Home / Kiat / Bertahan dari Pasar yang Sudah Penuh Sesak dengan Kejujuran

Bertahan dari Pasar yang Sudah Penuh Sesak dengan Kejujuran

Perabotan dari Kayu Peti Kemas
(UD Holilah Jaya)

Tidak ingin mengecewakan pelanggan, sering menjadi kiat untuk bertahan dari pasar yang sudah penuh sesak. Seperti, pasar perabotan rumah tangga yang terbuat dari kayu peti kemas. Dan, itulah yang dilakukan Sabrawi dengan UD Holilah Jaya-nya hingga bisa bertahan puluhan tahun

[su_pullquote]Semua barang yang saya buat tidak dicampur. Semuanya, murni kayu peti kemas[/su_pullquote]

e-preneur.co. Pada pertengahan tahun1997, krisis moneter sedang “bertamu” ke beberapa negara. Termasuk, Indonesia. Imbasnya, banyak pelaku usaha merasa ketar-ketir usaha mereka akan gulung tikar.
Namun, Sabrawi justru baru mulai membangun usahanya, dengan modal pinjaman dari seorang kerabat sebesar Rp15 juta. Usaha itu bergerak dalam bidang pembuatan perabotan rumah tangga, yang terbuat dari kayu peti kemas. Sekadar informasi, peti kemas biasanya dibuat dari Kayu Jati Belanda dan Jati Jerman.
Saat itu, dengan dibantu dua pegawainya, Sabrawi hanya membuat meja kantor, meja sekolah, kursi sekolah, lemari, dan buffet. Setahun berjalan, usaha tersebut terbilang berhasil yang ditandai dengan orderan yang lumayan banyak.
Ya. Meski di tempat usahanya yang berada di Jalan Outer Ring Road, Pondok Randu, Cengkareng, Jakarta Barat, banyak usaha serupa, tapi produk yang dibuat Sabrawi lebih disukai konsumen. Dan, ternyata, rahasianya sederhana saja yaitu produk buatan Sabrawi ini lebih awet.

Untuk itu, kelahiran tahun 1975 ini mempunyai trik khusus agar barang-barang yang dibuatnya tahan lama. “Saya menggunakan melamin yang mahal. Hal itu, ternyata sangat berpengaruh pada kualitas,” jelasnya.
Selain itu, Bapak beranak tiga ini juga tidak ingin mengecewakan pelanggan dengan berlaku curang. Contoh, ketika tempat usaha lain memakai triplek sebagai bahan tambahannya, ia tidak melakukan itu.
Menurutnya, dengan tambahan triplek, pembeli akan merasa tertipu. “Karena itu, semua barang yang saya buat tidak dicampur. Semuanya, murni kayu peti kemas,” tegas Sabrawi, yang memberi nama usahanya, UD Holilah Jaya.
Imbasnya, omset di tahun pertama, bisa dibilang, cukup besar. Dalam sebulan, pria asal Sampang, Madura, ini dapat meraup pemasukan Rp5 juta–Rp15 juta.
Sementara untuk para pegawainya, di awal usaha, ia menerapkan sistem gaji per bulan sebesar Rp300 ribu/orang. Tapi, sejak tahun 2002, ia mengubahnya menjadi sistem komisi.
Hal itu dilakukan Sabrawi, lantaran orderan semakin banyak. Jadi, jika sistem gaji yang diterapkan, maka akan memperlambat pekerjaan. Contoh, jika ada pesanan gerobak seharga Rp1 juta, maka pegawai yang mengerjakannya memperoleh komisi Rp200 ribu.
“Tapi, sekarang, saya menggantinya lagi menjadi sistem persenan. Karena, orderan semakin banyak lagi dan tidak terkejar,” jelasnya.
Pada awal tahun 2004, Sabrawi mengembangkan sayap dengan membuat kitchen set, meja makan, dan tempat tidur. Tak disangka, banyak yang memesan kitchen set dan tempat tidur tersebut. Salah satunya, seorang pengusaha furnitur di Jakarta yang rutin memesan meja makan besar untuk diekspor ke luar negeri.
Yang bersangkutan, sekali pesan mencapai 10−40 unit meja. “Sejak tahun 2006, meja buatan saya sudah diekspor ke Australia,” kata pria, yang tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali ini.

Sementara untuk kursi dan meja sekolah, ada masa tertentu di mana ia kebanjiran pesanan. Masa yang dimaksud yakni tahun ajaran baru.
Pada saat itu, ia merasa kewalahan. Hingga, tidak jarang ia melimpahkan pesanan tersebut ke teman atau kerabatnya. “Biasanya, pada Mei, Juni, dan Juli, satu sekolah memesan 200–400 set meja dan bangku,” ujar Sabrawi, yang juga menerima pesanan membuat gerobak dari ukuran kecil sampai besar.
Sedangkan untuk pemesanan lemari, kadang pelanggannya meminta bentuk lemari yang unik dan sulit. Baginya, itu tantangan tersendiri. Sebab, semakin susah pembuatan lemari, semakin mahal pula harganya.
Kini, UD Holilah Jaya telah berumur 21 tahun. Omset yang diperoleh Sabrawi sudah mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Hingga, ia bisa membeli sawah dan membangun rumah di kampung halamannya.
Itu semua lantaran Sabrawi mempertahankan usahanya dengan kiat “jangan pernah mengecewakan pembeli”. “Jujurlah dalam menjalankan usaha, jangan berlaku curang, dan selalu bekerja keras,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …