengan wijen. Bukan cuma itu, ia juga mencoba berkreasi dengan menyediakan jenang dalam berbagai rasa. Seperti, rasa susu, vanilla, jahe, dan kacang. “Tapi, saya hanya membuatnya kalau ada yang memesan,” ucap Sukiyah, yang sudah “melempar” jenangnya hingga ke Cilacap.

Di akhir obrolan, Sukiyah menegaskan bahwa bagaimana pun kondisinya, usaha ini tetap menguntungkan. “Cuma, saya ingin kondisinya seperti dulu lagi atau bahkan lebih baik lagi,” pungkas Sukiyah, yang dalam kondisi baik, jenangnya kadang laris manis tanpa sisa atau setidaknya kembali 4−5 kg. Sedangkan bila kondisi sedang sepi, jenangnya akan kembali 15 kg.

 

Check Also

Membidik Kalangan Menengah ke Bawah

Alarm Rumah Made in Gresik  Kondisi perekonomian yang semakin sulit berimbas pada meningkatnya angka kriminalitas, …