Home / Senggang / Jalan-Jalan / Hutan Cantik yang Telantar

Hutan Cantik yang Telantar

Hutan Mangrove Ayah

 

Hutan mangrove nan cantik itu lokasinya tidak jauh dari Pantai Ayah. Bukan hanya cantik, Hutan Mangrove Ayah juga dapat dijadikan tempat untuk belajar dan penelitian tentang pohon-pohon bakau yang ada dan hewan-hewan yang menghuninya. Sayang, saat ini, kondisinya seperti sedang diabaikan. Sehingga, telantar dan sepi pengunjung

 

[su_pullquote]Pengunjung yang datang ke Hutan Mangrove Ayah bukan hanya akan mendapati pemandangan yang menakjubkan dan bis ber-selfie ria, melainkan juga mengetahui manfaat keberadaan hutan mangrove, jenis-jenis bakau yang ditanam, bagaimana proses penanaman dan pembibitan, serta jenis-jenis hewan yang menghuninya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Pada tahun 2006, Pangandaran mengalami tsunami. Lebih dari 1 juta jiwa melayang, hilang, dan luka-luka. Bukan cuma itu, Kebumen yang berada sekitar 157 km dari Pangandaran pun terkena dampaknya. Bagian pesisir selatan kabupaten ini porak poranda, korban jiwa pun berjatuhan.

Konon, kala itu, amukan gelombang di Pantai Ayah, khususnya, yang merupakan salah satu pantai cantik di Kebumen, bisa lebih ganas lagi seandainya benteng alam itu tidak ada. Benteng alam itu berupa hutan mangrove (bakau), yang telah ditanam penduduk setempat bertahun-tahun lalu. Meski jumlahnya sudah tidak seberapa, karena sering ditebang untuk kayu bakar, tapi pohon-pohon bakau itu cukup mampu menghambat tsunami tersebut.

Penduduk menanam pohon-pohon bakau itu, atas permintaan pemerintah daerah setempat. Tapi, setelah pohon tumbuh besar, lalu ditebang untuk dijadikan kayu bakar, dan dengan penebangan tanpa aturan. Imbasnya, hutan mangrove itu pun rusak, sementara hewan-hewan yang pernah tinggal di tempat itu menghilang.

Merasa prihatin dengan kondisi ini, Kelompok Peduli Lingkungan Pantai Selatan (KPL Pansela) yang dibentuk tahun 2010, berusaha memperbaiki dan membuatnya lebih baik dengan menanam ratusan ribu pohon bakau dengan biaya dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat. “Tahun 2010, kami menanam 50 ribu pohon, tahun 2013 (100 ribu pohon), dan tahun 2015 (50 ribu pohon). Kini, dari 55 ha lahan yang ada, 33 ha sudah ditanami,” kata Kambang Trihadi, Ketua KPL Pansela.

Sementara pohon bakau yang ditanam, di antaranya Bakau Minyak, Bakau Merah, Bakau Api-api, Bakau Apel, Bakau Teruju, dan Bakau Nipah. Hal ini dilakukan, karena jenis-jenis bakau itulah yang cocok ditanam di sini, selain paling pas untuk mengatasi abrasi.

“Pada mulanya, kami mengambil bibit dari pohon bakau yang sudah lama ditanam itu. Lalu, kami juga memperolehnya dari Kebun Bibit Rakyat, yang kemudian kami budidayakan sendiri. Selanjutnya, sebagian bibit kami ambil untuk ditanam lagi dan sebagian bibit yang lain kami jual,” jelas Bael, sapaan akrabnya.

Akhirnya, Hutan Mangrove Ayah, begitu tempat ini dinamai, bukan cuma mampu mengatasi tsunami, melainkan juga abrasi. “Hewan-hewan juga berdatangan lagi untuk beranak pinak, terutama Ikan Kakap Putih yang pernah menghilang. Selain itu, juga sidat, Kepiting Bakau, Ikan terusan, Ikan Tongkol, serta Burung Blekok Putih, Burung Kuntul, Burung Bangau Hitam, dan Burung Hantu. Bahkan, juga ada biawak dan…Buaya Muara,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, dibangunlah jembatan dan gardu pandang, serta menjadikan Hutan Mangrove Ayah sebagai ekowisata, wisata edukasi, dan penelitian. Sebab, pengunjung yang datang ke lokasi ini bukan hanya akan mendapati pemandangan yang menakjubkan, melainkan juga mengetahui manfaat keberadaan hutan mangrove, jenis-jenis bakau yang ditanam, bagaimana proses penanaman dan pembibitan, serta jenis-jenis hewan yang menghuninya…plus selfie tentunya. Pengunjung pun dapat ikut serta menjaga dan melestarikan hutan mangrove ini, dengan ikut menanam bibit pohon bakau.

Pengunjung pun berdatangang, lebih banyak daripada yang dibayangkan. Untuk itu, setiap pengunjung dikenai biaya Rp15 ribu agar dapat menyusuri kawasan, dengan menaiki perahu bermotor.

Sayang, setelah ramai dikunjungi wisawatan, keberadaan Hutan Mangrove Ayah mulai dipersoalkan oleh masyarakat dan pemerintah desa setempat, menyangkut pengelolaannya. Imbas dari “konflik” itu, jumlah pengunjung berkurang drastis, kayu-kayu yang digunakan untuk membuat jembatan untuk pejalan kaki mulai rapuh dan akhirnya patah. Jembatan itu rusak parah, agak berbahaya bila diinjak. Sementara gardu pandang yang masih berdiri kokoh, menjadi “kesepian”.

Dishutbun pun mencoba menengahi “konflik” ini. Meski, mediasi berlangsung alot, tapi kesepakatan pun diperoleh. Sayang, sekali lagi, mereka hanya mengkaim kepemilikan kawasan ini agar dapat ikut mengelolanya. Tapi, untuk ikut memperbaiki kerusakan jembatan-jembatan itu, belum ada tindakan dari mereka.

Sementara KPL Pansela sebagai pengelola, hanya bisa mengembalikan “masalah” ini ke pemerintah daerah. “Kami hanya ingin terus bisa mengelola cagar alam ini. Sehingga, terus bisa dinikmati para wisatawan dan jangan sampai rusak,” pungkasnya. Tahun ini, jembatan-jembatan itu baru direncanakan akan dibangun kembali.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …