Home / Agro Bisnis / Bangunnya Sang Calon Primadona

Bangunnya Sang Calon Primadona

Kopi Kebumen

(Bagian 1)

 

Ibarat dongeng anak-anak Sleeping Beauty (Putri Tidur), begitulah kondisi Kopi Kebumen. Setelah bertahun-tahun “ditidurkan” karena harga jualnya yang sangat rendah, sekitar setahun lalu “dibangunkan” oleh Komunitas Kebumen Mengopi yang didukung Oleh Perhutani. Dengan panen raya yang akan berlangsung sekitar Maret atau April mendatang, Kopi Kebumen pun mempersiapkan diri sebagai primadona

 

[su_pullquote]Bibit pohon Kopi Kebumen berasal dari varietas robusta, liberika, dan excelsa. Artinya, bisa ditanam di daerah dengan ketinggian 0−900 mdpl, serta tahan banting dan tahan terhadap segala macam hama[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Indonesia adalah salah satu negara terbesar dan terbanyak di dunia dalam hal menghasilkan kopi. Hal ini terjadi, karena hampir setiap wilayah di Bumi Nusantara ini dapat ditanami pohon kopi. Termasuk, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus tahun lampau, para petani di wilayah ini telah menanam pohon kopi baik di lahan pribadi maupun di lahan milik Perhutani (Perusahaan Hutan Negara Indonesia). Tapi, karena belum menjadi primadona dan kekurangpengetahuan mereka, para petani tersebut merelakan biji-biji kopi mereka dibeli para pengepul (tengkulak) dengan harga sangat murah yakni Rp11 ribu/kg dalam kondisi kering.

Padahal, para pengepul menjualnya kembali ke wilayah-wilayah lain dengan harga Rp22 ribu/kg. Imbasnya, para petani, boleh dikata, tidak memperoleh apa-apa. Akhirnya, mereka “ngambek” dengan menelantarkan pohon-pohon kopi tersebut. Lalu, beralih ke tanaman-tanaman lain, yang bisa langsung memberi mereka pendapatan yang menjanjikan yaitu singkong dan jagung.

Pohon-pohon kopi itu pun tumbuh besar dan tinggi, sekitar 3−4 meter. Padahal, seharusnya tinggi pohon kopi maksimal 2 meter untuk memudahkan proses pemanenan. Bukan cuma itu, biji-biji kopi dengan kualitas yang diragukan yang terus bermunculan pun diabaikan.

Dalam situasi seperti itu, Komunitas Kebumen Mengopi (baca: Kebumen Mengopi) muncul dengan gagasan melakukan penanaman pohon kopi baru, sekaligus memuliakan kembali pohon-pohon kopi yang sudah ada. Termasuk, yang ditanam terakhir kali (tahun 2010). Usulan ini, diterima Perhutani.

Mengapa pohon kopi? “Karena, Kebumen Mengopi mengetahui segala tetek bengek tentang kopi dari penanaman hingga pemanenan. Kebumen Mengopi juga siap melakukan pendampingan terhadap petani,” kata Rocky Irawan (Rocky), dari Kebumen Mengopi.

Di sisi lain, Febri Diansyah Chaniago (Febri) yang juga dari Kebumen Mengopi menambahkan, pohon kopi cukup ditanam sekali dan selanjutnya akan menjadi tanaman produktif hingga berumur 15 tahun, dengan dua kali panen per tahunnya. Di samping itu, secara ekonomi, tanaman kopi lebih mampu membantu meningkatkan pendapatan para petaninya ketimbang tanaman-tanaman lain.

“Potensinya ada. Kopi sedang naik daun. Beberapa pengunjung yang datang ke Roemah Kopi (artikel tentang kedai kopi ini dapat dijumpai di rubrik Senggang, red.) selalu menanyakan apakah ada kopi lokal (Kopi Kebumen, red.),” lanjut Tetuko Wahyu Sayekti (Tetuko), dari Kebumen Mengopi.

Lalu, apa itu Kopi Kebumen? Tentu saja, pohon kopi yang ditanam di Kebumen. Seperti, yang telah ditanam di Kecamatan Gombong, Sempor, dan Puring. Atau, yang berada di pesisir yang merupakan tanaman-tanaman kopi peninggalan para leluhur para petani setempat. Selain itu, juga ada pohon-pohon kopi yang ditanam para petani di lahan pribadi mereka, dengan jumlah sekitar 200 pohon/rumah.

Kopi Kebumen berasal dari varietas robusta, liberika, dan excelsa. Selama ini, dilihat dari tempat tumbuhnya, kita hanya mengenal kopi arabika atau varietas tanaman kopi yang ditanam di dataran tinggi (1.000−2.000 mdpl (meter di atas permukaan laut)) dan robusta atau varietas tanaman kopi yang ditanam di dataran rendah (0−900 mdpl). Pada masa penjajahan, Belanda membawa bibit tanaman kopi arabika jenis typica ke Indonesia. Ketika diserang hama hingga tanaman rusak, digantilah dengan bibit tanaman kopi liberika.

Liberika yakni varietas tanaman kopi yang dapat ditanam di ketinggian 400−600 mdpl, tapi masih tetap bisa tumbuh dan berbuah di ketinggian 1.200 mdpl. Bahkan, di ketinggian 0 mdpl atau di lahan gambut sekali pun. Selain itu, juga tahan banting dan tahan terhadap segala macam hama. Sementara taste yang dihasilkan, di bawah arabika dan di atas robusta.

Sedangkan excelsa yakni varietas tanaman kopi yang dapat ditanam pada ketinggian 0−750 mdpl. “Sebenarnya, liberika dan excelsa ini satu rumpun, tapi berbeda rasanya. Ibaratnya, liberika dan excelsa itu 11:12 tapi dari sisi rasa 11:15,” jelas Rocky.

Sementara Kebumen, sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah dengan ketinggian maksimal 800 mdpl. “Tapi, rata-rata pohon kopi yang ditanam Kebumen Mengopi berada di wilayah dengan ketinggian 200−300 mdpl dan berada di bawah pohon tegakan. Pohon tegakan ini dibutuhkan, mengingat pohon kopi tidak membutuhkan banyak cahaya matahari,” Tetuko, menambahkan.

Kebetulan, Kebumen Mengopi menggunakan lahan milik Perhutani yang notabene berupa hutan pinus. Sehingga, bisa sekaligus pemanfaatan lahan dan membantu program “menyingkirkan” tanaman singkong dan jagung, yang karena penanaman secara terus-menerus dan kimiawi, berdampak pada rusaknya lahan. Di sisi lain, ternyata hal ini membuat Kopi Kebumen cenderung beraroma mint (hal ini juga terjadi pada Kopi Bali yang cenderung beraroma citrus, karena tanaman pendampingnya berupa pohon citrus, red.).

Kebumen Mengopi mulai menanam pohon kopi baru sekitar setahun lalu, sebanyak 45.000 bibit pohon dengan umur yang berbeda-beda (2 bulan−1 tahun), sekadar memanfaatkan musim hujan. Di samping itu, Kebumen Mengopi juga menanamnya di lokasi yang berbeda-beda.

“Karena mendapatkan bibit secara gratis (melalui jaringan yang dimiliki Perhutani, red.), Kebumen Mengopi tidak dapat memilih baik umur, kualitas, maupun varietasnya. Jadi, boleh dikata, Kebumen Mengopi masih asal menanam, sambil belajar, serta mengangkat kembali semangat para petani agar mau menanam lagi dan memeliharanya secara maksimal,” ucap Febri.

Menurut Rocky, Kebumen Mengopi lebih mengutamakan varietas mana yang cocok dengan tempat ia akan ditanam atau sesuai dengan mdpl-nya. Karena itu, digunakan liberika sebagai produk unggulan. Di sisi lain, varietas ini dari pertama kali dibawa Pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia hingga sekarang belum diotak-atik secara genetik. Mengingat, penyusutanannya yang luar biasa.

Dalam penanamannya, mula-mula tentu saja dibutuhkan lahan. Selanjutnya, galilah lubang sedalam 60 cm dengan lubang galian selebar 40 cm. Lalu, isi dengan pupuk kandang dan diamkan selama 3−6 bulan agar tanah dapat mengikat oksigen.

“Perlu diketahui bahwa jika akan menanam pohon kopi, maka kita sudah harus mempersiapkan lahan 1−2 tahun sebelumnya. Sebab, kita harus menanam pohon penaung terlebih dulu. Tapi, Kebumen Mengopi dipercepat/dipermudah, mengingat di lahan Perhutani sudah ada pohon penaung,” ujar Febri.

Sementara jarak tanam 2,5−3 meter agar jika nanti pohon semakin besar, maka antara cabang/dahan tidak bersinggungan, selain untuk memudahkan proses pemanenan. Tapi, kalau pohon tegakannya sudah ada, ikuti saja jarak tanam antara satu pohon tegakan dengan pohon tegakan yang lain. “Di lahan Perhutani, jarak tanam antara pohon pinus yang satu dengan yang lain 4 meter. Sehingga, pohon kopi ditanam di tengah-tengah dua pohon pinus,” lanjut Tetuko.

Untuk perawatannya, Kebumen Mengopi sekali lagi diuntungkan dengan lokasi Perhutani yang notabene hutan lindung. Sehingga, alam ikut membantu merawat tanaman-tanaman kopi itu, kecuali untuk pembersihan gulma, rumput liar, dan sebagainya.

Pohon kopi sudah dapat dipanen untuk pertama kalinya pada umur 2,5−3 tahun, tapi hasilnya belum maksimal (3−4 kg/pohon dalam kondisi basah). Baru pada pemanenan ketiga atau saat pohon berumur 5 tahun ke atas, hasilnya mulai maksimal (sekitar 800 kg/ha).

“Pemanenan berlangsung setahun sekali. Kecuali untuk yang liberika dan excelsa yang berbunga sepanjang tahun, meski penyusutannya sangat besar. Sebagai perbandingan, varietas robusta sebanyak 5 kg basah setelah diolah tinggal 1 kg kering, sedangkan varietas liberika sebanyak 10 kg basah setelah diolah akan menjadi 1 kg kering,” ucapnya.

Pohon kopi akan terus berbuah hingga berumur 20 tahun atau 25 tahun. Tapi, penurunan jumlah buah mulai terjadi pada umur 15−20 tahun. Sehingga, harus siap-siap diganti yang baru. Sementara 7 tahun, 9 tahun, dan 12 tahun merupakan umur-umur pohon terbaik dalam menghasilkan buah.

Setelah nantinya biji kopi dipanen, petani boleh menjualnya ke siapa saja dan di mana saja. Tapi, Kebumen Mengopi menetapkan harga Rp30 ribu/kg, asalkan kualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan demikian, jika nantinya ada pihak-pihak lain yang akan membeli, mereka sudah mengetahui standar-standar yang harus mereka lakukan. Sehingga, kualitas terjaga dan harga pun stabil. (bersambung)

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …