Home / Celah / Diminati Turis Mancanegara

Diminati Turis Mancanegara

Kerajinan Pandan Duri

(KUB Pandan Sari)

 

Pandan duri, selama ini, cuma dianggap sebagai tanaman liar yang tidak memiliki nilai jual. Padahal, setelah menjadi barang jadi, sangat diminati para turis. Sayang, pasar ini justru dikuasai oleh pengrajin pandan duri dari Yogyakarta dan Taksimalaya. Sementara Grenggeng, salah satu desa penghasil pandan duri sekaligus sentra penganyamnya, hanya menjadi pemasok bahan baku. Tapi, KUB Pandan Sari yang melihat potensi ini, segera melebarkan sayap dengan juga menjadi pembuat produk jadinya dan siap memenuhi berapa pun permintaan konsumen

 

[su_pullquote]Prospek bisnis kerajinan pandan duri cukup bagus dan kebanyakan peminatnya pasar mancanegara[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bila kita berbicara tentang pandan, maka yang terlintas di pikiran yakni daun yang biasa kita gunakan sebagai pewangi atau pewarna alami pada masakan/makanan. Tapi, berbeda dengan pandan duri yang biasanya digunakan sebagai bahan baku kerajinan. Ya, meski keduanya berasal dari “keluarga” yang sama, namun berbeda pemanfaatannya.

Dilihat dari kualitasnya, pandan yang memiliki duri di bagian tengah, pinggir kanan, dan pinggir kiri daun ini dibedakan menjadi Pandan Sari, Pandan Jaksi, dan Pandan Jaran. “Dibandingkan yang lain, Pandan Sari memiliki kualitas paling bagus. Jika sudah diolah menjadi ayaran (bahan siap anyam, red.) akan berubah warna dari hijau ke putih dan lebih ulet, tapi panjang setelah dianyam hanya 1 meter. Sementara Pandan Jaksi lebih panjang yatu 1,5 meter, tapi warnanya tidak seputih Pandan Sari. Sedangkan Pandan Jaran, cenderung lentur, panjangnya mencukupi, tapi warnanya keabu-abuan,” jelas Maryani, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pandan Sari.

Di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, pandan duri sudah ditanam sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam perjalanannya, tanaman ini tumbuh begitu saja baik di pekarangan rumah penduduk maupun hutan. Tidak ada perawatan semestinya.

Namun, menurut Maryani, ketika diketahui jika pandan duri memiliki nilai komoditas yang menjanjikan, maka pembudidayaan pun dilakukan. Kebetulan, pandan duri merupakan tanaman yang mudah tumbuh di mana saja dan bebas hama. Sehingga, tidak memerlukan perlakuan khusus. Bahkan, pemupukan pun cukup dilakukan dua kali yaitu setelah bibit ditanam dan menjelang pemanenan.

Untuk mendapatkan hasil yang bagus, idealnya dibutuhkan waktu tanam satu tahun. Memang terbilang lama, tapi setelah panen pertama, 10 hari sekali dapat dipanen sanpai berumur 10 tahun. Selain itu, anakannya dapat diperjualbelikan.

Saat usianya mulai menua, panjang daunnya akan berkurang. “Seandainya petani pandan duri mengetahui kelemahan dan keunggulannya, hal ini dapat diatasi dengan mengurangi anakannya,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia menambahkan, sebenarnya pandan duri juga dapat dipanen pada umur kurang dari setahun. Tapi, kualitasnya belum bagus. Sehingga, jika akan dijadikan bahan baku kerajinan, daunnya masih kurang lebar.

Meski dapat ditanam di mana pun, pandan duri tidak dapat ditanam di pot. Karena, asupannya akan kurang. Sementara penduduk desa ini, biasanya menanam dengan sistem tumpang sari.

Jika Anda berminat untuk menanamnya, Anda bisa membeli bibitnya dengan harga Rp5.000,-/batang. Sementara lahan yang dibutuhkan, minimal 700 meter dengan jarak tanam ideal 1 meter.

Seperti telah dikatakan di atas, pandan duri sudah ada di desa ini sejak zaman penjajahan Belanda. Demikian pula dengan pemasarannya, yang dari dahulu kala hanya berkutat di Yogyakarta dan Tasikmalaya. Sementara harga belinya, ditentukan oleh tengkulak.

Saat ini, ayaran dijual dengan harga Rp15.000,-/kg. Sedangkan yang sudah diwarnai (dengan pewarna alami), dihargai Rp25.000,-/kg. Biasanya, ayaran dibeli oleh para pengrajin pandan duri yang tidak menanam sendiri tumbuhan ini (termasuk para pengrajin dari Yogyakarta dan Tasikamalaya, red.), rata-rata sebanyak 5−10 kg.

Dulu, jika pesanan sedang banyak, Maryani mengisahkan, pembeli ayaran dari Yogyakarta dan Tasikmalaya sampai harus menginap di rumah penduduk. Tujuannya, tentu saja agar mereka tidak kehabisan ayaran.

“Ketika kami mengetahui jika ayaran dan complong (bahan setengah jadi, red.) yang kami buat, diolah menjadi produk jadi oleh para pengrajin di Yogyakarta dan Taksikmalaya, kami tertarik untuk juga membuat produk jadi. Seperti, tas, sandal, boks, aksesori, dan sebagainya. Hal ini kami lakukan, di samping untuk mendapatkan tambahan pemasukan, juga untuk membuka lapangan kerja bagi mereka yang sedang menganggur,” ujarnya.

Selain itu, KUB ini juga meminta bantuan pemerintah daerah setempat melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan (sekarang: Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, red.), serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Hasilnya, KUB Pandan Sari pun dibina dan diikutkan dalam berbagai pameran.

“Dalam berproduksi (yang baru dimulai pada tahun 1980an, red.), kami memang belum selihai para pengrajin di Yogyakarta dan Tasikmalaya. Selain itu, pasar sudah mereka raih terlebih dulu. Sehingga, kami pun sulit bersaing. Sama dengan tidak mudahnya kami memberi tahu pasar, bila pandan yang mereka gunakan berasal dari desa kami,” ungkapnya.

Masalah lain yaitu adanya penurunan permintaan setahun terakhir ini di mana hal ini kemungkinan disebabkan oleh menurunnya permintaan pasar luar negeri akan prduk jadinya. Sehingga, KUB ini masih belum bisa menolak permintaan complong dari Yogyakarta dan Tasikmalaya

“Karena, setiap hari, pengrajin pandan duri membuat complong. Lalu, besoknya dijual ke pengepul dan jadilah duit. Mereka tidak mau tahu bagaimana ‘nasib’ complong itu selanjutnya. Sementara kami sebagai pengepul, harus segera menjualnya lagi ke pihak lain. Sehingga, bisa membeli lagi ke pengrajin,” bebernya.

Sekadar informasi, complong-complong yang dibuat dengan ukuran 40 cm, 50 cm, dan 60 cm ini dijual dengan harga Rp8.000,- sampai Rp14.000,- per lembar untuk yang natural. Sedangkan yang motif, terutama yang berwarna hitam dan coklat dijual Rp15.000,-/lembar dan yang dikepang dihargai Rp20.000,-lembar.

Meski begitu, menurut Maryani, prospek bisnisnya cukup bagus. Karena, bisa membuka lapangan kerja. Meski, untuk itu modalnya tidak sedikit,” pungkas Maryani, yang menyatakan siap memenuhi permintan dalam jumlah yang sangat banyak. Saat ini, pasar produk jadi pandan duri ada di Yogyakarta, Tasikmalaya, Solo, dan Jakarta, serta Bali yang lalu melalui buyer dijual ke luar negeri, seperti Jepang, Filipina, Korea, serta sebagian Belanda dan Prancis.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …